Bagaimana untuk dapat lepas dari dosa homoseksual?

Pertanyaan:

Shalom Pak Stefanus,

Pertama saya ingin bercerita sedikit tentang masalah saya. Saya adalah seorang pria yang punya orientasi seksual berbeda dari orang kebanyakan. Melihat artikel yang ditulis di katolisitas bahwa setiap orang apapun orientasi seksualnya harus menjaga tubuhnya kudus, maka saya bertekad untuk melakukannya. Namun, ternyata pada prakteknya tidak semudah yang dibayangkan.

Sebelumnya, saya pernah mengakukan dosa saya dan bertobat ketika mengikuti retret di Cikanyere. Sungguh, retret tersebut mengubah hidup saya dan ketika saya mengakukan dosa saya lakukan dengan niatan yg murni dan sungguh-sungguh. Lalu ketika itu juga ada kesempatan untuk konseling dengan suster/frater di sana, karena satu dan lain hal saya memutuskan untuk tidak melakukannya. Sepulangnya dari sana saya merasakan damai sejahtera dan saya tidak lagi melakukan dosa berat seperti yg sebelumnya malahan menjadi giat membaca kitab suci dan berdoa.

Namun, belakangan ini karena segala kepenatan aktifitas dan lain hal frekuensi doa saya menjadi semakin berkurang, menjadi fluktuatif. Ketika sedang semangat maka saya sangat semangat untuk berdoa, ketika sedang lelah atau apa, saya menjadi tidak berdoa lagi.

Masalahnya adalah saya sangat menyesal sedalam-dalamnya karena saya terjatuh kembali dalam dosa berat. Bagaimana ini Pak Stef? Apakah ada yang salah dengan diri saya? Menurut Pak Stef bagaimana solusinya? Entah mengapa saya merasa sangat rapuh untuk berjuang dalam hal ini berapapun seringnya saya mengakukan dosa dalam sakramen tobat. Terakhir kali saya mengakukan dosa pada masa Adven.

Jika berkenan saya ingin meminta dukungan doa untuk dapat melawan godaan-godaan dosa ketidakkudusan ini. Saya sangat bingung apa yang harus saya lakukan, apalagi kita sedang dalam masa prapaskah, saya merasa tidak layak bahkan untuk datang ke gereja sekalipun. Apakah saya butuh konseling dengan romo/suster/frater?Tolong saya pak Stef.

Hendrik [nama diganti]

Jawaban:

Shalom Hendrik [nama diganti],

Terima kasih atas keterbukaan anda. Yakinlah bahwa kalau anda merasa bahwa ada sesuatu yang salah dalam perbuatan anda, maka ini adalah rahmat Allah dan juga merupakan gerakan Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang memberikan inspirasi kepada manusia agar manusia dapat terus berjalan sesuai dengan ketetapan Allah, yang berarti senantiasa membawa manusia kepada pertobatan. Dari komentar anda, anda telah tahu bahwa kecenderungan untuk melakukan hubungan sesama jenis adalah berdosa dan bertentangan kemurnian. Seseorang yang mempunyai kecenderungan homoseksual belum sampai pada tahap dosa, sama seperti seseorang mempunyai kecenderungan untuk marah. Kalau kemarahan dituruti dan merugikan orang lain dan tatanan yang baik, maka perbuatan marah tersebut menjadi berdosa. Sama seperti kecenderungan homoseksual yang kemudian berkembang menjadi perbuatan, maka itu menjadi suatu perbuatan dosa.

I. Tentang homoseksualitas

Dalam tanya jawab ini – silakan klik – dibahas tentang homoseksual, yang menuliskan:

Katekismus Gereja Katolik mendefinisikan homoseksualitas sebagai berikut:

KGK 2357 Homoseksualitas adalah hubungan antara para pria atau wanita, yang merasa diri tertarik dalam hubungan seksual, semata-mata atau terutama, kepada orang sejenis kelamin. Homoseksualitas muncul dalam berbagai waktu dan kebudayaan dalam bentuk yang sangat bervariasi. Asal-usul psikisnya masih belum jelas sama sekali. Berdasarkan Kitab Suci yang melukiskannya sebagai penyelewengan besarBdk.Kej 19:1-29; Rm 1:24-27; 1 Kor 6:10; 1 Tim 1:10., tradisi Gereja selalu menjelaskan, bahwa “perbuatan homoseksual itu tidak baik” (CDF, Perny. “Persona humana” 8). Perbuatan itu melawan hukum kodrat, karena kelanjutan kehidupan tidak mungkin terjadi waktu persetubuhan. Perbuatan itu tidak berasal dari satu kebutuhan benar untuk saling melengkapi secara afektif dan seksual. Bagaimanapun perbuatan itu tidak dapat dibenarkan.

