Apakah keselamatan yang sudah diperoleh melalui Pembaptisan dapat hilang?

Pertanyaan:

Salam damai sejahtera
Dear Ingrid
Kalau kita membahas tentang KESELAMATAN, selalu timbul pro kontra.
Sebagian orang mengatakan keselamatan bisa hilang, sebab itu harus dikerjakan baik2 supaya jangan sampai hilang.
Sebagian orang mempercayai bahwa kalau keselamatan itu anugerah Allah , pasti tidak mungkin akan hilang.
Semua argumen mempunyai ayat2 pendukung yang tertulis dalam Alkitab.

Saya sendiri percaya bahwa keselamatan itu bisa hilang, jika tidak dipelihara dengan se-baik2nya.
Bagaimana menurut Ingrid.
Terima kasih
Mac

Jawaban:

Shalom Machmud,

Ya, saya juga menyadari bahwa memang terdapat perbedaan interpretasi tentang bagaimana seseorang memperoleh keselamatan dan apakah keselamatan yang sudah diperoleh itu dapat hilang. Karena anda menanyakan apa yang menjadi pandangan saya, maka saya akan menuliskan apa yang menjadi pengajaran Gereja Katolik yang saya yakini benar dan paling dapat diterima, baik dari segi akal maupun dari dasar Alkitab-nya.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh karena anugerah Allah oleh iman kepada Yesus Kristus yang bekerja oleh kasih (lih. Ef 2:8 dan Gal 5:6), seperti yang telah saya tuliskan artikel di atas. Iman kepada Kristus adalah anugerah Allah, sehingga bukan merupakan hasil perbuatan manusia dari memenuhi hukum Taurat (seperti hukum sunat). Inilah yang berkali-kali ditekankan oleh Rasul Paulus dalam surat-suratnya dan konteks hukum Taurat-lah yang sering disebutnya sebagai adat istiadat manusia, karena kita mengetahui bahwa memang terdapat banyak ‘pengembangan’ hukum Taurat Musa sampai ke detail-detailnya yang dikecam oleh Yesus (Mat 15:1-20; Mrk 7:1-23). Hukum inilah yang tidak mempunyai kuasa untuk memberikan keselamatan, karena keselamatan hanya diperoleh melalui iman kepada Yesus Kristus Tuhan. Namun, iman kepada Kristus ini tidak dapat dipisahkan dari perbuatan kasih. Karena kasih merupakan kesatuan dan bukti dari iman kepada Kristus.

Berikut saya sampaikan cuplikan tanggapan saya terhadap komentar dari saudara kita yang non-Katolik tentang keselamatan (untuk selengkapnya silakan klik di sini):

Mari bersama kita melihat kembali kesimpulan yang disampaikan oleh saudara/i kita yang dari gereja Protestan: “Kita selamat hanya karena iman kepada Yesus Kristus. Perbuatan baik hanya merupakan bukti iman, dan kalau perbuatan baik itu tidak ada maka iman itu sebetulnya mati / tidak ada (Yak 2:17,26), tetapi bagaimanapun juga, perbuatan baik itu sama sekali tidak punya andil dalam keselamatan kita.” Sedangkan kalau menurut Gereja Katolik adalah demikian: Kita selamat hanya karena kasih karunia Allah oleh iman kepada Yesus Kristus (Ef 2:8). Perbuatan baik merupakan bukti iman, dan kalau perbuatan baik itu tidak ada, maka iman itu sebetulnya mati (lih. Yak 2:17, 26). Maka konsekuensi dari pernyataan ini adalah kita tidak dapat terlalu yakin bahwa “sekali selamat tetap selamat,” sebab kenyataannya, seseorang yang telah beriman sekalipun, tetap dapat jatuh dalam dosa dan gagal berbuat baik. Padahal orang yang gagal berbuat baik adalah orang yang tidak beriman (imannya ‘mati’), sedangkan orang yang tidak beriman tidak dapat diselamatkan. Maka perbuatan baik yang merupakan bukti iman yang hidup itu, harus diukur sampai akhir -tidak bisa hanya perbuatan sesaat saja- agar kita dapat membuktikan kepada Tuhan bahwa kita adalah orang yang setia beriman sampai akhir. Dengan demikian, perbuatan baik tidak bisa dipisahkan dari iman, dan keduanya diperhitungkan Tuhan pada saat Penghakiman Terakhir untuk menentukan apakah kita dapat diselamatkan. Sebab pada akhirnya, Tuhan membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya (Why 2:23).

