Apakah Yesus lahir tanggal 25 Desember?

Ada banyak orang mempertanyakan, apakah benar Tuhan Yesus Kristus lahir di dunia tanggal 25 Desember? Sejumlah orang kemudian membuat banyak teori, yang seolah-olah ingin menunjukkan bahwa hari raya Natal di tanggal 25 Desember berasal dari kebiasaan kafir. Apakah benar demikian?

Keberatan dan tanggapan tentang perayaan Natal 25 Desember

Berikut ini adalah penjelasan yang kami sarikan dari buku karangan Taylor Marshall, The Eternal City: Rome and Origins of Catholic Christianity, ((Link:  http://taylormarshall.com/2012/12/yes-christ-was-really-born-on-december.html)), [teks dalam kurung adalah tambahan dari Katolisitas]:

Gereja Katolik, setidaknya sejak abad kedua, telah mengklaim bahwa Kristus lahir di tanggal 25 Desember. Meskipun demikian, ada banyak pendapat bahwa Tuhan kita Yesus Kristus tidak lahir pada tanggal itu. Berikut ini adalah tiga macam keberatan yang umum terhadap tanggal tersebut, dan  tanggapan atas masing-masing keberatan itu:

Keberatan 1: Tanggal 25 Desember dipilih untuk mengganti festival pagan Romawi, yang dinamakan Saturnalia. Saturnalia adalah festival musim dingin yang populer, sehingga Gereja Katolik dengan bijak menggantikannya dengan perayaan Natal.

Tanggapan atas Keberatan 1: Saturnalia adalah peringatan winter solstice, yaitu titik terjauh matahari dari garis khatulistiwa bumi. Namun demikian titik winter solstice jatuh pada tanggal 22 Desember. Memang benar bahwa perayaan Saturnalia dapat dimulai sejak tanggal 17 Desember sampai 23 Desember. Tetapi dari tanggalnya sendiri, tidak cocok [tidak ada kaitannya dengan tanggal 25 Desember].

Keberatan 2: Tanggal 25 Desember dipilih untuk menggantikan hari libur Romawi, Natalis Solis Invicti, yang artinya, “Kelahiran dari Matahari yang tak Terkalahkan” [atau dikenal sebagai kelahiran dewa matahari]

Tanggapan atas Keberatan 2: Pertama-tama, mari memeriksa kultus Matahari yang tak Terkalahkan. Kaisar Aurelian memperkenalkan kultus Sol Invictus atau Matahari yang tak Terkalahkan di Roma tahun 274. Aurelian mendirikan pergerakan politik dengan kultus ini, sebab namanya sendiri Aurelian, berasal dari kata Latin aurora, yang artinya “matahari terbit”. Uang logam koin masa itu menunjukkan bahwa Kaisar Aurelian menyebut dirinya sendiri sebagai Pontifex Solis atau Pontiff of the Sun (Imam Agung Matahari). Maka Kaisar Aurelian mendirikan kultus matahari itu dan mengidentifikasikan namanya dengan dewa matahari, di akhir abad ke-3.

Yang terpenting, tidak ada bukti historis tentang adanya perayaan Natalis Sol Invictus pada tanggal 25 Desember, sebelum tahun 354. Dalam sebuah manuskrip yang penting di tahun 354, terdapat tulisan bahwa tanggal 25 Desember tertulis, “N INVICTI CM XXX.” Di sini N berarti “nativity/ kelahiran”. INVICTI artinya “Unconquered/ yang tak terkalahkan”. CM artinya, “circenses missus/ games ordered/ permainan yang ditentukan/ diperintahkan.” Angka Romawi XXX sama dengan tiga puluh. Maka tulisan tersebut artinya ialah 30 permainan yang ditentukan untuk kelahiran Yang tak terkalahkan, pada tanggal 25 Desember. Perhatikan bahwa di sini kata “matahari” tidak disebutkan. [Maka bagaimana dapat dipastikan bahwa itu mengacu kepada dewa matahari?].  Selanjutnya, naskah kuno tersebut juga menyebutkan, “natus Christus in Betleem Iudeae/ kelahiran Kristus di Betlehem, Yudea” di tanggal 25 Desember itu. ((The Chronography of AD 354. Part 12: Commemorations of the Martyrs.  MGH Chronica Minora I (1892), pp. 71-2.))