Namun demikian, Gereja juga menyadari bahwa tidak sedikit pria dan wanita yang sedemikian mempunyai kecenderungan homoseksual yang tidak mereka pilih sendiri. Mereka ini harus dilayani dengan hormat, dengan kasih dan bijaksana. Mereka harus diarahkan agar dapat memenuhi kehendak Allah dalam kehidupannya, dengan hidup murni, melalui kebajikan dan pengendalian diri dan mendekatkan diri pada Tuhan melalui doa dan sakramen, menuju kesempurnaan Kristen (KGK 2358-2359).

Jadi penting dipahami bahwa terdapat dua macam hal yang berbeda yaitu, 1) kecenderungan homoseksual dan 2) menjadi pelaku homoseksual. Kecenderungan ketertarikan terhadap sesama jenis itu belum membuahkan dosa sebelum dinyatakan dalam aktivitas seksual homoseksual. Gereja Katolik menganggap kecenderungan ini sebagai “objective disorder“/ ketidakteraturan yang obyektif, karena menjurus kepada hubungan seksual yang tidak wajar.

Perlu diketahui bahwa, kecenderungan homoseksual di sini menyerupai kecenderungan yang dimiliki untuk kebiasaan buruk lainnya, misal ada orang yang memiliki kecenderungan pemarah, pemabuk, pemalas, dst. Dalam hal ini, kita ketahui:

1. Kecenderungan ini baru akan berbuah menjadi dosa, jika terus dituruti keinginannya, dalam hal ini, adalah jika mereka yang gay/homoseksual terus bergaul dalam lingkungan ‘gay’ dan mempraktekkan kehidupan seksual gaya ‘gay’ ini. Namun, jika tidak, maka kecenderungan tersebut tidak berbuah dosa.

2. Jadi kecenderungan ini benar-benar ada/ nyata, walaupun bukan berarti kita dapat membiarkannya. Contoh, tentu saja kita tidak dapat mengatakan karena seseorang memiliki kecenderungan pemarah, maka ia boleh saja hidup sebagai seorang pemarah. Kita justru harus mengalahkan kecenderungan itu dengan kuasa yang kita terima dari kemenangan salib Kristus, sebab oleh Dia segala belenggu dosa dipatahkan.

Ryan Sorba, dalam talk-nya Framingham State University, tgl 31 Maret 2008, yang memperkenalkan bukunya The Gay Gene Hoax, menjelaskan, bahwa kecenderungan gay bukan merupakan sesuatu yang genetik (seperti yang dipropagandakan beberapa pakar sekarang ini). Karena berdasarkan penelitian yang diadakan di Scandinavia pada bayi-bayi kembar, dapat diketahui bahwa salah satu dari bayi tersebut dapat menjadi gay, namun yang lainnya normal. Seandainya homoseksual itu genetikal tentu kedua bayi itu menjadi gay. Menurut Sorba, perilaku homoseksual banyak dipengaruhi oleh lingkungan, terutama penganiayaan seksual di masa kecil, seperti yang dialami dan diakui sendiri oleh banyak aktivis homoseksual. Hal lain yang cukup berpengaruh adalah kurangnya faktor bapa atau ibu, yang mempengaruhi seseorang di masa kecil (misalnya karena faktor perceraian, dst).

Jadi sebenarnya, orang-orang yang lesbi atau gay sebenarnya dapat menghindari dosa, dengan tidak mengikuti dorongan nafsu seksualnya yang terarah kepada teman sejenis kelamin. Jika mereka hidup mengikuti hawa nafsu tersebut, tentu saja mereka berdosa. Alkitab sangat jelas menjabarkan hal ini. Namun, di dalam Kristus, mereka memiliki harapan untuk dapat mengarahkan hidup mereka ke arah kebenaran. Itulah sebabnya Gereja Katolik tidak menolak para gay dan lesbian, namun tidak membenarkan perbuatan mereka; melainkan mengarahkan mereka untuk hidup sesuai dengan perintah Tuhan untuk menerapkan kemurnian/ chastity. Maka di sini perlu dibedakan akan perbuatan/ dosa homoseksual dan orangnya. Dosa/ praktek homoseksual perlu kita tolak karena merupakan dosa berat yang melanggar kemurnian, namun manusianya tetap harus dihormati dan dikasihi. Walaupun demikian, Gereja tetap memegang bahwa kecenderungan homoseksual adalah menyimpang.(berdasarkan Congregation for the Doctrine of Faith yang dikeluarkan tgl 3 Juni 2003 mengenai, Considerations regarding Proposals to give legal recognition to unions between Homosexual Persons, 4).