Berikut ini, mari kita melihat ilustrasi yang disampaikan oleh saudara/i kita yang Protestan:

Orang sakit        – obat  – sembuh – bisa berolah raga.
Orang berdosa   – iman – selamat  – berbuat baik.

Keterangan:

Orang sakit bisa sembuh karena obat, bukan karena olah raga. Tetapi bukti bahwa ia sudah sembuh adalah bahwa ia bisa berolah raga kembali. Kalau seseorang mengaku sudah minum obat dan sudah sembuh tetapi tetap tidak bisa berolahraga, maka itu menunjukkan bahwa pengakuannya dusta. Jadi sebetulnya ia belum sembuh, dan juga belum minum obat. Analoginya: orang berdosa bisa selamat karena iman kepada Yesus Kristus, bukan karena berbuat baik. Tetapi bukti bahwa ia sudah selamat adalah bahwa ia lalu berbuat baik. Kalau seseorang mengaku sudah beriman kepada Yesus dan sudah selamat tetapi ia sama sekali tidak mempunyai perbuatan baik / ketaatan kepada Tuhan, maka itu menunjukkan bahwa pengakuannya itu dusta. Jadi sebetulnya ia belum selamat dan belum percaya dengan sungguh-sungguh.

Tanggapan saya:

Illustrasi di atas sebenarnya cukup bagus, tetapi sebenarnya kurang sempurna. Karena, orang yang sakit yang minum obat dan sembuh, dapat memilih untuk tidak berolah raga [walaupun sudah sembuh]. Kemampuan berolah raga di sini tidak langsung menjadi tolok ukur kesembuhan. Jadi mungkin analogi yang lebih tepat adalah demikian: Orang sakit, contohnya sesak nafas, minum obat, lalu sembuh, dan dapat bernafas kembali. Bernafas kembalinya orang itu menjadi tanda kesembuhannya, sama seperti perbuatan baik yang mengalir dari seseorang yang diselamatkan karena iman. Maka, obat sesak nafas tersebut tak terpisahkan dan dibuktikan dengan khasiatnya yaitu kemampuan untuk bernafas kembali. Jika orang belum bisa bernafas dengan baik artinya, obatnya belum tepat, namun jika sudah bisa bernafas kembali artinya obat itu tepat dan manjur. Iman tidak terpisahkan dan dibuktikan dengan perbuatan kasih yang mengalir dari iman. Jika orang tidak berbuat kasih, maka dipertanyakan apakah imannya sudah benar. Perlu pula kita ketahui bahwa dalam keadaan sesak nafas, orang yang sakit masih bisa bernafas, namun kualitasnya kurang/tidak baik.

Demikian pula, orang yang berdosa bahkan orang atheis sekalipun, mereka masih tetap dapat berbuat kasih, hanya saja kualitas perbuatan kasihnya tidak dapat disamakan dengan perbuatan kasih orang yang beriman. Setidaknya, dari segi motivasi sudah pasti berbeda. Orang yang atheis misalnya, tetap dapat berbuat kasih kepada sesama, namun motivasinya tidak demi kasihnya kepada Tuhan, sebab mereka tidak mengenal Tuhan. Maka dalam hal ini kasih mereka tidak mempunyai nilai supernatural, dan terbatas hanya pada kasih kemanusiaan, sehingga nilainya tidak sama dengan kasih Kristiani.

Kita dapat mengambil contoh lain terhadap sakit yang berbeda-beda, namun dalam hal rohani, sakit yang ada hanya akibat dosa. Maka, analoginya menjadi: orang berdosa/ ’sakit rohani’, dengan iman kepada Kristus, ia diubah dan dijadikan sembuh dan diselamatkan, sehingga ia dimampukan untuk tidak berbuat dosa dan berbuat kebaikan/ perbuatan kasih. Namun kemudian, orang yang sudah sehat sekalipun, dapat sakit lagi, dan demikian juga orang yang sudah sembuh secara rohani, dapat jatuh lagi di dalam dosa. Hal inilah yang membedakan pemahaman doktrin “sekali selamat tetap selamat”, dengan ajaran Gereja Katolik. Sebab dengan menggunakan analogi orang sakit tersebut, maka mereka yang percaya “sekali selamat tetap selamat”: 1) tidak mengakui bahwa seseorang yang sudah beriman dapat jatuh dalam dosa lagi; Atau, 2) mereka percaya sekali minum obat, maka seseorang sudah tidak perlu minum obat lagi jika ia jatuh sakit lagi di kemudian hari.