Tanggal 25 Desember baru menjadi hari “Kelahiran Matahari yang tak terkalahkan” sejak pemerintahan  kaisar Julian yang murtad. Kaisar Julian pernah menjadi Kristen, tetapi telah murtad dan kembali ke paganisme Romawi. Sejarah menyatakan bahwa Kaisar Julian itulah yang menentukan hari libur pagan tanggal 25 Desember… Ini menyatakan apa?

Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa “Matahari yang tak terkalahkan” bukanlah dewa yang popular di kekaisaran Romawi [sebab sebenarnya bukan dewa, tetapi suatu karakter yang dihubungkan dengan kaisar tertentu.] …Lagi pula, tradisi perayaan pada tanggal 25 Desember tidak ada dalam kalender Romawi sampai setelah Roma menjadi negara Kristen. Kelahiran Sang Matahari yang Tak Terkalahkan adalah sesuatu yang jarang dikenal dan tidak popular. Perayaan Saturnalia yang disebut di atas lebih popular … Sepertinya, lebih mungkin bahwa Kaisar Julian yang murtad itulah yang berusaha untuk memasukkan hari libur pagan, untuk menggantikan perayaan Kristen.

[Tambahan dari Katolisitas:

Maka penghubungan tanggal 25 Desember dengan perayaan agama pagan, itu sejujurnya adalah hipotesa. Silakan Anda klik di Wikipedia, bahwa penghormatan kepada dewa Sol Invictus di kerajaan Romawi, itu dimulai tanggal 274 AD. Maka penghormatan umat Kristen kepada Kristus, Sang Terang Dunia (Yoh 9:5), itu sudah ada lebih dulu daripada penghormatan kepada dewa Sol Invictus/ dewa matahari kerajaan Romawi. Nyatanya memang ada sejumlah orang yang menghubungkan peringatan kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember dengan perayaan dewa Sol Invictus itu. Sumber Wikipedia itu sendiri ((Link: https://en.wikipedia.org/wiki/Sol_Invictus#Sol_Invictus_and_Christianity_and_Judaism)) menyatakan bahwa hipotesa ini secara serius layak dipertanyakan. Bukti prasasti di zaman Kaisar Licinius, menuliskan bahwa perayaan dewa Sol itu jatuh tanggal 19 Desember. Prasasti tersebut juga menyebutkan persembahan kepada dewa Sol itu dilakukan di tanggal 18 November. (Wallraff 2001: 174–177). Bukti ini sendiri menunjukkan adanya variasi tanggal perayaan dewa Sol, dan juga bahwa perayaannya tersebut baru marak dilakukan di abad ke-4 dan 5, jauh setelah zaman Kristus dan para Rasul. Dengan demikian, pandangan yang lebih logis adalah bahwa para kaisar itu yang “mengadopsi” perayaan Natal 25 Desember sebagai perayaan dewa matahari-nya mereka, daripada kita umat Kristen yang mengadopsinya dari mereka.]

Keberatan 3: Kristus tidak mungkin lahir di bulan Desember sebab St. Lukas menjabarkan bahwa para gembala menggembalakan domba-domba di padang Betlehem. Gembala tidak menggembalakan pada saat musim dingin. Maka Kristus tidak mungkin lahir di musim dingin.

Tanggapan terhadap Keberatan 3: Palestina bukan Inggris atau Rusia atau Alaska. Betlehem terletak di lintang 31.7 [dari garis khatulistiwa, lebih dekat sedikit ke khatulistiwa daripada kota Dallas, Texas di Amerika, 32.8]. Adalah masih nyaman untuk berada di luar di bulan Desember di Dallas, [maka demikian juga dengan di Betlehem]. Sebab di Italia, yang terletak di garis lintang yang lebih tinggi dari Betlehem, seseorang masih dapat menggembalakan domba di akhir bulan Desember.

Penentuan kelahiran Kristus berdasarkan Kitab Suci

Penentuan kelahiran Kristus berdasarkan Kitab Suci, terdiri dari 2 langkah. Pertama adalah menentukan kelahiran St. Yohanes Pembaptis. Langkah berikutnya adalah menggunakan hari kelahiran Yohanes Pembaptis sebagai kunci untuk menentukan hari kelahiran Kristus. Kita dapat menemukan bahwa Kristus lahir di akhir Desember dengan mengamati kali pertama dari tahun itu, yang disebutkan oleh St. Lukas, St. Zakaria melayani di bait Allah. Ini memberikan kepada kita perkiraan tanggal konsepsi St. Yohanes Pembaptis. Dari sini dengan mengikuti kronologis yang diberikan oleh St. Lukas, kita sampai pada akhir Desember sebagai hari kelahiran Yesus.

