Apakah hubungan antara dosa dan iman

Pertanyaan:

Yth. Tim Katolisitas,

Beberapa hari lalu saya baca artikel http://katolisitas.org/2010/12/01/eksorsisme-pengalaman-yang-tak-terlupakan. Ceritanya bikin saya merinding, sekaligus menguatkan iman saya.

Ada perkataan Romo Santo: ‘Aku memang pendosa, namun tidak memberontak kepada Tuhan seperti kamu!”. Dan pada akhir cerita, Romo yang didakwa si iblis sebagai pendosa, tetap berhasil menjadi alat Tuhan untuk mematahkan kuasa si jahat.

Masih ada beberapa hal yang kurang saya pahami selama ini:

1. Apakah ini berarti, iman tidak berhubungan dengan dosa?

2. Apakah ini berarti, meskipun saya pendosa berat, Tuhan masih mau memakai saya sebagai alat keselamatan dari-Nya? Ini berkaitan dengan pertanyaan saya no. 3.

3. Saya merasa amat sering diganggu si jahat, dalam rupa dosa2 berat. Maksud saya, amat sering saya jatuh ke dalam dosa berat: percabulan dan amarah. Baru saja menerima Sakramen Tobat, beberapa hari berikutnya sudah jatuh lagi. Dosa berat yang pertama tidak perlu saya jelaskan lagi.

Yang kedua, ini bikin saya sangat kuatir.
Saya sangat marah jika di jalanan, saat saya sedang mengendarai mobil saya, tiba2 disalip, apalagi kalau membahayakan saya. Begitu marahnya hingga dalam pikiran saya, saya siap berkelahi, bahkan siap untuk bunuh2-an. Beberapa kali sampai terjadi perang mulut, tapi untungnya belum sampai terjadi perkelahian fisik seperti yang ada di benak saya. Tapi sesampainya di rumah, sampai beberapa hari kemudian, pengalaman buruk itu menghantui saya. Dalam bayangan saya, tergambar jelas saya sangat siap membunuh orang itu, simply karena saya anggap orang2 itu manusia egois yang bikin negeri ini jadi tempat berbahaya.

Saya sudah mendengar saran agar berdoa saja jika saat2 seperti itu tiba. Tapi pada prakteknya, saya benar2 tidak mampu berdoa jika saat itu tiba. Pertanyaan saya no. 3, apa yang bisa saya lakukan untuk mengatasi hal ini?

Mohon pengajaran Romo/Bapak/Ibu ya. Saya tahu saya pendosa, tapi saya benar2 tidak ingin hidup seperti itu.

Terima kasih atas perhatian Romo/Bapak/Ibu.

Hormat saya,
Heru

Jawaban:

Shalom Heru,

Terima kasih atas pertanyaannya dan juga terima kasih atas keterbukaan anda. Mari kita membahas pertanyaan-pertanyaan yang anda ajukan satu persatu.

I. Hubungan antara dosa dan iman.

Anda bertanya apakah dosa berhubungan dengan iman. Untuk mengetahui hubungan antara keduanya, maka kita harus mengerti definisi dari iman dan dosa.

a. Definisi iman:

Iman, berasal dari kata pistis (Yunani), fides (Latin) secara umum artinya adalah persetujuan pikiran kepada kebenaran akan sesuatu hal berdasarkan perkataan orang lain, entah dari Tuhan atau dari manusia. Persetujuan ini berbeda dengan persetujuan dalam hal ilmu pengetahuan, sebab dalam hal pengetahuan, maka persetujuan diberikan atas dasar bukti nyata, bahkan dapat diukur dan diraba, namun perihal iman, maka persetujuan diberikan atas dasar perkataan orang/ pihak lain. Namun meskipun dari pihak lain, kita dapat yakin akan kebenarannya, sebab ‘pihak’ lain tersebut adalah Allah sendiri. Maka iman yang ilahi (Divine Faith), adalah berpegang pada suatu kebenaran sebagai sesuatu yang pasti, sebab Allah, yang tidak mungkin berbohong dan tidak bisa dibohongi, telah mengatakannya. Dan jika seseorang telah menerima/ setuju akan kebenaran yang dinyatakan Allah ini, maka selayaknya ia menaatinya.

b. Definisi dosa:

Ada begitu banyak definisi tentang dosa. Namun, secara prinsip, dosa dapat dikatakan sebagai suatu keputusan[1] dari pilihan[2] untuk menempatkan apa yang kita pandang lebih utama, lebih baik atau menyenangkan daripada hukum Tuhan (1 Yoh 3:4). Pada saat seseorang menempatkan ciptaan lebih tinggi daripada Penciptanya, maka orang tersebut melakukan dosa (St. Bonaventura). Katekismus Gereja Katolik (KGK) mendefinisikan bahwa dosa adalah melawan Tuhan (KGK, 1850), namun secara bersamaan melawan akal budi, kebenaran, dan hati nurani yang benar. (KGK, 1849)

Kalau kita menganalisa, maka dosa terletak bukan pada pikiran (intellect) namun pada kehendak (will), karena apapun pikiran kita, namun pada akhirnya kehendak (will) kitalah yang membuat keputusan apakah kita akan melakukan dosa tersebut atau tidak. Dosa dapat disebabkan oleh sesuatu yang bersifat eksterior (dari luar) maupun sesuatu yang bersifat interior (dari dalam). Penyebab ekterior/dari luar dapat terjadi karena setan dan manusia, yang menyebabkan manusia berdosa dengan cara nasehat, pengaruh, godaan maupun dari contoh-contoh yang buruk. Sedangkan penyebab dari dalam adalah karena (1) ketidakperdulian (ignorance), (2) kelemahan (infirmity) gairah (passion), (3) penyimpangan kehendak (malice of the will).

c. Hubungan antara keduanya:

Dari penjelasan di atas, terutama dari penyebab dosa, maka kita dapat melihat bahwa sebenarnya memang ada hubungan antara iman dan dosa. Kalau dosa tersebut disebabkan oleh ketidakperdulian (ignorance), maka sebenarnya hal ini berkaitan erat dengan iman. Sebagai contoh, adalah iman Katolik untuk mempercayai apa yang dirumuskan oleh Magisterium Gereja, namun kalau seseorang yang beragama Katolik kemudian karena ketidakpeduliannya menjadi tidak mau tahu dengan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik, maka iman yang dipegang oleh orang ini menjadi salah, yang dapat berakibat pada dosa.

Namun, di satu sisi, walaupun iman Katolik yang dipercayainya adalah benar, namun seseorang dapat saja jatuh ke dalam dosa karena kelemahan gairahnya, yang diakibatkan karena dosa asal. Dikatakan bahwa roh adalah penurut dan daging adalah lemah (lih. Mt 26:41). Hal ini juga ditegaskan oleh rasul Paulus yang mengatakan “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” (Rom 7:19) Namun, perlu disadari bahwa kelemahan yang disebabkan sebagai akibat dari dosa asal, tidak menjadikan hal ini sebagai justifikasi akan dosa-dosa yang kita buat. Jadi, kalau kita berbuat dosa, maka kitalah yang membuat keputusan untuk berbuat dosa. Bahwa ada faktor-faktor luar maupun kelemahan dari dalam, memang dapat membuat kita berbuat dosa, namun pada akhirnya kehendak kitalah yang memutuskannya. Untuk itu, masing-masing pribadi harus bertanggung jawab atas dosa yang dilakukannya.

II. Pendosa berat dan alat keselamatan Kristus.

Secara prinsip Tuhan menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1Tim 2:4). Ini berarti rahmat Tuhan cukup untuk mengantar semua orang kepada iman yang benar, yang membawanya kepada keselamatan. Yang menjadi masalah adalah, sering kita tidak bekerjasama dengan rahmat Allah dan memilih jalan yang terlihat mengenakkan diri sendiri tanpa perduli apakah jalan tersebut adalah suatu dosa atau tidak. Jika jalan atau perbuatan melawan Allah masuk dalam kategori dosa berat, maka perbuatan tersebut menghancurkan kasih dan membuat kita menyimpang dari tujuan akhir – yang seharusnya adalah Sorga atau persatuan abadi dengan Tuhan.