Sedangkan menurut Gereja Katolik, seperti juga diajarkan dalam Alkitab, seseorang yang beriman teguh sekalipun masih tetap jatuh dalam dosa. Sebab,dikatakan dalam surat Rasul Yohanes, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada dalam kita….Jika kita berkata bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” (1 Yoh 1:8, 10). Ayat ini dituliskan persis setelah menyatakan bahwa Allah adalah terang, dan jika kita bersekutu dengan Dia, maka kita harus hidup di dalam terang. Maka, kesimpulannya, kita harus terus mengusahakan untuk hidup di dalam terang, dan jika sampai jatuh dalam dosa/ kegelapan, kita harus mengaku dosa, agar Tuhan menyucikan kita dari segala kejahatan (lih. 1 Yoh 1:7,9). Maka “obat” itu, yaitu iman kepada Kristus harus terus kita perbaharui dengan pertobatan yang terus menerus, agar kita dapat terus dikatakan “sembuh”/ diselamatkan.

Jadi perjuangan untuk terus beriman dan melakukan kasih adalah perjuangan seumur hidup. Ini melibatkan pertobatan yang terus menerus dan kerendahan hati untuk menerima kelemahan kita sebagai manusia dan ketergantungan kita kepada rahmat Allah untuk mengampuni kita, menguduskan dan membimbing kita agar dapat hidup lebih baik dari hari ke hari. Rasul Paulus menggambarkan perjuangan untuk mencapai keselamatan tersebut sebagai perjuangan meninggalkan dosa dan berlomba dengan tekun, termasuk tekun memikul salib (Ibr 12:1, 2) dan agar kita senantiasataat dan mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (lih. Fil 2:12). Maka menurut Rasul Paulus, artinya rahmat keselamatan itu harus kita pertahankan, dengan ketaatan terhadap perintah-perintah Allah, terutama perintah kasih. Dengan demikian, kita tidak dapat terlalu yakin bahwa begitu kita dibaptis dan menerima Roh Kudus, langsung pasti kita masuk surga, tanpa memperhitungkan perbuatan kita. Sikap demikian, bahkan tidak sesuai dengan ajaran Rasul Paulus, yang mengatakan bahwa kita harus mempunyai kerendahan hati untuk berjuang dan mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar! Ini artinya kita harus senantiasa mau bertobat dan berbuat kasih. Jika kembali ke analogi orang sakit tadi, artinya, kita harus mau minum obat itu lagi jika kita jatuh sakit. Kita harus selalu memperbaharui iman dan kasih kita kepada Tuhan dengan pertobatan yang terus menerus, sampai kita dapat sungguh-sungguh bersatu dengan-Nya di surga kelak. Di sinilah pentingnya Sakramen Tobat bagi umat Katolik, dan seterusnya agar selalu berusaha hidup dalam kasih/ kekudusan. Lebih lanjut tentang apa itu kekudusan, silakan klik di sini

Maka ya, dalam hal ini pandangan Machmud sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Sebab memang, menurut Gereja Katolik, keselamatan yang sudah kita peroleh melalui Pembaptisan dapat hilang jika kita melakukan dosa berat.  Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 1472    Supaya mengerti ajaran dan praktik Gereja ini, kita harus mengetahui bahwa dosa mempunyai akibat ganda. Dosa berat merampas dari kita persekutuan dengan Allah dan karena itu membuat kita tidak layak untuk kehidupan abadi….

KGK 1855    Dosa berat merusakkan kasih di dalam hati manusia oleh satu pelanggaran berat melawan hukum Allah. Di dalamnya manusia memalingkan diri dari Allah, tujuan akhir dan kebahagiaannya dan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih rendah. Dosa ringan membiarkan kasih tetap ada, walaupun ia telah melanggarnya dan melukainya.