St. Lukas mengatakan bahwa Zakaria melayani pada ‘rombongan Abia’ (Luk 1:5). Kitab Suci mencatat adanya 8 rombongan di antara 24 rombongan imamat (Neh 12:17). Setiap rombongan imam melayani satu minggu di bait Allah, dua kali setahun. Rombongan Abia melayani di giliran ke-8 dan ke-32 dalam siklus tahunan. Namun bagaimana siklus dimulai?

Josef Heinrich Friedlieb telah dengan meyakinkan menemukan bahwa rombongan imam pertama, Yoyarib, bertugas sepanjang waktu penghancuran Yerusalem pada hari ke-9 pada bulan Yahudi yang disebut bulan Av. ((Josef Heinrich Friedlieb’s Leben J. Christi des Erlösers. Münster, 1887, p. 312.)) Maka masa rombongan imamat Abia (yaitu masa Zakaria bertugas) melayani adalah minggu kedua bulan Yahudi yang disebut Tishri, yaitu minggu yang bertepatan dengan the Day of Atonement, hari ke-10. Di kalender kita, the Day of Atonement dapat jatuh di hari apa saja dari tanggal 22 September sampai dengan 8 Oktober.

Dikatakan dalam Injil bahwa Elisabet mengandung ‘beberapa lama kemudian/ after these days‘ setelah masa pelayanan Zakaria (lih. Luk 1:24). Maka konsepsi St. Yohanes Pembaptis dapat terjadi sekitar akhir September, sehingga menempatkan kelahiran St. Yohanes Pembaptis  di akhir Juni, meneguhkan perayaan Gereja Katolik tentang Kelahiran St. Yohanes Pembaptis tanggal 24 Juni.

Buku Protoevangelium of James dari abad ke-2 menggambarkan St. Zakaria sebagai imam besar dan memasuki tempat maha kudus…. dan ini mengasosiasikan dia dengan the Day of Atonement, yang jatuh di tanggal 10 bulan Tishri (kira-kira akhir September). Segera setelah menerima pesan dari malaikat Gabriel, Zakaria dan Elizabet mengandung Yohanes Pembaptis. Perhitungan empat puluh minggu setelahnya, menempatkan kelahiran Yohanes Pembaptis di akhir Juni, meneguhkan perayaan Gereja Katolik tentang Kelahiran St. Yohanes Pembaptis tanggal 24 Juni.

Selanjutnya… dikatakan bahwa sesaat setelah Perawan Maria mengandung Kristus, ia pergi untuk mengunjungi Elisabet yang sedang mengandung di bulan yang ke-6. Artinya umur Yohanes Pembaptis 6 bulan lebih tua daripada Yesus Kristus (lih. Luk 1:24-27, 36). Jika 6 bulan ditambahkan kepada 24 Juni maka diperoleh 24-25 Desember sebagai hari kelahiran Kristus. Jika tanggal 25 Desember dikurangi 9 bulan, diperoleh hari peringatan Kabar Gembira (Annunciation) yaitu tanggal 25 Maret… Maka jika Yohanes Pembaptis dikandung segera setelah the Day of Atonement, maka tepatlah penanggalan Gereja Katolik, yaitu bahwa kelahiran Yesus jatuh sekitar tanggal 25 Desember.

Selain itu Tradisi Suci juga meneguhkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Tuhan Yesus. Sumber dari Tradisi tersebut adalah kesaksian Bunda Maria sendiri. Sebagai ibu tentu ia mengetahui dengan rinci tentang kelahiran anaknya [dan ini yang diteruskan oleh para rasul dan para penerus mereka]. Bunda Maria pasti mengingat secara detail kelahiran Yesus ini yang begitu istimewa, yang dikandung tidak dari benih laki-laki, yang kelahirannya diwartakan oleh para malaikat, lahir secara mukjizat dan dikunjungi oleh para majus.

