Bagaimana Membuktikan Bahwa Tuhan Itu Ada?

Jangan bertanya tentang agama kepada orang lain … itu tabu

Pada waktu saya tinggal di Amerika, suatu saat sepupu saya mengatakan bahwa ada beberapa hal yang tidak boleh ditanyakan jika bertemu dengan orang di Amerika, seperti umur, status, dan juga termasuk agama. Sepanjang pengetahuan saya, pertanyaan “apakah agama-mu” adalah merupakan pertanyaan yang jamak dan lazim di Indonesia, apalagi negara Indonesia berdasarkan Pancasila, dimana sila pertama adalah “Ke-Tuhanan yang Maha Esa.”. Setelah saya pikir-pikir, orang di Amerika dan mungkin di negara yang lain tidak begitu senang kalau ditanya tentang agama mereka, karena itu adalah masalah yang pribadi. Kedua, ada kemungkinan mereka sebetulnya bisa mengatakan saya tidak beragama. ((Mungkin juga ketidaknyamanan mereka akan pertanyaan ini sebetulnya membuktikan bahwa masalah agama adalah sesuatu yang bersifat pribadi dan juga membuktikan bahwa mereka merasakan ada sesuatu yang salah. Kalau mereka merasa tidak salah, sebetulnya tidak usah mereka merasa tidak enak.))  “Tidak beragama” mulai melanda banyak negara maju, sejalan dengan perkembangan teknologi dan ekonomi, dimana banyak orang merasa tidak membutuhkan Tuhan. Juga di negara komunis, agama disebut “candu masyarakat.” ((Lenin Vladimir dalam bukunya “Socialism and Related Systems” mengatakan bahwa agama adalah merupakan candu bagi masyarakat. ((Lenin Vladimir dalam bukunya “Socialism and Related Systems” mengatakan bahwa agama adalah merupakan candu bagi masyarakat.))

Dalam artikel ini akan dicoba untuk menjawab pertanyaan yang begitu mendasar, yaitu “mengapa kita musti percaya kepada Tuhan? Dan kalau kita percaya, Tuhan yang mana yang harus kita percayai? Apakah banyak tuhan ataukah Tuhan yang esa?…. Mungkin ada banyak orang di Indonesia yang tidak pernah terlintas untuk memikirkan atau mencoba untuk menjawab pertanyaan ini. Hal ini disebabkan karena agama sudah mendarah daging di dalam masyarakat Indonesia. Untuk mempertanyakan hal ini kepada orang tua, mungkin ada rasa jengah. Bertanya kepada guru atau pastor, takut dikira tidak punya iman. Namun pertanyaan mendasar seperti ini patut diberikan jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan, karena manusia pada dasarnya mempunyai kodrat untuk “ingin tahu“.

Membuktikan keberadaan Tuhan dengan dasar filosofi dari St. Thomas Aquinas.

