Berilah Kepada Tuhan Apa yang Menjadi Hak Tuhan!

[Hari Minggu Biasa XXIX, Hari Minggu Evangelisasi: Yes 45:1,4-6; Mzm 96:1-10; 1Tes 1:1-5; Mat 22:15-21]

Bacaan pertama Minggu ini menyatakan kepada kita bahwa Tuhan dapat memilih siapapun untuk menjadi alat-Nya untuk melaksanakan rencana keselamatan-Nya, seturut kehendaknya (lih. Yes 45:1,4-6). Untuk membawa kembali bangsa pilihan-Nya dari tempat pembuangan, Tuhan menggunakan kuasa raja Koresh, seorang pagan. Allah dapat menggunakan otoritas pemerintahan untuk mendatangkan kebaikan.

Di Injil hari ini, Kristus menegaskan bahwa kita wajib untuk tunduk pada otoritas pemerintahan sipil. Dikisahkan bahwa kaum Farisi dan Herodian bermaksud menjebak Yesus dengan bertanya, apakah diperbolehkan membayar pajak atau tidak. Pertanyaan ini tidaklah fair, sebab sesungguhnya baik kaum Farisi maupun Herodian saat itu membayar pajak kepada Kaisar. Namun kaum Farisi bermaksud menjebak Yesus, karena menurut mereka, jika Yesus mengatakan membayar, maka artinya Ia akan kehilangan muka, karena sebagai Mesias mestinya Ia tidak terikat oleh kuk bangsa asing.  Juga dengan demikian, Ia dianggap turut mengokohkan kekuasaan penjajahan Romawi atas bangsa pilihan Allah; dan Yesus dianggap tidak berpihak kepada bangsa-Nya sendiri. Sebaliknya kalau Yesus menjawab ‘tidak usah membayar pajak’, maka kaum Herodian yang bersekutu dengan pimpinan Romawi, mempunyai alasan untuk menyalahkan Yesus, karena  Ia menentang bangsa Romawi. Namun di luar perkiraan kedua kelompok itu, Yesus menjawab, bukan ‘ya’ atau ‘tidak’. Jawab Yesus adalah, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah, apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:21) Dengan perkataan ini, Yesus mengajarkan agar mereka memberikan kepada pemerintah sipil, apa yang menjadi hak mereka, yaitu pajak dan ketaatan kepada hukum yang adil. Ketaatan kepada pemerintah sipil tidak untuk dipertentangkan dengan ketaatan kepada Tuhan. Namun demikian, penghormatan kepada pemerintah sipil tidaklah setara dengan penghormatan kepada Tuhan yang memiliki kuasa absolut atas hidup manusia. Sebagai warganegara, umat Kristiani wajib untuk memberikan kepada negara, dukungan materi maupun pelayanan yang disyaratkan untuk kepentingan bersama. Namun Tuhan Yesus mengingatkan bahwa tugas kita tidak terbatas hanya pada hal-hal itu saja, tetapi kita wajib memberikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan.

Di hari Minggu Evangelisasi ini, kita diingatkan bahwa sebagai murid Kristus kita harus juga melakukan misi Gereja di dunia, yaitu dengan mewartakan Injil kepada setiap orang. Dengan kata lain, kita dipanggil untuk melakukan karya evangelisasi bersama dengan Gereja, dan dengan demikian memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak-Nya. Paus Paulus VI mengajarkan bahwa evangelisasi berarti menyampaikan Kabar Baik tentang Yesus kepada setiap orang dalam segala situasi dan berusaha membawa mereka -baik secara perorangan maupun kelompok- kepada pembaruan, oleh kuasa ilahi dari pesan Injil itu sendiri (lih. Evangelii Nuntiandi, 18). Ajaran Paus ini sesuai dengan Bacaan kedua hari ini, yang mengatakan bahwa Injil yang kita wartakan itu bukan disampaikan dengan kata-kata semata, tetapi dengan kekuatan Roh Kudus dan kepastian yang kokoh (1Tes 1:5). Gereja mengajarkan bahwa pertama-tama evangelisasi ini ditujukan kepada sesama umat yang telah dibaptis, namun yang karena satu dan lain hal, telah meninggalkan ataupun menjauh dari Gereja. Setiap kita dipanggil untuk merangkul dan mengajak mereka untuk kembali ke dalam pangkuan Gereja, dan kembali mengalami perjumpaan dengan Kristus dalam Gereja. Juga, kita dipanggil untuk mewartakan Injil di dalam keluarga kita, karena setiap keluarga adalah unit Gereja yang terkecil yang secara bersama-sama dengan keluarga yang lain membentuk keseluruhan Gereja. Jika Injil sungguh menjiwai kehidupan setiap keluarga, maka secara keseluruhan Injil menjiwai Gereja. Gereja mengajak kita kaum awam, untuk turut serta membangun Gereja dan menjadi terang dunia, justru melalui kehidupan sehari-hari; yaitu dengan menyatukan tindakan nyata dan iman. Dengan kasih persaudaraan kita hidup dan bekerja, dan bersama merasakan penderitaan sesama, dan dengan demikian mempersiapkan semua hati untuk menerima karya rahmat Allah yang menyelamatkan (lih. Apostolicam Actuositatem, 13).