II. Tentang tahapan dosa

Dari penjelasan di atas, maka kita melihat bahwa kecenderungan homoseksual yang dituruti menjadi suatu perbuatan dosa dan dapat membawa maut. Namun, yang menjadi masalah, orang sering tahu bahwa hal ini berdosa, tetapi sering tidak dapat melepaskan diri. Hal ini disebabkan, karena dosa tersebut telah menjadi suatu kebiasaan dari jiwa. Dalam artikel tentang pengakuan dosa bagian 1 di sini – silakan klik – dituliskan perkembangan dosa sebagai berikut:

Tahap 1: Pikiran tentang dosa datang dalam pikiran. Ini bukan dosa, tetapi suatu godaan. Pada tahap ini, penolakan terhadap dosa akan menjadi lebih mudah kalau kita membuang jauh-jauh pemikiran tersebut dengan cara mengalihkannya kepada hal-hal lain, seperti: berdoa, atau pemikiran tentang neraka, dll.

Tahap 2: Kalau pikiran dosa (godaan) ini tidak segera dibuang jauh-jauh, maka akan menjadi dosa ringan (venial sin). Ini adalah seperti menguyah-nguyah dosa di dalam pikiran. Sama seperti telur yang dierami, yang pada waktunya akan menetas, maka dosa yang terus dituruti di dalam pikiran, hanya menunggu waktu untuk membuahkan dosa (lih Yak 1:15).

Tahap 3: Tahap ini adalah perkembangan dari pemikiran dosa yang didiamkan atau dinikmati oleh pikiran, kemudian akan membuahkan keinginan untuk berbuat dosa. Di sini bukan hanya pikiran, namun godaan sudah sampai di hati (the will). Yesus mengatakan bahwa orang yang mempunyai keinginan untuk berbuat dosa, sudah berbuat dosa (Mat 5:28).

Tahap 4: Akhirnya dalam tahap ini, seseorang memutuskan untuk berbuat dosa. Pada tahap ini keinginan untuk berbuat dosa sudah menjadi keputusan untuk berbuat dosa namun masih merupakan dosa yang ada di dalam hati. Ini adalah sama seperti seseorang yang ditawarkan suatu jabatan dengan cara korupsi. Dia mempunyai tiga pilihan: menolak, bernegosiasi, atau mengiyakan. Tahap ini keinginan dan pikiran saling mempengaruhi, namun akhirnya membuahkan kemenangan bagi setan, sehingga seseorang memutuskan untuk berbuat dosa.

Tahap 5: Pada saat kesempatan untuk berbuat dosa muncul, maka keputusan untuk berbuat dosa yang ada di dalam hati menjadi suatu tindakan nyata. Setelah keputusan untuk berbuat dosa dalam keinginan menjadi kenyataan, maka jiwa seseorang juga telah jatuh ke dalam dosa. Sama seperti air yang menjadi es dan memerlukan panas untuk mencairkannya, maka seseorang masih tetap dalam kondisi berdosa sampai dia bertobat.

Tahap 6: Perbuatan dosa yang sering diulang akan menjadi kebiasaan berbuat dosa (habit of sin) atau kebiasaan jahat (vice). Dengan pengulangan perbuatan dosa, maka ada suatu tahap kefasihan untuk berbuat jahat dan keinginan hati sudah mempunyai kecenderungan untuk berbuat jahat. Bapa Gereja menghubungkan bahwa tiga kali Yesus membangkitkan orang mati melambangkan Yesus membangkitkan manusia dari dosa di dalam hati, dosa yang dinyatakan dalam perbuatan, dan dosa yang sudah menjadi kebiasaan. Yesus membangkitkan anak perempuan Yairus (Luk 8:49-56) di dalam rumahnya yang melambangkan kebangkitan dari dosa yang masih di dalam hati. Sedangkan kebangkitan anak janda di pintu gerbang (Luk 7:11-16) melambangkan kebangkitan dari dosa yang telah dinyatakan dalam perbuatan. Akhirnya, kebangkitan Lazarus yang telah dikubur (Yoh 11:3-43), melambangkan kebangkitan dari dosa yang sudah menjadi kebiasaan. Untuk membangkitkan Lazarus, Yesus menangis, menyuruh seseorang membuka batu kubur, berseru dengan suara keras, meminta orang untuk membuka kain penutup, dan membiarkan dia pergi. Ini menunjukkan bahwa begitu sulit untuk menghancurkan dan memutuskan ikatan dosa yang sudah menjadi kebiasaan.