Dalam tulisan ini akan dibahas bagaimana dengan menggunakan akal budi – melalui pendekatan filosofi ((lih. KGK, 47, 286; cf. Vatican Council I, can. 2, § 1: DS 3026.)) – dapat ditarik kesimpulan bahwa kepercayaan kepada Tuhan yang satu adalah kepercayaan yang sangat logis. Sebaliknya, kalau seseorang tidak percaya akan Tuhan yang satu, bisa dibilang bahwa itu melawan akal budi. ((Pendekatan yang logis ini berdasarkan “self-evidence principle” atau prinsip kebenaran yang tidak perlu dibuktikan, seperti: suatu akibat terjadi karena suatu sebab (causality). Kita tidak perlu membuktikan apakah “causality” adalah suatu prinsip yang benar, karena ini sudah menjadi bagian dari acuan berfikir yang bersifat umum atau “universal” yang menjadi dasar kebenaran untuk diterapkan kepada semua prinsip yang lain. Sebagai contoh, kita tidak perlu membuktikan bahwa lingkaran itu adalah bulat.))  Tidak ada pertentangan antara iman dan akal budi. Teologi sendiri dapat didefinisikan sebagai “iman yang mencari pengertian atau faith seeking understanding.” ((Motto dari St. Anselmus adalah “faith seeking understanding/ iman yang mencari pengertian (fides quaerens intellectum). Banyak orang yang mengatakan bahwa iman jangan digabungkan dengan filosofi atau akal, nanti jadi rancu dan tidak murni. Ini adalah pendapat yang salah, karena iman dan akal budi berasal dari sumber yang sama. Kalau keduanya berasal dari sumber yang sama, maka keduanya tidak mungkin bertentangan satu sama lain. Memang akal budi hanya dapat menjangkau tingkat tertentu. Dengan akal budi, manusia dapat membuktikan bahwa Tuhan itu ada, Tuhan itu satu, Tuhan itu baik dan kekal, dll. Namun ada banyak hal yang tidak mungkin juga dicapai oleh akal budi, namun perlu Tuhan sendiri yang memberikan wahyu-Nya kepada manusia, seperti: Trinitas, inkarnasi, sakrament, keselamatan, dll. Pada saat itulah akal budi harus bekerjasama dengan iman. Iman tanpa menggunakan akal budi akan menjadikan seseorang terlalu fanatik (fideism). Sebaliknya akal budi tanpa iman akan membuat orang mengarah kepada hal yang salah dan tersesat. Kita bisa melihat bahwa banyak sekali filsuf yang pada akhirnya tidak percaya kepada Tuhan. Dalam Gereja Katolik, sintesis dari kedua hal ini ditunjukkan oleh banyak dokumen Gereja (sebagai contoh: ensiklik dari Paus Yohanes Paulus II – “fides et ratio” atau hubungan antara iman dan pemikiran . Karya yang begitu indah dalam sintesis kedua hal ini adalah “Summa Theology” dari St. Thomas Aquinas.)) Paus Yohanes Paulus II berkata “akal budi dan iman adalah seperti dua sayap dimana roh manusia naik untuk mencapai kontemplasi kebenaran.” ((John Paul II, Encyclical Letter on the Relationship between Faith and Reason: Fides et Ratio, 1st ed. (Pauline Books & Media, 1998), p. 7 – Di sini Paus Yohanes Paulus mengatakan bahwa tidak ada pertentangan antara akal budi dan iman, karena keduanya datang dari sumber yang sama, yaitu Tuhan.))  Akal budi ini sudah menjadi bagian integral manusia, yang mempunyai kapasitas untuk menginginkan pencapaian suatu kebenaran. ((KGK, 31,32)) Untuk membuktikan kebenaran akan eksistensi dari Tuhan, maka St. Thomas Aquinas di dalam bukunya “Summa Theology,” ((St. Thomas Aquinas,  ST, I, q.2., a.3.)) memberikan lima metode, yang terdiri dari: 1) prinsip pergerakan, 2) prinsip sebab akibat, 3) ketidakkekalan dan kekekalan, 4) derajat kesempurnaan, dan 5) desain dunia ini.

Bukti 1: Prinsip pergerakan.

Mari sekarang kita meneliti pembuktian pertama, yaitu dari pergerakan. ((Prinsip ini mengatakan bahwa semua yang bergerak atau berubah dikarenakan oleh sesuatu. Juga bisa dikatakan bahwa sesuatu yang berubah dari potensi ke sesuatu yang nyata digerakkan oleh sesuatu yang sudah dalam keadaan nyata.)) St. Thomas mengambil contoh dari pergerakan, karena pergerakan terjadi dimana saja, kapan saja, dan bisa diamati dalam kejadian sehari-hari. Sebagai contoh, pada waktu mobil saya mogok, tetap bisa bergerak karena mobil saya ditarik oleh mobil derek. Namun mobil derek ini bisa bergerak karena adanya koordinasi sistem mesin yang begitu rumit. Walaupun demikian, mobil tidak akan bergerak, kalau tidak ada tangan manusia yang memasukkan kunci dan “menstarter” mobil itu. Tangan digerakkan oleh sistem kerja tubuh yang melibatkan miliaran sel, dimana dikoordinasikan oleh otak. Namun siapa yang menggerakkan otak? Karena ada kehidupan, ada jiwa yang tinggal di dalam tubuh manusia. Siapa yang membuat kehidupan dan jiwa tetap bertahan… dan seterusnya, sampai ada suatu titik, kita dapat mengambil kesimpulan ada “unmoved mover” atau penggerak yang tidak digerakkan oleh yang lain, karena Dia adalah sumber dari pergerakan itu. Sumber pergerakan inilah yang dinamakan “Tuhan”.