Jadi, apakah mungkin Allah memakai pendosa berat sebagai alat keselamatan Kristus? Dalam kemurahan dan kebijaksanaan-Nya, Allah bebas untuk memakai setiap orang untuk menjadi alat keselamatan Kristus. Namun, bagaimana seseorang dapat menjadi alat keselamatan Kristus – dalam arti mengantar orang lain kepada Kristus – kalau kita sendiri tidak hidup di dalam Kristus? Tentu saja sulit bagi kita untuk menjadi saksi Kristus yang efektif. Bagaimana kita dapat mewartakan sukacita Kristus, kalau kita hidup dalam kesedihan? Bagaimana kita dapat mewartakan bahwa Kristus telah menebus dan memberikan Roh Kudus-Nya, kalau kita senantiasa hidup dalam gelimang dosa? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang berlaku untuk semua orang – termasuk diri saya sendiri – agar kita dapat semakin menyadari akan kodrat kita, yaitu yang diciptakan sebagai anak-anak Allah, yang mempunyai tujuan akhir persatuan abadi dengan Tritunggal Maha Kudus di dalam Kerajaan Sorga.

III. Jadi bagaimana seorang pendosa berat dapat menjadi saksi Kristus?

1. Anda mengatakan “Saya merasa amat sering diganggu si jahat, dalam rupa dosa2 berat. Maksud saya, amat sering saya jatuh ke dalam dosa berat: percabulan dan amarah. Baru saja menerima Sakramen Tobat, beberapa hari berikutnya sudah jatuh lagi. Dosa berat yang pertama tidak perlu saya jelaskan lagi.

a. Seperti yang saya paparkan di atas, kita tahu bahwa penyebab dosa dapat datang dari luar (exterior) maupun dari dalam (interior). Memang faktor luar – setan maupun manusia – dapat menyebabkan kita berbuat dosa, namun pada akhirnya, kehendak (will) kitalah yang memutuskan apakah kita menyetujui tindakan dosa tersebut. Berikut ini adalah langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan (link ini mungkin juga dapat membantu – silakan klik):

1) Mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan, melalui doa pribadi, sakramen-sakramen, devosi terhadap Bunda Maria. Dosa dan doa senantiasa berbanding terbalik. Kalau kita terus bertekun dan setia dalam doa, maka biasanya kita tidak akan melakukan dosa berat. St. Teresa dari Avila mengatakan bahwa salah satu – dosa berat atau doa – harus menyerah dan tidak mungkin kedua-duanya berjalan bersamaan.

2) Pada saat fantasi maupun keinginan untuk berbuat cabul itu datang, berdoalah dan mohon kekuatan dari Tuhan dan berdoalah juga agar Bunda Maria membantu. Bunda Maria, wanita tersuci akan membantu kita untuk mengatasi dosa ketidaksucian. Ucapkan doa yang pendek, namun berulang-ulang, seperti “Jesus, have mercy on me” atau “Yesus, kasihanilah aku“. Dan setelah itu, lanjutkan dengan aktifitas yang lain. Kita juga harus mencoba untuk menghindari situasi yang dapat membangkitkan fantasi seksual, misalkan, website yang tidak benar, buku bacaaan yang tidak benar, dll.

3) Pada saat kita gagal dan kembali pada dosa yang sama, maka secepatnya kita harus datang kepada romo untuk menerima Sakramen Tobat. Dan mulai lagi dari awal, dan jangan berputus asa. Dosa yang telah menjadi kebiasaan (habitual sin) akan membutuhkan waktu untuk dipatahkan. Hanya berkat Tuhan dan kerjasama dari kita, yang dapat mengalahkannya. Alangkah baiknya kalau anda dapat mempunyai pembimbing rohani dan bapa pengakuan yang sama, sehingga dia dapat membantu anda untuk mengatasi masalah ini. Habitual sin ini hanya dapat dikalahkan dengan “virtue” (kebajikan). Karena kebajikan adalah “the habit of the soul to perform good action with easiness and competent“, maka diperlukan suatu latihan untuk mengerjakan kebajikan tersebut secara berulang-ulang, sehingga dapat menjadi suatu kebiasaan/habit Pada saat yang bersamaan, kita dapat minta kepada Tuhan untuk memberikan kebajikan tertentu – dalam hal ini kebajikan kemurnian – , karena hanya Tuhan yang dapat masuk ke dalam jiwa kita dan memberikan rahmat yang diperlukan untuk mendapatkan kebajikan yang kita minta.

4. Jangan berputus asa, karena sesungguhnya kesadaran akan kesalahan itu berasal dari karya Roh Kudus yang dapat membawa seseorang kepada pertobatan dan kerendahan hati.