Sebagaimana umum bahwa orang bertanya kepada orangtua yang membawa bayi akan umur bayinya, demikian juga orang saat itu akan bertanya, “berapa umur anakmu?” kepada Bunda Maria. Maka tanggal kelahiran Yesus 25 Desember (24 Desember tengah malam), akan sudah diketahui sejak abad pertama. Para Rasul pasti akan sudah menanyakan tentang hal ini dan baik St. Matius dan Lukas mencatatnya bagi kita. Singkatnya, adalah sesuatu yang masuk akal jika para jemaat perdana telah mengetahui dan merayakan kelahiran Yesus, dengan mengambil sumber keterangan dari ibu-Nya.

Kesaksian berikutnya adalah dari para Bapa Gereja abad-abad awal (abad 1 sampai awal abad 4) di masa sebelum pertobatan Kaisar Konstantin dan kerajaan Romawi. Para Bapa Gereja tersebut telah mengklaim tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Kristus.

Catatan yang paling awal tentang hal ini adalah dari Paus Telesphorus (yang menjadi Paus dari tahun 126-137), yang menentukan tradisi Misa Tengah malam pada Malam Natal… Kita juga membaca perkataan Teofilus (115-181) seorang Uskup Kaisarea di Palestina: “Kita harus merayakan kelahiran Tuhan kita pada hari di mana tanggal 25 Desember harus terjadi.” ((Magdeburgenses, Cent. 2. c. 6. Hospinian, De origine Festorum Christianorum.))

Tak lama kemudian di abad kedua, St. Hippolytus (170-240) menulis demikian: “Kedatangan pertama Tuhan kita di dalam daging terjadi ketika Ia dilahirkan di Betlehem, di tanggal 25 Desember, pada hari Rabu, ketika Kaisar Agustus memimpin di tahun ke-42, …. Ia [Kristus] menderita di umur tiga puluh tiga, tanggal 25 Maret, hari Jumat, di tahun ke-18 Kaisar Tiberius, ketika Rufus dan Roubellion menjadi konsul. ((St. Hippolytus of Rome, Commentary on Daniel.))

Dengan demikian tanggal 25 Maret menjadi signifikan, karena menandai hari kematian Kristus (25 Maret sesuai dengan bulan Ibrani Nisan 14- tanggal penyaliban Yesus. Kristus, sebagai manusia sempurna- dipercaya mengalami konsepsi dan kematian pada hari yang sama, yaitu tanggal 25 Maret…Maka tanggal 25 Maret dianggap istimewa dalam tradisi awal Kristiani. 25 Maret ditambah 9 bulan, membawa kita kepada tanggal 25 Desember, yaitu kelahiran Kristus di Betlehem.

St. Agustinus meneguhkan tradisi 25 Maret sebagai konsepsi Sang Mesias dan 25 Desember sebagai hari kelahiran-Nya: “Sebab Kristus dipercaya telah dikandung di tanggal 25 Maret, di hari yang sama saat Ia menderita; sehingga rahim Sang Perawan yang di dalamnya Ia dikandung, di mana tak seorang lain pun dikandung, sesuai dengan kubur baru itu di mana Ia dikubur, di mana tak seorang pun pernah dikuburkan di sana, baik sebelumnya maupun sesudahnya. Tetapi Ia telah lahir, menurut tradisi, di tanggal 25 Desember.” ((St. Augustine, De Trinitate, 4, 5.))

Di sekitar tahun 400, St. Agustinus juga telah mencatat bagaimana kaum skismatik Donatist merayakan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Kristus, tetapi mereka menolak merayakan Epifani di tanggal 6 Januari, sebab mereka menganggapnya sebagai perayaan baru tanpa dasar dari Tradisi Apostolik. Skisma Donatist berasal dari tahun 311, dan ini mengindikasikan bahwa Gereja Latin telah merayakan hari Natal pada tanggal 25 Desember sebelum tahun 311. Apapun kasusnya, perayaan liturgis kelahiran Kristus telah diperingati di Roma pada tanggal 25 Desember, jauh sebelum Kristianitas dilegalkan dan jauh sebelum pencatatan terawal dari perayaan pagan bagi kelahiran Sang Matahari yang tak Terkalahkan. Untuk alasan ini, adalah masuk akal dan benar untuk menganggap bahwa Kristus benar telah dilahirkan di tanggal 25 Desember, dan wafat dan bangkit di bulan Maret, sekitar tahun 33.