Tahap 7: Perbuatan dosa dan kebisaan untuk berbuat dosa akan disusul dengan dosa yang lain. Karena rahmat Tuhan tidak dapat bertahta lagi dalam hati orang ini dan seseorang tidak dapat melawan dosa tanpa rahmat Tuhan, maka orang ini tidak mempunyai kekuatan untuk keluar dari dosa dan malah berbuat dosa yang lain. Alkitab menyatakan bahwa Tuhan mengeraskan hati Firaun untuk menggambarkan akan kebiasaan berbuat dosa, yang menjadikan Firaun berbuat dosa yang lain secara terus-menerus (Kel 9:12). Rasul Paulus menyatakan bahwa Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas, karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah (Rom 1:28).

Tahap 8: Pada saat kejahatan benar-benar berakar dalam jiwa seseorang, maka seseorang akan melakukan dosa yang benar-benar jahat sampai pada titik membenci Tuhan. Dengan sadar dan segenap hati dia akan melawan dan menghujat Roh Kudus, dimana merupakan dosa yang tidak terampuni (Mrk 3:29).

III. Tentang dosa yang menjadi kebiasaan

Dosa yang menjadi kebiasaan adalah merupakan tahap 6. Untuk dapat lepas dari dosa ini, dosa yang telah menjadi kebiasaan (habitual sin) akan membutuhkan waktu untuk dipatahkan dan membutuhkan rahmat Tuhan. Hanya berkat Tuhan dan kerjasama dari kita, yang dapat mengalahkannya. Alangkah baiknya kalau anda dapat mempunyai pembimbing rohani dan bapa pengakuan yang sama, sehingga dia dapat membantu anda untuk mengatasi masalah ini. Habitual sin ini hanya dapat dikalahkan dengan “virtue” (kebajikan). Karena kebajikan adalah “the habit of the soul to perform good action with easiness and competent“, maka diperlukan suatu latihan untuk mengerjakan kebajikan tersebut secara berulang-ulang, sehingga dapat menjadi suatu kebiasaan/habit Pada saat yang bersamaan, kita dapat minta kepada Tuhan untuk memberikan kebajikan tertentu – dalam hal ini kebajikan kemurnian – , karena hanya Tuhan yang dapat masuk ke dalam jiwa kita dan memberikan rahmat yang diperlukan untuk mendapatkan kebajikan yang kita minta. Jangan berputus asa, karena sesungguhnya kesadaran akan kesalahan itu berasal dari karya Roh Kudus yang dapat membawa seseorang kepada pertobatan dan kerendahan hati. Yang terpenting, pada saat kita gagal dan kembali pada dosa yang sama, maka secepatnya kita harus datang kepada romo untuk menerima Sakramen Tobat. Dan mulai lagi dari awal, dan jangan berputus asa.

IV. Langkah-langkah praktis untuk mengatasinya:

Kita dapat belajar dari apa yang anda telah jalankan. Retret dapat membantu seseorang untuk menyadari dosa-dosa di dalam dirinya, sehingga dia dapat bekerjasama dengan rahmat Allah untuk bertobat secara sungguh-sungguh. Kekuatan rahmat Allah yang dibarengi dengan niat yang sungguh-sungguh membuat rahmat Allah menjadi berdayaguna. Namun, setelah retret, kita yang hidup dalam pekerjaan sehari-hari harus menghadapi keseharian yang sama, termasuk juga menghadapi godaan-godaan di sekitar kita. Yang menjadi masalah, ketika kita masuk dalam keseharian kita, maka kita menjadi lupa bahwa untuk menolak godaan, kita memerlukan rahmat Allah yang didapat melalui doa dan sakramen.

1. Ikutilah retret.

Kalau memungkinkan cobalah mengikuti retret lagi, sehingga anda dapat kembali mengulang saat-saat indah bersama Allah. Anda dapat juga mengikuti retret yang sama sekali lagi. Dan memang sudah seharusnya, kalau memungkinkan kita dapat mengikuti retret satu tahun sekali.