2. Langkah-langkah praktis di atas dapat juga diterapkan untuk kemarahan yang sering melanda. Kebajikan yang harus dibina adalah kesabaran dan kelemahlembutan. Kembali kesabaran dan kelemahlembutan bukanlah sesuatu yang dapat diterapkan secara tiba-tiba kalau kita telah memupuk dan mengumbar kemarahan secara bertahun-tahun, yang menjadikan marah adalah merupakan reaksi spontan ketika sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak kita menimpa kita. Oleh karena itu, latihlah kesabaran dan kelemahlembutan dari hal-hal yang kecil. Pada saat yang bersamaan mintalah karunia kesabaran dan kelemahlembutan dari Tuhan. Yang tidak kalah pentingnya adalah untuk terus berakar pada sakramen – terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat. Kalau anda mau berusaha lebih keras, anda dapat melakukan jalan salib setiap hari Jumat, yang mengingatkan kita bahwa Putera Allah telah mengalami begitu banyak penderitaan, namun Dia menghadapinya dengan sabar dan penuh kelemahlembutan. Dengan demikian setiap peristiwa akan membantu anda untuk belajar kesabaran dan kelemahlembutan.

3. Akhirnya, kita harus menyadari bahwa kita semua memang pendosa. Oleh karena itu, kita membutuhkan rahmat Allah, sehingga kita dapat benar-benar menjadi anak-anak-Nya, yang kudus. Dan kekudusan adalah suatu perjuangan. Oleh karena itu, adalah hal yang wajar kalau kita mengalami jatuh dan bangun. Yang paling penting adalah kita harus benar-benar berjuang dalam kekudusan dengan segenap hati, pikiran dan kekuatan kita. Dan ini sekaligus menjadi bukti bahwa kita mengasihi Allah, bukan hanya dengan kata-kata, namun dengan menuruti segala perintah-Nya. Mari, kita bersama-sama mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita. Dan langkah paling awal adalah “PERTOBATAN“.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

19/12/2018

17
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
7 Comment threads
10 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
9 Comment authors
ratnaAnton GunarStefanus TaynateBenedictus Widi H Recent comment authors
ratna
Guest
ratna

Salam damai…
Saya ingin bertanya.apakah termasuk dosa kl terlintas didalam pikiran kita utk membenci seseorg yg tidak kita sukai…padahal org itu jauh dati kita…
Terima kasih.

Anton Gunar
Guest
Anton Gunar

Salam Damai Kristus. Pak Stefanus, memang sulit mengatasi atau meredam pikiran kita, pikiran seakan-akan baru berhenti aktif pada saat kita tetidur lelap atau pada saat kita pinsan atau saat kita dibius. Saya coba mereka-reka sendiri definisi yang pak Stefanus anjurkan yaitu : “silakan mendefinisikan akal budi (intellect) dan kehendak (will) dan dosa. Apakah perbedaan antara intellect dan will dan bagaimana hubungan antara intellect dan will dengan dosa?” *) saya setuju bahwa akal budi (intellect) adalah godaan (walaupun akal budi mejadi cemar karenannya) *) saya juga setuju jika kehendak (will) yang harus diwaspadai agar tidak menjadi perbuatan yang akan menjadikan kita… Read more »

nate
Guest
nate

Pak Stef

Mohon penjelasan tentang dosa

Secara umum dikatakan bahwa saat kita melakukan sebuah tidakan dosa, orang secara awam berpendapat langsung bahwa ada ” godaan / dorongan” iblis sehingga kita sampai berbuat dosa
Sebenarnya secara teologi katolik dalam menanggapi hal ini seperti apa ?