Bukti 2: Prinsip sebab akibat.

Pembuktian ke dua adalah dari “Prinsip sebab akibat.” Semua orang di dunia ini tahu kalau sesuatu terjadi dikarenakan oleh sesuatu. Prinsip ini begitu sederhana, sehingga bayipun dapat menerapkan prinsip ini. Bayi tahu kalau dia lapar, maka dia akan menangis. Dia tahu bahwa tangisannya akan menyebabkan ibunya datang dan kemudian menyusui dia. Ibu ini mau menyusui anaknya, walaupun kadang terjadi pagi-pagi buta, karena dia menyayangi anaknya. Dia sayang, karena anak itu lahir dari rahimnya, dan terjadi karena buah kasih sayang dengan suaminya. Komitmen untuk membentuk rumah tangga dikarenakan keinginan untuk mendapatkan kebahagian. Dan kebahagiaan, kalau ditelusuri terus-menerus akan sampai pada suatu titik, yang disebabkan oleh “uncaused cause” atau penyebab yang tidak disebabkan oleh sesuatu yang lain. Sumber dari penyebab inilah yang disebut orang “Tuhan“.

Dari pembuktian pertama dan kedua, orang bisa mengatakan bahwa “tapi sesuatu bisa terjadi tanpa batas“. Namun keberatan ini dapat disanggah dengan membagi semua pergerakan dan semua sebab akibat menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah “saat ini (current movement/change).” Bagian ke dua adalah deretan yang terhingga dari gerak dan sebab, atau yang disebut “bagian tengah / inter-mediate cause(s)“. Dan kemudian bagian yang terakhir adalah “bagian awal / first mover / causel“. Nah, bagian awal inilah yang disebut “Tuhan, Sang Alfa.”

Bukti 3: Dari prinsip ketidakkekalan dan kekekalan.

Kemudian pembuktian yang ketiga adalah “dari mahluk yang bersifat sementara (contingent beings) dan yang kekal (necessary beings)“. Di dunia ini, tidak mungkin semuanya bersifat sementara, karena kalau demikian maka ada suatu waktu semuanya akan lenyap. Bayangkan orang tua kita cuma hidup sekitar 80 tahun. Terus kakek kita mungkin 90 tahun. Kakek dari kakek kita mungkin 100 tahun. Mau berapa panjang usia nenek moyang kita, mereka toh pada akhirnya telah meninggal. Jika ditelusuri terus, maka garis keturunan kita akan sampai pada manusia pertama. Pertanyaannya adalah, bagaimana manusia pertama itu bisa ada dan hidup? Tidak mungkin dia terjadi begitu saja dari ketidak-adaan. Sebab sesuatu yang tidak ada tidak mungkin menghasilkan sesuatu yang ada/nyata. Jadi disimpulkan bahwa kalau semua mahluk tidak kekal, maka harus ada “Mahluk lain” yang keberadaannya kekal ((Sesuatu yang kekal dapat dibagi menjadi dua, yaitu kekekalan yang didapat karena yang lain, sebagai contoh: jiwa manusia, para malaikat – setelah mereka diciptakan, maka mereka menjadi kekal. Kekekalan yang kedua adalah kekekalan yang tidak tergantung dari yang lain, dan ini hanya ada satu, yaitu Tuhan.)) dan tidak mungkin hilang. KekekalanNya membuat mahluk yang tidak kekal terus bertahan dan memenuhi bumi, sehingga kehidupan tidak punah. Kekekalan yang tidak disebabkan oleh yang lain inilah yang disebut “Tuhan, Sang Kekal.” ((Untuk menyanggah keberadaan Tuhan sebagai “unmoved mover” dan “uncaused cause” adalah tidak mendasar, karena itu berarti, kita harus berasumsi bahwa sesuatu di dunia ini terjadi tanpa ada penyebabnya. Dan asumsi ini berlawan dengan prinsip utama (self-evidence principle), yaitu prinsip sebab akibat (causality).))