2. Menerima Sakramen Tobat secara teratur.

Baik anda dapat mengikut retret atau tidak, namun anda harus datang ke Sakramen Tobat. Pada saat menerima Pengakuan Dosa, janganlah kuatir bahwa anda akan jatuh lagi pada dosa yang sama. Yang terutama adalah anda berfokus pada belas kasih Allah dan rahmat Allah, yang dapat membantu anda untuk dapat melawan godaan, sehingga anda tidak jatuh ke dalam dosa yang sama. Kalau ada suara-suara yang mengatakan bahwa percuma anda menerima Sakramen Tobat, karena nanti akan berdosa lagi, buanglah jauh-jauh suara-suara tersebut. Berfokuslah pada belas kasih Allah dan berusahalah untuk tidak jatuh pada dosa yang sama lagi, karena tidak mau menyedihkan hati Allah. Kalau memungkinkan, anda dapat mengaku dosa kepada pastor yang sama, sehingga pastor tersebut tahu secara persis kelemahan anda dan juga perjuangan anda dalam melawan dosa ini. Pastor tersebut juga dapat menjadi pembimbing rohani anda (spiritual director).

3. Bertekunlah dalam Firman Tuhan.

Kita tahu bahwa “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2Tim 3:16). Dengan semakin mendalami Firman Tuhan, maka kita akan semakin tahu apa yang Tuhan inginkan dalam kehidupan kita. Firman Tuhan dapat menegur dan pada saat yang bersamaan dapat memberikan kekuatan kepada kita untuk terus bertumbuh dalam kekudusan. Anda dapat mengikuti bacaan berdasarkan kalendar liturgi Gereja Katolik, seperti dalam buku: ruah, mutiara iman, dll.

4. Bertekunlah dalam doa dan sakramen.

Doa memberikan kekuatan kepada kita, sehingga kita diberikan kemampuan oleh Allah untuk dapat menghadapi godaan-godaan yang terjadi dalam kehidupan kita. Kalau penyembahan yang tertinggi adalah Sakramen Ekaristi, maka sudah seharusnya kita harus menerima Kristus dalam Sakramen ini sesering mungkin. Oleh karena itu, kalau memungkinkan ikutilah misa harian.

5. Cobalah untuk berlatih kebajikan kemurnian.

Latihan ini memerlukan rahmat Tuhan dan ketekunan kita. Ini berarti setiap hari, kita mohon rahmat Tuhan agar diberikan kemurnian. Kemurnian hati ini sangat penting, karena Kristus menekankan bahwa “berbahagialah yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Mt. 5:8). Latihan ini juga memerlukan kedisiplinan untuk melakukan pemeriksaan batin setiap hari. Cobalah melihat apakah pada hari ini, ada kebajikan kemurnian yang telah dilanggar, baik dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan?

6. Melawan ketika godaan masih kecil.

Kita harus menyadari bahwa diri kita pada dasarnya adalah lemah. Oleh karena itu, godaan yang dapat kita lawan adalah godaan-godaan yang masih dalam skala yang kecil. Ketika godaan masih kecil, maka akan lebih mudah kita melawannya dan menyingkirkannya. Kalau kita tidak menghentikan godaan ini sedari kecil, maka akan sangat sulit kalau godaan tersebut telah begitu besar.

7. Hindari kesempatan berbuat dosa.

Kadangkala godaan yang kecil sekalipun sulit kita hindari. Jangan pernah sombong dengan kekuatan kehidupan spiritualitas kita. Karena ketika kita sombong akan kehidupan spiritualitas kita, maka pada saat itulah kita lemah. Oleh karena itu, cara paling aman, jauhilah dan larilah dari hal-hal yang membuat kita berdosa. Dalam terapi pasien yang menggunakan obat-obatan maupun pemabuk, salah satu cara adalah menghindari semua hal-hal yang berbau obat-obatan maupun minuman keras, termasuk tempat, kehidupan malam, teman-teman, dll. Jadi, anda yang paling tahu kondisi anda. Amatilah dan renungkanlah, bagaimana anda dapat jatuh lagi? pada kesempatan seperti apa? urutkan kejadiannya, sehingga anda tahu bahwa kalau anda menghindari kejadian tersebut, maka anda tidak terjebak pada dosa yang sama. Sebagai contoh, kalau menggunakan facebook membuat anda terjebak pada teman-teman yang dulu, yang menggoda untuk melakukan dosa yang sama, maka anda harus menghapus account facebook dan mulailah untuk berteman dengan teman-teman yang nyata. Kalau yang membuat anda jatuh adalah aktifitas berinternet, cobalah untuk mengurangi aktifitas ini. Atau, kalaupun anda harus melakukan aktifitas berinternet, jangan melakukannya di kamar tidur, namun lakukan di tempat-tempat yang ada anggota keluarga, saudara maupun teman.