Sedangkan tentang perhitungan tahun kelahiran Yesus, menurut Paus Benediktus XVI dalam bukunya Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives, adalah sekitar tahun 7-6 BC. Paus mengutip pandangan seorang astronomer Wina, Ferrari d’ Occhieppo, yang memperkirakan terjadinya konjungsi planet Yupiter dan Saturnus yang terjadi di tahun 7-6 BC (yang menghasilkan cahaya bintang yang terang di Betlehem), yang dipercaya sebagai tahun sesungguhnya kelahiran Tuhan Yesus. ((Pope Benedictus XVI,  Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives, kindle version, loc. 1097-1101))

 

27/04/2018

69
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
30 Comment threads
39 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
37 Comment authors
yanuarhadapetrusRydwanbasilius parwantokrisna Recent comment authors
trackback

[…] Penjelasan lengkap tentang hal ini dapat dibaca di sini – silakan klik. […]

yanuarhada
Member
yanuarhada

salam Katolisitas…
Bagaimana kita menanggapi pernyataan Bapa Suci Paus Benediktus XVI yang tersebar di media bahwa kelahiran YESUS bukan tanggal 25 Desember ?.

[Dari Katolisitas: Silakan membaca jawaban ini, silakan klik]

petrus
Member
petrus

Salam Kasih Tuhan Yesus, Berbicara tentang Peringatan hari Lahir dan wafat Yesus Kristus, tentang kelahiran Yesus tidak seorang pun yang tahu persisnya, puji Tuhan peringatan itu tetap ada hingga sekarang. Karena Mesias baru muncul pada tahun ke tiga puluh (Masahi). Kita tidak perlu berpolemik tentang kapan tepatnya Yesus lahir dan bulan apa Yesus di Salib. Yang terpenting bagi kita adalah makna kelahiran Kristus Yesus dan Wafat Kristus Yesus. Tetapi untuk sekedar diketahui saja perkiraan bulan kelahiran Kristus Yesus menurut Injil Lukas 1:26 Dalam bulan yang ke enam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi kesebuah kota di Galilea bernama Nazaret. ay 27,… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Petrus, Gereja Katolik tidak menghubungkan frasa “Dalam bulan yang ke-enam” (Luk 1:26) dengan bulan ELUL. Sebab ayat itu (Luk 1:26) tidak berdiri sendiri namun merupakan kelanjutan dengan ayat sebelumnya, yaitu ayat 24 dan 25, sehingga demikian: “Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya: “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.” Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria….” (Luk 1:24-27)… Read more »

Rydwan
Guest
Rydwan

Saya mau nanya Ditulisan Bapak dan Ibu mengatakan bahwa yesus meninggal bulan maret tapi di kalender selalu Yesus meninggalnya dibulan April dan perayaan paskah selalu bulan April bagaimana nih perhitungan kalendernya?

Ingrid Listiati
Member

Shalom Rydwan,

Para ahli memperkirakan bahwa Yesus wafat di salib pada tanggal 14 Nisan menurut kalender Ibrani, yang kalau dikonversikan ke kalender kita sekarang (kalender Gregorian) adalah sekitar tanggal 25 Maret (jika mengambil tahun 31 AD). Silakan Anda gunakan tabel konversi yang ada di beberapa situs, yang kurang lebih menyatakan demikian. Jika Jumat Agung jatuh tanggal 25 Maret, maka Paskah adalah 27 Maret saat itu.

Nah, sedangkan mengapa perayaan Paskah di masa sekarang jatuh antara tanggal 22 Maret sampai 25 April, pernah dijelaskan secara sekilas di jawaban ini, silakan klik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

basilius parwanto
Guest
basilius parwanto

tahun Anno Dominum itu maksudnya tahun apa?

Ingrid Listiati
Member

Shalom Basilius, Anno Domini (AD) secara harafiah artinya adalah Dalam Tahunnya Tuhan (In the Year of the Lord), atau sering dihubungkan secara khusus dengan Kristus, Anno Domini Nostri Iesu (Jesu) Christi (“In the Year of Our Lord Jesus Christ”). Tahun ini dipergunakan dalam dalam penghitungan kalender Julian dan Gregorian, di mana tahun AD dihitung sebagai awal perhitungan tahun dalam sistem kalender mereka. Maka tahun AD ini membagi sejarah manusia menjadi dua bagian, yaitu BC/ Before Christ / Sebelum Masehi, dan AD/ Anno Domini/ Setelah Masehi. Tidak ada tahun 0 di sini, yang ada setelah 1 BC adalah 1 AD. Sistem… Read more »