KGK 1856    Karena dosa berat merusakkan prinsip hidup di dalam kita, yaitu kasih, maka ia membutuhkan satu usaha baru dari kerahiman Allah dan suatu pertobatan hati yang secara normal diperoleh dalam Sakramen Pengakuan…

Maka karena dosa berat secara prinsip merusak kasih dalam hati manusia, maka jika seseorang yang sudah dibaptis melakukan dosa berat dan tidak bertobat, maka ia akan kehilangan rahmat keselamatan yang telah diperolehnya sewaktu dibaptis. Hal ini sangat sesuai dengan pengajaran di Alkitab bahwa seseorang yang tidak memiliki kasih tidak dapat masuk dalam kerajaan surga (lih. Mat 25:31-46). Dengan pengertian ini, maka sesungguhnya tidak mungkin seseorang berkeras bahwa asal sudah beriman kepada Kristus, pasti masuk surga, tidak peduli apapun yang dilakukannya sesudahnya. Pendapat ini diyakini oleh Martin Luther, dan ini tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik, dan sesungguhnya jika seseorang mau dengan jujur dan terbuka mempelajari, ia akan menemukan bahwa pendapat ini tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Silakan membaca lebih lanjut uraian tentang iman yang tak terpisahkan dari kasih dalam kotbah Paus Benediktus menanggapi “Sola Fide”, silakan klik di sini.

Demikian telah saya sampaikan sekilas ajaran tentang keselamatan menurut ajaran Gereja Katolik. Semoga dapat berguna bagi anda, ya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

16
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
8 Comment threads
8 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
11 Comment authors
nikoEkklesiaalexander wangsari e. nadeakStefanus Tay Recent comment authors
niko
Guest
niko

Sekarang saya tanya. Keselamatan bisa hilang kalau berbuat dosa yang berat.
jadi katolik mengakui adanya dosa besar dan kecil??

[Dari Katolisitas: Silakan membaca terlebih dahulu artikel ini, silakan klik

dan artikel “Mengapa kita perlu tahu dosa berat dan dosa ringan?”, klik di sini

Ekklesia
Guest
Ekklesia

bagaimana orang memahami erti pembaptisan jika ia sendiri tidak mahu dibaptiskan..

Stefanus Tay

Shalom Ekklesia,

Sebelum seseorang dibaptis, maka dia harus terlebih dahulu percaya atau beriman. Iman akan Allah yang menyatakan bahwa baptisan diperlukan untuk keselamatan membuat seseorang merindukan baptisan. Oleh karena itu, dalam Gereja Katolik, seseorang harus meyakini apa yang diimaninya dengan mengikuti katekese kurang lebih selama setahun. Setelah dia yakin dan siap untuk meninggalkan kehidupan lamanya dan hidup baru di dalam Kristus, maka dia dapat melangkah ke tahap berikutnya, yaitu dibaptis.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Stef – katolisitas.org

alexander wang
Guest
alexander wang

Pak Stef dan ibu Ingrid yang saya kasihi dan hormati Saya telah membaca beberapa sumber dan menyimpulkan beberapa hal. Saya takut kesimpulan saya bertentangan dengan Gereja Katolik sehingga saya mohon koreksi dari Anda. Beberapa kesimpulan saya:  1. Kita diselamatkan oleh rahmat Allah [Dari katolisitas: Benar, kita diselamatkan oleh rahmat/ kasih karunia Allah (Ef 2:8). Rahmat Allah (supernatural grace) adalah mutlak untuk keselamatan, karena tanpa rahmat Allah, maka manusia tidak dapat memperoleh keselamatan.] 2. Dengan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita mendapatkan rahmat pengudusan (sanctifiying grace) melalui sakramen Baptis, yang menghapuskan dosa asal dan dosa pribadi sebelum kita… Read more »

sari e. nadeak
Guest
sari e. nadeak

buat pak Stefanus,,
pak saya ingin bertanya sebenrnya setelah Yesus disalibkan kita semua sudah diselamatkan trus bila kita melakukan kejahatan di bumi bahkan sampai akhir hidup kita apa kita tetap masuk surga? apakah benar kebaikan kita di bumi sama sekali tidak dipertanyakan oleh Tuhan.
saya benar-benar bingung, katanya meskipun kita melakukan kejahatan sampai kita juga akhirnya mati tetap masuk surga, klo tidak kita sama saja dengan muslim.
saya mohon Pak, tolong dijawab!