8. Bergabung dalam komunitas.

Komunitas dapat membantu kehidupan spiritualitas seseorang. Dengan berkumpul bersama-sama dengan orang-orang yang mempunyai spiritualitas yang baik, maka spiritualitas kita juga akan terbangun. Anda dapat mengikuti Legio Maria, kelompok devosi kerahiman ilahi, kelompok pendalaman Alkitab, kelompok doa karismatik, doa meditasi, dll.

Demikian, apa yang dapat saya sampaikan. Semoga uraian di atas dapat membantu. Yang terpenting, janganlah berputus ada dan senantiasa memohon belas kasih Allah. Bersyukurlah bahwa Roh Kudus telah mengingatkan anda bahwa anda harus memperbaiki dosa yang telah dilakukan. Dan dengan Roh Kudus yang sama, mintalah kekuatan untuk melawan dosa ketidakmurnian. Biarlah masa prapaskah ini menjadi masa pertobatan dan penuh rahmat. Yakinlah bahwa Tuhan melihat perjuangan anda untuk bertumbuh dalam kekudusan. Anda dapat meminta doa di pojok doa – klik ini, dan tulis PRIBADI, sehingga ujud doa tidak ditampilkan di dalam website. Kita saling mendoakan, agar kita dapat terus berjuang dan bertumbuh dalam kekudusan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

19/12/2018

16
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
7 Comment threads
9 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
14 Comment authors
JamesCaecilia Triastutialdidaniel takeshiPendidik Pembidik (Yohanes) Recent comment authors
aldi
Guest
aldi

syalom romo… saya gak tau harus mulai darimana terlebih dahulu, soalnya saya sendiri bingung dengan keadaan saya sekarang ini, saya benar2 kehilangan arah hidup saya, saya merasa, terlalu banyak masalah yang saat ini menimpa diri saya, saya kehilangan pekerjaan, saya di rendahkan oleh keluarga karena saya penyakitan dan pengangguran, dan yang paling menjadi beban saya adalah, saya tidak bisa menentukan saya ini gay atau bukan, semua hal di atas, benar-benar telah menekan saya jauh ke dalam kesendirian, rasa putus asa dan kekosongan. bahkan saya sampai berkata kepada Tuhan “Tuhan, kalo Tuhan marah sama saya dan ini hukuman buat saya, saya… Read more »

Caecilia Triastuti
Editor

Shalom Aldi, Saya berempati kepada pergumulan Anda, maka ijinkan saya turut berbagi yang semoga dapat menjadi masukan yang bermanfaat bagi Anda. Tuhan sangat mengasihi Anda, apapun juga keadaan Anda. Di dalam hati setiap orang,Tuhan meletakkan kerinduan untuk melakukan apa yang baik dan menjauhi apa yang tidak, pertama-tama sebenarnya demi kebaikan dan kebahagiaan kita sendiri, karena Dia tahu betul siapa kita luar dan dalam, Dia yang menciptakan kita karena kasihNya.  Karena karunia pembaptisan, Roh Kudus-Nya sudah selalu ada di dalam diri kita. Kegelisahan Anda ini sebenarnya panggilan-Nya kepada Anda supaya mengalami hidup yang utuh dan berkelimpahan dan untuk dijalani dengan wajar… Read more »

Bram
Guest
Bram

Dear Admin, Saya adlh seorang gay, yang telah menyadari kecenderungan ini sejak saya masih smp. Namun sy telah berusaha berperang melawan kecenderungan ini sejak saat itu. Sekarang saya cukup berumur, dan desakan keluarga untuk memaksa sy menikah cukup besar. Seperti saudara Susilo dan saran2 Anda, sy selalu berusaha untuk aktif dalam berbagai kegiatan rohani, retret dan rekoleksi. Sy telah melalui tahun2 penuh perjuangan yg berat dalam usaha sy untuk sembuh lewat doa, puasa, pelayanan dan relasi dgn Tuhan, bahkan mencoba menjalin relasi dgn lawan jenis sy, namun semuanya terasa kosong dan sy pun mengakhiri hubungan2 tersebut. Dan pada akhirnya, entah… Read more »

Romo Yohanes Dwi Harsanto
Guest
Romo Yohanes Dwi Harsanto

Salam Bram, Bagaimana sikap Gereja terhadap para pria dan wanita yang memiliki kecenderungan homoseksual? Di satu pihak Gereja Katolik tidak membenarkan kegiatan homoseks, tetapi di lain pihak juga tidak membenarkan perlakuan diskriminatif atau menyingkirkan mereka dari hidup bersama dalam masyarakat. Untuk imamat, Bunda Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik dengan penuh kasih juga menyatakan secara tegas bahwa imamat tidak bisa diberikan kepada perempuan, bukan pula untuk orang yang memiliki orientasi seksual homo, bukan pula untuk lelaki biseksual yang tidak memenuhi syarat-syarat yang dituntut untuk imamat itu. Dalam hal ini dengan rendah hati kita menyatakan ketaatan iman. Tentu Anda bisa… Read more »