Irwan Saragih, paroki Leo Agung, Jakarta
Guest
Irwan Saragih, paroki Leo Agung, Jakarta

Dear Katolisitas, Topik ini menunjukkan perlunya METODE membaca KS: KS tidak untuk dibaca sebagai semacam ensiklopedia, atau untuk replika masa silam, atau kitab ilmu pengetahuan atau kitab ilmu sejarah, tetapi pada hakekat atau pesan moral pedagogis yang hendak dikandungnya. Taurat dan Injil (Yesus) sudah memberikan pedoman membaca KS: Hukum Kasih sebagai HUKUM TERTINGGI, DASAR segala hukum dan KS. Orang yg berpegang pada hukum tertinggi atau dasar KS itu, tidak bingung hal akurasi tanggal atau akar tradisi Natal itu. Sejauh Natal itu didasarkan pada hukum tertinggi yaitu demi KASIH KEPADA TUHAN (baca: untuk memuliakan Tuhan) dan untuk kasih kepada sesama (baca:… Read more »

krisna
Guest
krisna

Saya sudah beberapa kali membaca posting anda ( Irwan Saragih) Selalu berpusat pada hukum kasih… Menurut saya hukum kasih itu harus di dasarkan pada pengertian menurut ajaran Gereja Katolik…. Hukum kasih tidak bisa di lepaskan dari ajaran Gereja Katolik… Ketaatan terhadap ajaran Gereja Katolik merupakan salah satu bentuk hukum kasih… Tanpa ketaatan sangat mustahil bisa membentuk hukum kasih… Hukum kasih juga harus di dasarkan pada kebenaran sejati yang bersumber dari ajaran Gereja Katolik… Jika anda sulit untuk tunduk ( ketaatan) kepada ajaran Gereja Katolik maka anda tidak mencerminkan hukum kasih itu sendiri… Karena Gereja Katolik lah yang menjabarkan hukum kasih… Read more »

chairul daniel
Guest
chairul daniel

Menurut injil yang pernah saya baca yesus memang lahir dari seorang perawan maria. Tapi tanggal kelahirannya tidak dicatat oleh sejarah karena, kelahiran yesus sebagai musuh pemerintah herodes waktu itu. Dan injil mencatat bahwa waktu itu gembala gembala sedang mengembalakan dombanya sampai petang hari. Bagaimana bisa mengembalakan domba sampai petang hari kalau tanggal 25 desember itu adalah musim salju? Dan lagi bintang bintang dilangit bercahaya memberitakan kelahir putra allah itu? Menurut pendapat saya dalam kita meyakini sesuatu harus jelas akan kebenarannya. Kalau kita ragu ragu nanti kita ragu ragu juga diselamatkan oleh tuhan, bukan? Yesus ada mengirimkan pesan seberapa banyak kali… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Chairul,  Pertanyaan serupa sudah pernah ditanyakan dan kami tanggapi, silakan klik untuk membacanya. Menurut St. Yohanes Krisostomus, tanggal kelahiran Yesus, memang adalah tanggal 25 Desember dihitung dari kelahiran Yohanes Pembaptis. Karena Zakaria, ayah Yohanes Pembaptis, adalah imam agung yang memimpin ibadah pada hari Atonement yang jatuh sekitar tanggal 24 September (pada saat ia menerima kabar dari malaikat bahwa istrinya Elisabet akan mengandung). Yohanes Pembaptis lahir 9 bulan sesudahnya, yaitu tanggal 24 Juni; dan Kristus lahir enam bulan setelahnya, yaitu tanggal 25 Desember (sumber: New Catholic Encyclopedia, Vol. 3: Can-Col, 2nd ed. (Gale Cengage, 2002), p.655-656). Kelahiran Yohanes Pembaptis yang… Read more »

Alex
Guest
Alex

Perayaan natal sudah muncul dalam penglihatan nabi Yesaya dlm Yes 60:13. Jika kita membaca kitab suci dengan teliti, maka natal memang layak dirayakan. Naskah peristiwa natal sangat memadai. Dari injil Mat ttg silsilah Yesus: yg lahir di hari itu Yesus, yg paling besar diantara seluruh keturunan Abraham bahkan lebih besar dari Abraham. Dari injil Lukas: di hari itu sejumlah besar bala tentara sorga tampak memuji Allah yg berinkarnasi. Berbahagialah kita yg merayakannya bersama laskar surgawi. Iman, kasih, dan pengharapan menggerakkan jiwa raga kita hadir dalam ekaristi kudus di hari natal, bukan di mall atau acara hura2 lainnya.