Stefanus Tay

Shalom Sari e. Nadeak, Terima kasih atas pertanyannya tentang konsep keselamatan. Setelah Yesus disalibkan, maka Sorga terbuka untuk seluruh umat manusia, dan hubungan manusia yang terputus dengan Allah tersambung kembali. Manusia kembali dapat mempunyai hubungan yang mesra dengan Allah, dengan adanya rahmat pengudusan (sanctifying grace) yang diterima pada saat menerima Sakramen Baptis. Rahmat pengudusan ini mengalir dari misteri Paskah Kristus (penderitaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus). Inilah sebabnya Sakramen Baptis penting untuk keselamatan. Namun, tidak berarti bahwa setelah seseorang dibaptis, maka dia pasti selamat. Setelah seseorang dibaptis, maka Sorga terbuka bagi orang tersebut. Namun, untuk sampai pada Kerajaan Sorga, maka… Read more »

yonardhi
Guest
yonardhi

wah, baru liat lagi

Shalom Bu Ingrid,

kalau begitu, apakah penganut agama lain yang berbuat baik tidak dapat memperoleh keselamatan?

berarti kita masih berpanutan pada “Extra Ecclesiam nulla salus” dong?

mohon pencerahan..
terima kasih

tolong juga di kirim ke e-mail [edit: alamat email dihapus]..
terima kasih

Gbu :D

Stefanus Tay

Shalom Yonardhi, Terima kasih atas pertanyaannya. Secara prinsip, Gereja Katolik tidak pernah mengubah doktrin EENS. Namun, yang harus diperhatikan adalah doktrin ini harus dimengerti dengan benar. Dan Lumen Gentium 14 dan 16 memberikan penekanan sebagai berikut: 14. “… andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.” 16 ” ….. Penyelenggaraan ilahi juga tidak menolak memberi bantuan yang diperlukan untuk keselamatan kepada mereka, yang tanpa bersalah belum sampai kepada pengetahuan yang jelas tentang Allah,… Read more »

no name
Guest

salam damai,
benar , keselamatan itu anugerah dari Tuhan yang diberikan kepada semua orang secara cuma-cuma

Yonardhi
Guest
Yonardhi

Menurut saya, tentu bisa..
kalau melakukan dosa berat, keselamatan pasti hilang, kecuali kita datang ke Romo, minta pengakuan dosa..

kita kan bukan sola fidei, jadi kita juga perlu perbuatan2 baik untuk bisa beroleh keselamatan..

menurut saya aja sih..

maaf kalau salah..

Machmud
Guest
Machmud

Salam damai sejahtera
Dear Ingrid
Kalau kita membahas tentang KESELAMATAN, selalu timbul pro kontra.
Sebagian orang mengatakan keselamatan bisa hilang, sebab itu harus dikerjakan baik2 supaya jangan sampai hilang.
Sebagian orang mempercayai bahwa kalau keselamatan itu anugerah Allah , pasti tidak mungkin akan hilang.
Semua argumen mempunyai ayat2 pendukung yang tertulis dalam Alkitab.
Saya sendiri percaya bahwa keselamatan itu bisa hilang, jika tidak dipelihara dengan se-baik2nya.
Bagaimana menurut Ingrid.
Terima kasih
Mac

[Dari Admin Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]

Teddy
Guest
Teddy

Shalom Inggrid/Stef,

Saya belum lama ini mendengar kotbah pendeta Erastus Sabdono di TV kabel. Saya sebetulnya jarang melihat, tapi kebetulan sabtu lalu saya lihat. Yang menarik bisa saya simpulkan bahwa ia tidak percaya bahwa sekali dibaptis pasti selamat, bahkan menganjurkan hati-hati kepada mereka yang sudah belajar dogmatik (dalam hal ini calvin). Jadi yang saya tangkap, seperti ajaran katolik bahwa hidup kudus itu diperlukan.

Yang jadi pertanyaan apakah sola fide sendiri sudah banyak diragukan oleh protestan scholars? Di Indonesia rasanya tidak banyak, apalagi kalau termasuk dalam GBI, dan setahu saya pdt erastus juga adalah dari GBI. Mohon pencerahan.

GBU
Teddy

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X