Bukti 4: Derajat kesempurnaan.

Pembuktian ke empat adalah dari sisi “derajat kesempurnaan.” Kalau kita amati, semua yang ada di dunia ini ada tingkatannya. Ada yang miskin, kaya, konglomerat. Kasih, kebajikan, kebaikan, keindahan, kebenaran, semuanya ada tingkatannya. Peribahasa “kasih anak sepanjang galah dan kasih ibu sepanjang jalan,” secara tidak langung menunjukkan ada tingkatan dan derajat kasih. Jadi, kalau semua ada tingkatannya, tentu ada yang paling tinggi tingkat kesempurnaanya. Jadi, semua tingkatan berpartisipasi dalam sesuatu yang tingkatannya paling tinggi. Sebagai contoh, kalau kita menaruh besi di dalam api, maka besi itu menjadi panas. Namun panasnya besi bukan karena akibat dari besi itu sendiri, melainkan karena partisipasi besi itu dalam api.

Contoh di atas membuka suatu prinsip yang sangat penting, yaitu “seseorang atau sesuatu tidak dapat memberi apa yang dia tidak punya.” Air dingin tidak bisa membuat besi menjadi panas, karena air dingin tidak mempunyai sifat panas. Semua yang ada di dunia ini tidaklah sempurna, namun semuanya ada karena partisipasi dalam sesuatu yang tingkatannya paling tinggi, dan yang tingkatannya paling tinggi inilah yang di sebut “Tuhan, Sang Maha Sempurna.”

Bukti 5: Dari desain dunia ini dan tujuan akhir.

Pembuktian yang terakhir adalah dari sisi “desain dunia ini dan tujuan akhir“. Ini adalah sesuatu yang dapat dibuktikan di dalam hidup kita sehari-hari. Kita setiap hari melihat jalan setapak, jalan raya, dan juga jalan layang. Apakah mungkin kalau kita mengatakan bahwa jalan itu memang ada dengan sendirinya, tanpa ada yang mendesain dan membangun. Bagaimana dengan desain rumah, desain tata kota, dll. Semua terjadi karena ada yang mendesain dan tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Kalau kita percaya bahwa rumah kita tidak terjadi dengan sendirinya, namun didesain oleh diri sendiri atau seorang arsitek, apakah kita dapat menyangkal bumi ini, sistem grafitasi, dan juga sistem tata surya terjadi dengan sendirinya? Apakah mungkin kita berpendapat bahwa pergerakan planet-planet dan bintang-bintang, yang semuanya berjalan dengan keharmonisan tertentu dikarenakan karena faktor kebetulan? Desain alam semesta ini jauh lebih rumit daripada desain rumah kita. Kalau kita percaya akan arsitek yang mendesain rumah kita, maka kita harus percaya bahwa ada arsitek tata surya ini, yaitu Tuhan. Kalau kita lebih percaya bahwa semuanya terjadi secara kebetulan, maka ini adalah argumen yang tidak mungkin, karena kemungkinan bahwa semua itu terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang mengatur adalah bisa dibilang “tidak mungkin.” Sama halnya seperti kalau kita bilang bahwa rumah saya terjadi secara kebetulan tanpa ada yang merencanakan dan menbangunnya.