Yohanes Hendy
Guest
Yohanes Hendy

Berkah Dalem saudara admin.. Mau tanya, Apakah benar Yesus tidak dilahirkan tanggal 25 Desember? Trimakasih [Dari Katolisitas: Menurut St. Yohanes Krisostomus, Natal memang jatuh pada tanggal 25 Desember, dengan perhitungan kelahiran Yohanes Pembaptis. Karena Zakaria, ayah Yohanes Pembaptis, adalah imam agung yang memimpin ibadah pada hari Atonement yang jatuh sekitar tanggal 24 September (pada saat ia menerima kabar dari malaikat bahwa istrinya Elisabet akan mengandung). Yohanes Pembaptis lahir 9 bulan sesudahnya, yaitu tanggal 24 Juni; dan Kristus lahir enam bulan setelahnya, yaitu tanggal 25 Desember (sumber: New Catholic Encyclopedia, Vol. 3: Can-Col, 2nd ed. (Gale Cengage, 2002), p.655-656). Selanjutnya, silakan… Read more »

Alvin
Guest
Alvin

artikelnya lumayan bagus, tapi ada yang ingin saya tanyakan… adakah dasar dalam alkitab atau perintah untuk merayakan natal??? jika tidak memiliki dasarnya dan perintah dalam alkitab. jadi ajaran dari manakah ini… Perayaan natal baru ada dalam ajaran Kristen Katholik Roma pada abad ke 4 dan ini pun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Dimana pada abad ke 1 sampai abad ke 4 M masih dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politheisme. natal itu bukan ajaran bibel (alkitab), dan Yesus pun tidak pernah memerintah para muridnya untuk menyelenggarakannya. natal yang katanya ibadah yang paling sakral, paling populer. Tetapi sungguh ironis… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Alvin, Tidak ada yang menyatakan bahwa Alkitab menyatakan bahwa perayaan Natal adalah tanggal 25 Desember. Walaupun tidak disebutkan tanggal 25 Desember, namun adalah fakta bahwa Kristus telah lahir dan masuk dalam sejarah umat manusia. Oleh karena itu, di abad-abad awal, banyak para pemikir Gereja yang mencoba menentukan kapan Kristus lahir. Namun, para pemikir tersebut memperoleh kesimpulan berbeda-beda. Beberapa pemikir yang mencoba untuk menghitung tanggal kelahiran Kristus adalah Clement of Alexandria (150-215), Hippolytus (170-235), dll. Dalam kotbah St. Gregorius dari Nissa (335-395) tentang St. Basil (329-379), disebutkan bahwa mereka telah merayakan Natal tanggal 25 Desember. Yohanes Krisostomus juga merayakan Natal… Read more »

Yohanes Salim
Guest
Yohanes Salim

Saya bingung, merayakan kelahiran Tuhan Yesus apakah boleh dilakukan?
Bukankah itu kelakuan kaum kafir yg suka merayakan kelahiran Tuhan/Raja mereka?

Didalam Alkitab memang tidak ada perintahnya tetapi jangan salah justru ada beberapa ayat yang melarang praktek merayakan kelahiran!
Termasuk merayakan hari ulang tahun bagi diri kita maupun anak-anak kita.

Ingrid Listiati
Member

Shalom Yohanes Salim, Secara umum, sabda Tuhan mengajarkan kita agar kita bersuka cita setiap hari, karena Tuhan sudah menjadikan hari tersebut, “Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” (Mzm 118:24). Mazmur itu ditulis dalam konteks ucapan syukur atas berkat pertolongan dan penyertaan Tuhan atas bangsa Israel. Nah, sekarang berkat apakah yang terbesar bagi pasangan suami istri? Salah satunya adalah kelahiran anak di tengah mereka. Lihatlah pengalaman sejumlah wanita dalam Kitab Suci, yang tadinya mandul namun kemudian Tuhan berkenan mengaruniakan keturunan. Jika kelahiran adalah sesuatu yang buruk/ kutukan, tentu Kitab Suci tidak perlu mengisahkan suka cita mereka… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X