Evangelisasi menjadi penting, karena dunia saat ini dilanda kekosongan rohani. Paus Yohanes Paulus I mengatakan bahwa kekosongan ini disebabkan oleh propaganda agar orang mengejar materi: mencari uang, investasi, mengelilingi diri dengan kenyamanan, hidup enak… “Sebaliknya”, kata Paus, “Allah -yang seharusnya mengisi hidup kita- telah menjadi bintang yang jauh, yang dilihat hanya pada waktu-waktu tertentu. Orang merasa religius karena mereka pergi ke gereja, tetapi di luar gereja mereka hidup seperti orang kebanyakan,… berlaku tidak adil, berdosa melawan kasih, dan karenanya mereka sepenuhnya hidup tidak sesuai [dengan kasih].” (Illustrissimi, p. 179) Marilah berdoa, “Tuhan, jadilah bagiku Bintang yang menetap di hatiku. Semoga Terang Injil yang kuperoleh dari-Mu dapat senantiasa menerangi jalan hidupku dan dapat kuteruskan kepada sesamaku. Semoga dengan demikian aku dapat mempersembahkan kembali kepada-Mu, apa yang menjadi hak-Mu.

19/12/2018
ysumarno
Member
ysumarno

Bu Ingrid,
terima kasih atas jawaban di atas.
selanjutnya saya bertanya tentang Matius 16: 28.
Siapakah orang yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam kerajaan_NYa?
Apakah yang Ia maksud sebagai “datang sebagai Raja dalam kerajan_Nya”?
Jika yang Ia maksud adalah saat penghakiman terakhir, bukankah semua orang yang hadir di depan Yesus saat itu sudah mati, padahal saat penghakiman terakhir itu belum tiba?
mohon pencerahan. terima kasih

Ingrid Listiati
Member

Shalom Ysumarno,
Menurut St. Gregorius, yang dimaksud ‘orang yang tidak mati’ sebelum kedatangan Tuhan Yesus yang kedua adalah para murid Kristus, yaitu para anggota Gereja-Nya, yang masih hidup ketika Yesus datang kembali di akhir zaman. Lagipula, menurut Origen, semua orang percaya yang setia beriman dan mewujudkannya dalam perbuatan baik, pada akhir zaman akan memandang Allah dalam kemuliaan-Nya, dan mereka tidak akan binasa, seperti orang-orang yang berbuat kejahatan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

ysumarno
Member
ysumarno

Bu Ingrid, banyak terima kasih atas jawaban ini dan atas materi renungan yang sangat bagus ini.

ysumarno
Member
ysumarno

Pak Stef dan Bu Ingrid, beberapa minggu sebelumnya (dalam tahun ini) bacaan Injil ini sudah dibacakan. Mengapa dalam 1 tahun bacaan ini bisa dijadwalkan 2 kali? apakah ada bacaan lain yang juga dibaca lebih dari sekali dalam 1 tahun liturgi?

terima kasih

Ingrid Listiati
Member

Shalom Ysumarno,

Kemungkinan yang Anda maksud adalah Bacaan Injil ini sama dengan bacaan Injil yang dibacakan pada peringatan hari Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus yang lalu? Ya, sebenarnya bacaan Injil Minggu ini (Mat 22:15-21) adalah bacaan yang khas bagi perayaan kemerdekaan suatu negara. Dengan demikian dapat terjadi bacaan ini dibacakan dua kali, yaitu saat hari perayaan kemerdekaan, dan juga pada Minggu ini, saat Gereja juga merayakan Minggu Evangelisasi. Sebab tugas pewartaan Injil yang menjadi tugas kita semua sebagai umat beriman, merupakan salah satu hal yang harus kita berikan kepada Tuhan sebagai hak Tuhan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X