Pendidik Pembidik (Yohanes)
Guest

Salam sahabat ku Bram Aku rasa penjelasan Romo Yohanes Dwi Harsanto sudah jelas akan semuanya itu. ijinkan aku berbagi apa yang dapat aku bagikan, pada dasarnya Tuhan tidak melarang semua umat/anak2-Nya melayani, akan tetapi janganlah kita melayani Tuhan hanya sekedar dari pelarian atau malah menjadi batu sandungan utk semua. Sewaktu saya masih kecil (remaja, smp) saya giat melayani sebuah gereja protestan (saat itu Bethany successful family) karena saat itu saya adalah seorang yang beragama Kristen Protestan. didalam pelayanan tersebut saya adalah pemain keyboard . satu saat kami retreat, entah gimana aku sekamar dengan para team, nah diantara team itu (dia… Read more »

daniel takeshi
Guest

Baik sekali ulasan dari Romo Yohanes dan Pendidik pembidik, di mana aku sekarang baru tahu bahwa onani itu dosa. Jadi bukan onani aja yang berdosa, bila aku berpikir negatif pun pasti sudah menjadi dosa. Terima kasih Katolisitas, terima kasih para Admin yang sudah setia memberikan pencerahan serta terima kasih kepada sahabat Katolisitas juga yang sudah banyak memberi masukan. Aku juga pernah menjadi seorang korban yang sama dengan cerita dari pendidik pembidik. Hal itu terjadi sewaktu aku tinggal di salah satu boarding house sebuah Gereja dan tidak harus kusebutkan tepatnya. Akan tetapi, memang benar, sayang sekali bila ada seorang pelayan Tuhan… Read more »

James
Guest
James

Bro Bram,

Sya juga mengalami pergumulan yang sama seperti yang anda alami. Tegar dan jangan menyerah ya, saya mengerti sekali, menghadapi permasalahan unwanted homosexuality itu sulit sekali. Majulan terus jangan menyerah kepada keadaan seberapa berat keadaan itu. Tuhan memberkati

feni
Guest
feni

romo adik suami saya adalah lesbi dan mereka tinggal bersama di rumah orang tuanya, perilaku tersbt didukung oleh ibunya seluruh orang semua sdh tahu perilaku tsb,tapi krn masih memandang ibunya maka orang-orang sekeliling & gerejapun sungkan,jika pergi ke gereja mereka berdua dan ibunya memperlihatkan spt keluarga bahagia. Yang saya mau tanyakan apakah gereja bisa menegur tindakan demikian di dalam gereja? Apakah mereka dalam menerima perjamuan kudus tidak dilarang?

Rm Agung, MSF
Guest
Rm Agung, MSF

Salam Fani, Bagi mereka yang mengalami ketertarikan kepada sesama jenis, Gereja menyatakan:”Kaum homoseksual dipanggil untuk hidup murni menahan nafsu. Dengan kemampuan untuk mampu mengendalikan diri sendiri yang mengajarkan mereka kebebasan dalam diri mereka sendiri, dengan kadang-kadang didukung oleh persahabatan yang tanpa pamrih, oleh doa dan karunia ilahi, mereka bisa dan seharusnya secara bertahap dan pasti mendekati menjadi sebagai seorang Kristiani yang sempurna” (Statement by the Catholic bishops of CA dalam WorldNetDaily, May 22, 2008) Hubungan seksual dengan pasangan yang sejenis, menyalahi kehendak Allah, karena: 1. Yang dikehendaki Allah “menjadi satu daging” adalah laki-laki dan perempuan, 2. Hubungan seksual dengan sesama… Read more »

Ancol
Guest
Ancol

Hendrik, saya kagum dengan kemauan kuat untuk terbebas dari kecenderungan homo seksual.
Hal itu tidak mudah, atau bahka tidak mungkin. Ini juga saya alami.
Kalau saya melihatnya sebagai salib yang harus saya pikul dan salib ini akan memurnikan dan mengembangkan iman saya.