Bagaimana dengan mahluk yang tidak berakal budi, seperti tumbuhan dan binatang. Mereka mempunyai suatu pola dalam hidup mereka. Siapa yang mengatur kehidupan mereka? Hukum alam? Namun siapa yang mengatur hukum alam? Hanya mahluk rasional yang mungkin mengatur sesuatu yang punya aturan tertentu dan menuju ke suatu tujuan tertentu.

Contoh lain adalah gravitasi bumi, dan pergerakan tata surya yang mempunyai nilai tertentu dan tetap sepanjang sejarah. Jika nilai- nilai tersebut berubah sedikit saja, maka kacaulah segala planet di tata surya ini. Maka jelaslah bahwa semua yang bergerak dan beroperasi menurut urutan tertentu akan bergerak untuk mencapai tujuan akhir. Jadi dapat disimpulkan bahwa ada “Mahluk Rasional” yang memelihara dan mengarahkan semua yang ada di alam ini ke tujuan akhir. Inilah yang disebut “Tuhan, Sang Omega.” Dengan demikian lebih logis dan lebih mungkin, kalau kita percaya bahwa ada sesuatu yang mengatur sistem alam semesta, yaitu Tuhan Sang Pencipta.

Kemudian, variasi dari demonstrasi ke lima ini adalah dari sisi “aturan moral.” Kalau di atas kita melihat bagaimana Tuhan mengatur mahluk yang tidak berakal budi dengan “hukum alam“, maka berikut ini adalah demontrasi yang menunjukkan bahwa Tuhan juga mengatur mahluk yang berakal budi, yaitu manusia melalui “hukum moral.” Kalau kita teliti lebih jauh, manusia dengan latar belakang, kebangsaan, suku, ras yang berbeda, diatur oleh suatu hukum yang dinamakan hukum moral yang secara alami tertulis di dalam hati nurani manusia. ((Rasul Paulus mengatakan di Rom 2:15 “Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.”)) Hukum moral inilah yang membuat manusia dapat membedakan antara yang baik dengan yang jahat. Hukum ini bersifat obyektif, dan mengikat manusia secara universal. Kita bisa melihat bagaimana aturan baku di semua negara: anak harus menghormati orang tua, seorang ibu mengasihi anaknya, seseorang akan merasa tidak enak hati kalau membalas kebaikan dengan kejahatan, dll. Kalau orang melawan hukum universal ini, maka dia sebenarnya melawan hati nuraninya sendiri.

Kata “hukum atau aturan” pada dasarnya adalah sesuatu yang terjadi karena tuntutan akal (dictate of reason) yang dibuat untuk kepentingan umum oleh seseorang yang mempunyai otoritas. Misalnya, kalau peraturan lalu lintas adalah peraturan dengan alasan yang logis untuk keselamatan pengendara, yang dibuat oleh pihak kepolisian lalu lintas. Dengan menerapkan prinsip “sebab akibat“, kita tahu bahwa hukum moral yang tertulis di setiap hati nurani manusia tidaklah terjadi dengan sendirinya, namun diberikan oleh Sang Pemberi Hukum yaitu: “Tuhan, Sang Maha Adil.” Jadi hukum moral ini juga dapat membuktikan keberadaan Tuhan, yang memberikan aturan yang tertulis di dalam hati manusia untuk kepentingan umum.

Ok. Sekarang saya percaya kepada Tuhan, tapi satu Tuhan atau banyak tuhan?

Dari lima pembuktian ini, mungkin ada orang yang mengatakan. Ok, saya percaya ada Tuhan, tapi saya juga percaya ada banyak tuhan. Untuk menjawab hal ini, kita melihat pada pembuktian ke-empat, yang menujukkan tidaklah mungkin kalau ada banyak tuhan, karena kalau banyak, pasti yang satu lebih atau kurang dari yang lain. Padahal, kalau Tuhan itu adalah “Maha secara absolut”, maka hanya dapat disimpulkan bahwa “Tuhan itu adalah Satu atau Esa“.

Keputusan untuk percaya kepada Tuhan yang Satu adalah keputusan yang paling logis.