Yang saya pahami adalah ketika manusia berbat dosa, maka itu adalah pilihan dari “kehendak bebas” manusia, dan saya tidak melihat ” peran nyata iblis” dalam hal ini

Apakah iblis tahu apa yang sedang sedang pikirkan ?
Dengan cara seperti apa iblis menjerumuskan kita melakukan tindakan dosa ?
Kalau dengan kasus Hawa jatuh karena hawa benar-benar bertemu mukadengan iblis

Trimakasih

Benedictus Widi H
Guest
Benedictus Widi H

Pak Heru,

Klo saya yang saya rasakan adalah intensitas doa harian, doa pagi, dan doa mau tidur, dibarengi dengan membaca bacaan harian dan kalau bisa lectio divina…

Sepanjang saya hidup dan kost di Jakarta hingga saat ini, banyak godaan, banyak tawaran untuk hidup yang bebas dan tidak beraturan..namun ketika ingat akan oh tadi pagi saya barusan baca alkitab lho.. barusan doa ma Yesus… semua bisa dipikir ulang dan akhirnya nda jadi tergoda…

Mungkin tips untuk daily pray dan bacaan harian itu penting… sungguh suatu kebahagian apabila katolisitas bisa ada rubrik renungan harian.. disertai dengan ayat dan bacaan harian..

Terima kasih
Tuhan memberkati.

Joseph S.
Guest
Joseph S.

Mas Heru,

Penjelasan Bu Ingrid dan kesaksian Bu Julianti, semoga membawa anda kepada pertobatan sejati dan mampu bangkit kembali.
Salah satu yang pernah saya baca di majalah Hidup(saya lupa nomor berapa, sudah lama sekali), tentang kesaksian seorang yang mempunyai dosa yang sama dan berulang-ulang, yaitu dosa perselingkuhan. Ia melakukan retret pribadi di Biara Rawaseneng, Temanggung, dengan bimbingan imam/biarawan dalam doa-doa kontemplatif, ia memperoleh rahmat pengampunan dan kekuatan sehingga terbebas dari kebiasaan dosa itu.

Selamat berjuang, Tuhan bersama anda melawan Setan.

Joseph S.

Julianti Sugiman
Guest
Julianti Sugiman

Halo Heru, In a way, dulu saya mempunyai pengalaman yang sama dengan kamu, ttg kemarahan. Jika kesenggol sedikit saja, saya akan marah luar biasa, dalam pikiranku, aku akan sudah menyiksa (dengan sangat kejam) sebelum membunuh orang tersebut. Kemarahan tersebut telah banyak menyusahkan saya dan keluarga. Saya menjadi orang yang sangat tidak menyenangkan, sangat kesepian, negative thinking person, sensitive, moddy, etc. And sama seperti Anda, diminta untuk berdoa ketika hal itu terjadi pun, tidak bisa dilakukan, karena kalo dah marah, langsung jadi kalap. Jangankan doa, berpikir aza susah (segala macam cara untuk menghentikan marah dah dicobain dech – menurut buku, menurut… Read more »

Heru
Guest
Heru

Yth. Tim Katolisitas, Beberapa hari lalu saya baca artikel http://katolisitas.org/2010/12/01/eksorsisme-pengalaman-yang-tak-terlupakan. Ceritanya bikin saya merinding, sekaligus menguatkan iman saya. Ada perkataan Romo Santo: ‘Aku memang pendosa, namun tidak memberontak kepada Tuhan seperti kamu!”. Dan pada akhir cerita, Romo yang didakwa si iblis sebagai pendosa, tetap berhasil menjadi alat Tuhan untuk mematahkan kuasa si jahat. Masih ada beberapa hal yang kurang saya pahami selama ini: 1. Apakah ini berarti, iman tidak berhubungan dengan dosa? 2. Apakah ini berarti, meskipun saya pendosa berat, Tuhan masih mau memakai saya sebagai alat keselamatan dari-Nya? Ini berkaitan dengan pertanyaan saya no. 3. ……. Hormat saya, Heru… Read more »

Yunita
Guest
Yunita

Bro, Kutipan : Kalau kita menganalisa, MAKA DOSA TERLETAK BUKAN PADA PIKIRAN (intellect) namun pada kehendak (will), karena apapun pikiran kita, namun pada akhirnya budi (will) kitalah yang membuat keputusan apakah kita akan melakukan dosa tersebut atau tidak. Apa benar dosa tidak terletak pada pikiran atau angan-angan namun pada kehendak ? Mungkin sampeyan berdua bisa menanggapinya. Coba simak pernyataan Heru berikut ini : Saya sangat marah jika di jalanan, saat saya sedang mengendarai mobil saya, tiba2 disalip, apalagi kalau membahayakan saya. Begitu marahnya hingga dalam pikiran saya, saya siap berkelahi, bahkan siap untuk bunuh2-an. Beberapa kali sampai terjadi perang mulut,… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X