Ingrid Listiati
Member

Shalom Ancol dan Hendrik, Dari yang saya ketahui baik dari buku maupun dari sharing pengalaman hidup orang- orang yang bergumul dengan kecenderungan homoseksual, maka kemungkinan memang benar bahwa orang- orang yang sedemikian memang harus bergumul terus untuk mengendalikan kecenderungan tersebut, agar tidak menghantar mereka kepada dosa. Hal ini hampir menyerupai orang yang mempunyai kecenderungan/ ketagihan akan obat- obatan, rokok atau minuman keras, atau dengan keterikatan dengan hal lainnya seperti kecenderungan marah, tidak sabar, malas, dst. Kecenderungan ini memang dapat saja tetap ada, namun jika kita melihatnya dengan kacamata positif, kita dapat menganggapnya sebagai kesempatan bagi kita untuk berjuang bertumbuh di… Read more »

Petrus Sudjono
Guest
Petrus Sudjono

Saudaraku Hendrik, kami mendoakan anda dan teman-teman anda dengan kondisi serupa dengan anda. Berjuanglah dan bertarunglah untuk melawannya, karena iblis selalu berusaha untuk mempengaruhi otak seseorang untuk menghinakan Tuhan, baik melalui tubuh, pikiran, perkataan kita. Ayo semangat, jangan menyerah !

Felix Dionesuis
Guest
Felix Dionesuis

Dear Admin Saya seorang lelaki gay, sepertinya semenjak saya ingat bahwa saya ada didunia ini saya sudah merasakan ketidak normalan saya. Saat ini saya berusia 46 thn dan sudah berkeluarga serta memiliki seorang putri berusia 13 thn. Istri saya juga tahu kalau saya mempunyai kelainan sexual. Tetapi dia berusaha untuk tetap tegar menghadapi saya yang memang kadang kambuh. berikut pemaparan saya: Semenjak kecil memang saya merasa ada kelainan pada diri saya. saua suka bergaul dengan anak perempuan dan suka mengenakan apa yang dikenakan oleh perempuan. segala permainan juga perampuan. Saya bertumbuh sebangai mana seorang pria yang tegap , atletis, (… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Susilo, Pertama- tama mohon maaf atas keterlambatan jawaban kami. Kami menyadari bahwa mungkin sulit bagi anda untuk keluar dari keterikatan kecenderungan homoseksual ini, namun kami tetap percaya bahwa tiada yang mustahil bagi Tuhan (lih. Mrk 9:23; Luk 1:37). Sejujurnya, membaca penuturan anda, saya menangkap bahwa andapun sebenarnya ingin untuk lepas dari kecenderungan yang tidak sehat ini. Untuk itu, bersyukurlah, sebab kejujuran hati untuk melihat keselahan dan dosa yang kita lakukan, itu selalu terjadi berkat dorongan Roh Kudus. Sebab memang tugas Roh Kudus adalah untuk “menginsyafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman” (Yoh 16:8). Nah, jika Roh Kudus sudah menyatakan… Read more »

Rm Agung MSF
Guest
Rm Agung MSF

Sdr. Dionesius Sebagai manusia, kita mempunyai kencederungan seksual. Tetapi kita adalah manusia yang diberi kelebihan oleh Allah, bahkan “dihembusi” Roh Kudus-Nya. Maka tentu saja kita dituntut untuk dapat mengendalikan diri (keinginan daging – istlah rasul Paulus), karena kita adalah anak-anak Allah. Seperti orang yang heteroseksual, tentu ada kecenderungan untuk melakukan hubungan seksual dengan yang bukan pasangannya. Tetapi karena imannya kuat, ia dapat mengalahkan kecenderungannya itu. Ia mau dan mampu mengendalikan diri. Caranya tentu dengan memaksa diri sendiri untuk tidak selalu mengikuti perasaan dan/atau keinginan nafsu. Penebus kita adalah Kristus, siapakah kita ini sehingga kita bisa menebus seluruh dosa-dosa kita? Justru… Read more »

Hendrik
Guest
Hendrik

Shalom Pak Stefanus, Pertama saya ingin bercerita sedikit tentang masalah saya. Saya adalah seorang pria yang punya orientasi seksual berbeda dari orang kebanyakan. Melihat artikel yang ditulis di katolisitas bahwa setiap orang apapun orientasi seksualnya harus menjaga tubuhnya kudus, maka saya bertekad untuk melakukannya. Namun, ternyata pada prakteknya tidak semudah yang dibayangkan. Sebelumnya, saya pernah mengakukan dosa saya dan bertobat ketika mengikuti retret di Cikanyere. Sungguh, retret tersebut mengubah hidup saya dan ketika saya mengakukan dosa saya lakukan dengan niatan yg murni dan sungguh-sungguh. Lalu ketika itu juga ada kesempatan untuk konseling dengan suster/frater di sana, karena satu dan lain… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X