Dari semua pembuktian di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa lebih logis kalau kita percaya Tuhan daripada sebaliknya. Kelogisan ini berlanjut dengan kepercayaan kita kepada Tuhan yang Satu dan Kekal. Jadi sebenarnya dapat dikatakan bahwa dasar pertama dari Pancasila – keTuhanan yang Maha Esa – adalah sangat logis dan mendasar. Di dalam tulisan yang akan datang, kita akan menelusuri lebih jauh tentang siapa Tuhan yang Satu itu. Dan pertanyaan itu akan mengarah kepada “Yesus Kristus, Sang Sabda Kehidupan “.

28
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
10 Comment threads
18 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
18 Comment authors
abethBimomartenserikZabil salahuddinPencari kebenaran Recent comment authors
Bimomartens
Guest
Bimomartens

Shalom, Bapak/Ibu Thay Saya hendak sedikit sharing, dan juga mohon konfirmasi logika tentang eksistensi Tuhan. Saya mendapatkan logika ini dari hasil membaca site di internet (sayangnya saya lupa alamatnya) beberapa tahun yang lalu. Berikut; Abjad latin terdiri dari 26 huruf (A-Z). Jika masing-masing abjad dituliskan pada selembar kertas kecil, maka terdapat 26 lembar. Seandainya 26 lembar tadi kita kocok (seperti mengocok kartu poker) dan kita urutkan dari kiri ke kanan, maka peluang 26 lembar tadi bisa urut A, B, C, D, … Z adalah : 1 banding 26 pangkat 26 = 1 banding 6.1561196e+36 (jangan tanya saya itu rumusnya benar… Read more »

erik
Guest
erik

saya ada pertanyaan yang mengganjal saat ada yang non nasrani bertanya pada saya jika dalam kristus segalanya bisa , seperti halnya Tuhan merendahkan dan rela menghinakan dirinya dengan menjelman menjadi manusia yang notabennya makhluk yang lemah, tidak ada yg mustahil bagi Tuhan, yg mengganjal saat dia bertanya jika tidak ada yang mustahil, bisakah Tuhan menciptakan makhluk yang lebih kuat, berkuasa lebih maha dan lebih hebat dari dia ?

Zabil salahuddin
Guest

Selamat siang dan Salam sejahtra .semuanya.terus terang sampai saat ini Saya belum tahu siapa tuhan sebenarnya .dan sampai saat ini saya masih belum menentukan siapa TUHAN saya

Pencari kebenaran
Guest
Pencari kebenaran

Kalau menurut saya, justru kita perlu membaca dari berbagai sumber agar Iman kita lebih objective. Iman tidak perlu dipaksakan secara membuta, kalau memang meragukan ya kita perlu review lagi sampai kita mantap dengan iman kita atau mungkin sebaliknya, tapi itulah proses mencari Keyakinan diri. Kalau kita belajar hanya dari sumber gereja saja jelas semua sudah diarahkan agar tidak melenceng dengan yang sudah diimani. Masalahnya kita semua ingin yakin apakah yang kita imani ini benar adanya? Hidup kita memang sangat singkat, oleh karenanya jangan sampai salah seumur hidup. Submitted on 2011/11/17 at 10:45am Iman itu suatu yang tidak bisa dibuktikan, dan… Read more »

sasa
Guest
sasa

Ok. Sekarang saya percaya kepada Tuhan, tapi satu Tuhan atau banyak tuhan? Dari lima pembuktian ini, mungkin ada orang yang mengatakan. Ok, saya percaya ada Tuhan, tapi saya juga percaya ada banyak tuhan. Untuk menjawab hal ini, kita melihat pada pembuktian ke-empat, yang menujukkan tidaklah mungkin kalau ada banyak tuhan, karena kalau banyak, pasti yang satu lebih atau kurang dari yang lain. Padahal, kalau Tuhan itu adalah “Maha secara absolut”, maka hanya dapat disimpulkan bahwa “Tuhan itu adalah Satu atau Esa“. saya sangat sependapat dengan pernyataan di atas ini,,.. Bahwa tuhan itu satu,, saya seorang muslim,, yang didalam alkitab saya… Read more »

keho
Guest
keho

mantap ya web ini… b-.-d
meskipun gw agnostik, tapi gw nyaman dengan caranya ngejawab pertanyaan2… pertahankan! wkwkwk…

fxe
Guest
fxe

“Namun sebenarnya dengan akal budi, kita dapat membuktikan bahwa Tuhan ada.”

Menurut saya:
Dengan akal-budi manusia dapat mengerti / mengetahui keberadaan Tuhan dengan yakin,
dgn “convincing argument” KGK31
Bahwa keberadaan Tuhan tidak berlawanan dengan akal budi.

Tapi “membuktikan” keberadaan Tuhan dalam tolok-ukur umum (natural-science) tidaklah bisa kan..
Bandingkan dgn ilmuwan membuktikan bahwa our universe (dgn semua dimensinya) ternyata tidak statis ,
tetapi sedang mengembang terus..

Tapi kaum atheist yg menolak keberadaan Tuhan , tidaklah bisa membuat “convincing argument”
yg mendukung “ketidak-adaan Tuhan”. Karena “ketidak-adaan Tuhan” tidak sejalan dgn akal-budi.

Tapi kedua pihak, theist dan atheist tidak bisa “membuktikan” (dalam general sense/natural science)
akan klaim mereka masing-masing.

Andreas Hapsoro
Guest
Andreas Hapsoro

Lebih baik percaya saja sama Tuhan….saya lebih memilih percaya dan memilih Tuhan Yesus sebagai penyelamat.

Kalaupun suatu hari nanti ada bukti bahwa Tuhan tidak ada…ya ngga papa toh?? Nothing to lose……atau tiba2 ada alien2 berbentuk energi atau apa yg turun ke bumi dan membuktikan bahwa merekalah yang mengatur manusia, bumi selama ini…..there’s no heaven…no life after death…..so what?
jadi kita seumur hidup percaya…tapi ternyata Tuhan tidak ada..ternyata kita salah……so what?

Namun kalau kebalikannya gimana? Seumur hidup tidak percaya Tuhan tapi pada akhirnya terbukti bahwa ternyata Tuhan benar-benar ada…..lebih sial kan? we’re screwed man……

So…berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya!

johannes yus
Guest
johannes yus

syalom saudara menurut saya ketika kita ma dan dengan sadar sesadar sadarnya akan keterbatasan kita dankebodohan serta kekebalan kita (BEBAL-HATI YG MENGERAS)betapa tuhan allah kita begitu sangat baik allah yang kita kenal dalam nama yesus kita diberi perangkat lunak yang sederhana tapi sangat sangat tepat benar dan tidak mungkin tersesat menurut sayauntuk menemukan tuhan mungkin saking merasa lebih cerdas dari pada tuhan sudah diberi perangkat untuk menemukan dia yaitu FIRMAN(ALKITAB)dan ROH KUDUS dua perangkat sangat sederhana sudah dibuktikan kalangan gereja kristsen kharismatik lewat karunia karuniaROH,MUKJISAT,PEMULIHAN KEHIDUPAN SESEORANGdan KESAKSIANyang banyak tapi audaraku dikhatholik malah suka me yg mengaku pendeta itu terbukalah… Read more »

johanes
Guest
johanes

@yohannes yus: Anda sepertinya dalam masa honey moon dengan gereja baru anda. begitu menggebu-gebu….dan fanatis dan anti Katolik….. Jangan anggap anda mengerti alkitab, karna sebelum alkitab sampai di tangan anda, Gereja Katolik sudah membacanya ribuan kali bolak-balik dari kejadian sampai wahyu.karena setiap tiga tahun liturgi sekali Gereja sudah menamatkan seluruh alkitab dalam setiap kali misa….. Jangan [edit: terlalu yakin] bahwa diri anda penuh Roh Kudus karena Roh Kudus tidak melahirkan pertentangan dan perpecahan…….Roh Kudus nyata bekerja dalam pribadi2 rendah hati seperti ibu Teresa Calcuta, Paus Yohanes Paulus II dan bukan bekerja pada pribadi pribadi yang anggkuh dan sombong iman…… Jangan… Read more »

Lukas Cung
Guest
Lukas Cung

Saudara Johanes,

Seru ya diskusi di atas!… Seperti talk show di tv-tv kita saja… Sangat menarik dan berguna untuk dibaca…. Tampil 2 narasumber…. Tampil 2 pihak dengan dasarnya masing-masing… Maka, dari kedua narasumber ini, dengan mudah saya bisa melihat sesungguhnya kebenaran ada di mana…

Setuju Saudara?

Salam,
Lukas Cung

johanes
Guest
johanes

@Lukas Cung,
Pastilah kita tahu mana yang benar dan terstruktur dengan rapi dan benar dengan dasar Kitab Suci dan mana yang ngaco baik dari segi uraian, maupun pemakaian bahasa yang ngaco juga.Bukan tambah mengerti malah kita yang membacanya bertambah bingung dan hanya bisa berdoa semoga pada akhirnya Tuhan menunjukkan kembali jalan kepada domba yang hilang ini….Entah bagaimana caranya Tuhan bekerja…kita serahkan saja padaNya…..

Lodewijk
Guest
Lodewijk

[dari admin: saya berikan penomoran, sehingga mudah untuk berdiskusi] Salam dalam Tuhan! Beberapa waktu yang lalu teman Katolik saya yang eks Buddhis menunjukan pada saya artikel ini… A: KEBERADAAN TUHAN, TUHAN YANG MAHA TAHU – KEHENDAK BEBAS – JAWABAN: SILAKAN KLIK – JAWABAN: SILAKAN KLIK Kita telah melihat bahwa argumen-argumen yang digunakan untuk membuktikan keberadaan Tuhan itu tidaklah pantas. Sekarang kita akan menunjukkan bahwa Tuhan yang Maha Tahu, Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Kuasa seperti yang dimiliki oleh orang Theis itu tidak mungkin ada. Problema Kebebasan Kehendak Untuk menghidupi kehidupan beragama yang berarti, kita harus memiliki kebebasan kehendak, kita harus… Read more »

Carol
Guest
Carol

Saya sangat senang untuk membaca inforasi ini untuk meningkatkan pengetahuan saya.
Disini saya sangat menharapkan kalau ada yang bisa membatu saya dan mengirimkan informasi dengan topik Pengajaran Prinsip prinsip Sosial katolik, kalau ada Module pelatihan lebeh baik.

Saya sangat mengharapkan nya

Tuhan Beserta kita

Ingrid Listiati
Member

Shalom Carol,
Pertama-tama, mohon maaf karena kami belum menuliskan artikel tentang Prinsip Etika Sosial dalam Gereja Katolik, karena terus terang kami baru mengambil mata kuliah tersebut semester ini. Namun di waktu mendatang, ya akan kami tuliskan.
Mohon pengertiannya, ya Carol.

Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati

abeth
Member
abeth

Aku ada distiap waktu dan disetiap tempat,aku adalah siang aku jg malam ,aku yg terang aku jg yg gelap,akulah masa lampau aku jg masa depan.Aku adalah keadilan aku jg ketidak adilan,aku kebaikan jg kejahatan.Aku hina aku jg yg mulia, aku menghidupkan aku yg akan memusnahkan.Aku yg paling sengsara aku jg yg paling bahagia,aku yg tertinggi aku jg yg terendah.Aku bisa apa saja,aku adalah api akulah tanah aku adalah air aku jg angin.Akulah adalag kehampaan,kehancuran,kedamaian,keindahan,kehidupan ,keabadian dan kematian………………!!!!!!!!!!!! Lalu siapakah Akuuuuuuuuu……???????????????? [dari katolisitas: Menurut saya, “aku” yang Anda tanyakan adalah “aku” yang mengkontradiksi dirinya sendiri. Oleh karena itu, “aku” tersebut bukanlah… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X