Apakah gunanya tulisan dari para Bapa Gereja?

Pertanyaan:

Hai Bu Ingrid, Pak Stef, dan Romo Wanta. Saya mau tanya kenapa ajaran St. Ignatius dari Antiokhia (110), St. Yustinus Martir (150-160), St. Irenaeus (140-202), St. Cyril dari Yerusalem (315-386), St. Augustinus (354-430) yang dijadikan dasar pengajaran Katolik? Bukannya itu hanya pengajaran pribadi-pribadi mereka saja? Bukannya mereka hanyalah sebatas seorang Uskup? Bukannya Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa pengajaran infalible hanya keluar dari Paus dan Konsili.

Tolong dijawab yang rinci atas dasar apa kita mempercayai ajaran pribadi Uskup-Uskup tersebut. Karena saya belum pernah menemukan dasar yang tepat untuk mempercayai ajaran pribadi Uskup.

Thanks. – Andreas

Jawaban:

Shalom Andreas,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang apa gunanya tulisan dari para Bapa Gereja. Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa Gereja Katolik senantiasa melihat pentingnya apa yang diajarkan oleh para Bapa Gereja.

1. Tradisi Suci adalah salah satu pilar kebenaran.

Kita tahu, rasul Paulus mengatakan “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2Tes 2:15). Dan Katekismus Gereja Katolik menjelaskan:

KGK, 76: Sesuai dengan kehendak Allah terjadilah pengalihan Injil atas dua cara:
– secara lisan “oleh para Rasul, yang dalam pewartaan lisan, dengan teladan serta penetapan-penetapan meneruskan entah apa yang mereka terima dari mulut, pergaulan, dan karya Kristus sendiri, entah apa yang atas dorongan Roh Kudus telah mereka pelajari”;
– secara tertulis “oleh para Rasul dan tokoh-tokoh rasuli, yang atas ilham Roh Kudus itu juga membukukan amanat keselamatan” (DV 7).

Dengan demikian, Alkitab sendiri mengatakan bahwa kita harus melihat warisan iman, bukan hanya secara tertulis (Kitab Suci), namun juga Tradisi Suci atau Tradisi yang hidup dari generasi ke generasi. Hubungan antara keduanya dikatakan sebagai berikut “Tradisi Suci dan Kitab Suci berhubungan erat sekali dan terpadu. Sebab keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama, dan dengan cara tertentu bergabung menjadi satu dan menjurus ke arah tujuan yang sama” (DV 9). Kedua-duanya menghadirkan dan mendaya-gunakan misteri Kristus di dalam Gereja, yang menjanjikan akan tinggal bersama orang-orang-Nya “sampai akhir zaman” (Mat 28:20).” (KGK, 80)

2. Tulisan dari Bapa Gereja adalah salah satu elemen dalam Tradisi.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana kita mengerti Tradisi? Mungkin teks dari Yves Congar dapat membantu kita. Dia menuliskan “In the first place Tradition is something unwritten, the living transmission of a doctrine, not only by word, but also by attitudes, mode of action, and which includes written documents, documents fo the Magisterium, liturgy, patristic writings, catechisms, etc., a whole collection of things form the evidence or monuments of Tradition.” ((Yves, Congar, The Meaning of Tradition, First Edition, First Printing., The Twentieth Century Encyclopedia of Catholicism (Hawthorn Books, 1964), p.10)) atau “Pertama-tama, Tradisi adalah sesuatu yang tidak tertulis, pelimpahan yang berkesinambungan dari sebuah doktrin, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan sikap, pola tingkah laku, dan yang mencakup dokumen tertulis, dokumen Magisterium, liturgi, tulisan-tulisan patristik, katekismus, dll , seluruh koleksi hal-hal bentuk bukti atau karya besar dari Tradisi.” Dengan demikian, kita melihat peran dari tulisan-tulisan dari para Bapa Gereja (patristik), yang membentuk Tradisi.

3. Tulisan-tulisan para Bapa Gereja menjadi sumber yang dapat dipercaya

Kita dapat memakai prinsip “sesuatu yang semakin dekat ke sumber akan semakin mendapatkan efek yang lebih besar.” Sesuatu yang lebih dekat pada sumber panas akan mendapatkan efek yang lebih besar sesuai dengan sumbernya, dalam hal ini panas. Ini berarti kesaksian orang-orang yang lebih dekat ke sumber (baik waktu dan lokasi) dapat lebih dipercaya dibandingkan dengan kesaksian oleh orang yang terpisah jarak dan waktu. Contoh sederhana, kalau kita ingin mendengar cerita kakek buyut kita, maka kita akan lebih percaya cerita atau tulisan dari kakek kita – yang mengalami kehidupan kakek buyut kita -, daripada kesaksian saudara misan kita.

Jadi, kalau misalkan seseorang ahli Alkitab mengatakan bahwa Injil Yohanes tidak ditulis oleh Yohanes karena berdasarkan analisanya, yang mengatakan bahwa tidak mungkin seseorang yang tidak berpendidikan dapat menuliskan suatu buku yang mengandung filsafat yang begitu tinggi, maka salah satu cara untuk membuktikannya adalah:

a. Dengan apa yang tertulis di dalam Alkitab: bahwa Dia adalah murid yang dikasihi oleh Yesus (lih. Yoh 21:20) dan dia adalah satu dari duabelas murid, di mana dia hadir ketika Yesus yang telah bangkit menampakkan diri di danau Tiberias (lih. Yoh 21:1). Dia juga salah satu dari tiga orang (Petrus, Yohanes dan Yakobus) yang senantiasa dekat dengan Yesus, yang melihat Yesus dipermuliakan (lih. Mt 17:1-2) dan yang melihat sengsara Yesus yang dimulai di taman Getsemani (lih. Mt 14:33). Dari gaya penulisan, maka tidak mungkin Petrus yang menuliskan Injil Yohanes, karena terlihat gaya bahasa yang berbeda dengan surat rasul Petrus. Sedangkan Yakobus juga tidak mungkin menuliskan Injil Yohanes, karena Injil Yohanes ditulis menjelang tahun 100 dan rasul Yakobus diberitakan telah meninggal sekitar tahun 40 (lih Kis 12:2). Dan kita tahu juga dari Yoh 19:35 “Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya.” Dan akhirnya kita percaya bahwa Injil Yohanes ditulis oleh Yohanes, karena dia mengatakan “Dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar.” (Yoh 21:24). Namun, tidak semua orang dapat menerima argumentasi ini. Dalam kondisi seperti ini, maka kesaksian dari para Bapa Gereja menjadi penting.

b. Dengan tulisan dari Bapa Gereja.

Menurut kesaksian St. Irenaeus (180 AD), yang menjadi murid dari St. Polycarpus, yang adalah murid Rasul Yohanes, dan murid St. Ignatius Martir yang adalah murid langsung dari Rasul Petrus dan Rasul Yohanes. Dengan demikian, kesaksian St. Irenaeus menjadi sangat penting tentang para penulis Injil. Dalam bukunya yang terkenal Against the Heresies, Buku III, bab 1,1 ia menggarisbawahi asal usul apostolik dari kitab Injil,

“Kita telah mengetahui bukan dari siapapun tentang rencana keselamatan kita kecuali dari mereka yang melaluinya Injil telah diturunkan kepada kita, yang pada suatu saat mereka ajarkan di hadapan publik, dan yang kemudian, sesuai dengan kehendak Tuhan, diturunkan kepada kita di dalam Kitab Suci, untuk menjadi dasar dan tonggak dari iman kita…. Sebab setelah Tuhan kita bangkit dari mati [para rasul] diberikan kuasa dari atas, ketika Roh Kudus turun [atas mereka] dan dipenuhi oleh semua karunia-Nya, dan mempunyai pengetahuan yang sempurna: mereka berangkat menuju ujung-ujung bumi, mengajarkan kabar gembira yang diberikan oleh Tuhan kepada kita…. Matius... menuliskan Injil untuk diterbitkan di antara orang Yahudi di dalam bahasa mereka, sementara Petrus dan Paulus berkhotbah dan mendirikan Gereja di Roma…. Markus, murid dan penerjemah Petrus, juga meneruskan kepada kita secara tertulis, apa yang biasanya dikhotbahkan oleh Petrus. Dan Lukas, rekan sekerja Paulus, juga menyusun Injil yang biasanya dikhotbahkan Paulus. Selanjutnya, Yohanes, murid Tuhan Yesus ….juga menyusun Injil ketika tinggal di Efesus, Asia Minor.”

Hal serupa dituliskan juga oleh Origen (185-254) tentang asal usul Injil, dalam In Matthew. I apud Eusebius, His eccl 6.25.3-6:

“[Injil] yang pertama dituliskan oleh Matius, yang adalah seorang publikan tetapi kemudian menjadi rasul Yesus Kristus, yang menerbitkannya untuk umat Yahudi, dituliskan dalam bahasa Ibrani. [Injil] kedua oleh Markus, yang disusun di bawah bimbingan St. Petrus, yang telah mengangkatnya sebagai anak… (1 Pet 5:17). Dan ketiga, menurut Lukas, yang menyusunnya untuk umat non-Yahudi, Injil yang dibawakan oleh Rasul Paulus; dan setelah semuanya itu, [Injil] menurut Yohanes.

Eusebius dalam bukunya Ecclesiastical History (6, 14,5-7) merujuk kepada kesaksian dari St. Clement of Alexandria, yang menuliskan bahwa Yohanes menuliskan Injil [Yohanes] setelah penulis Injil yang lain menuliskan Injil-Injil lain [Matius, Markus, Lukas].

Dari beberapa kesaksian Bapa Gereja ini, maka sangat terlihat bahwa iman kita bukan berdasarkan suatu khayalan, namun berdasarkan suatu fakta yang terjadi dalam sejarah kekristenan. Tulisan-tulisan tersebut dapat memberikan bukti otentik, yang mendukung apa yang telah dituliskan di dalam Alkitab.

4. Tulisan para Bapa Gereja bukanlah ajaran yang tidak mungkin salah, namun begitu penting.

Kita melihat bahwa para Bapa Gereja membentuk sejarah kekristenan. Mereka yang mempertahankan iman Katolik dan melawan ajaran-ajaran yang sesat. Mereka berjuang bukan hanya dengan kata-kata, namun mereka juga menyediakan hidup mereka demi kemuliaan Kristus. Mereka adalah orang-orang pilihan Alah yang dikaruniai rahmat iman yang begitu besar, intelektual yang begitu tinggi, namun mempunyai kerendahan hati. Namun, tidak semua hal yang ditulis oleh mereka adalah tidak mungkin salah. Di sisi lain, adalah suatu kenyataan bahwa mereka memberikan sumbangan tulisan-tulisan yang begitu penting sehingga Gereja Katolik melalui Magisterium Gereja yang dilindungi oleh Roh Kudus, dapat menyatakan suatu ajaran yang tidak mungkin salah dalam hal moral dan iman. Kalau kita melihat dokumen Gereja, maka kita akan melihat begitu banyak kutipan yang diambil dari tulisan para Bapa Gereja. Salah satu ciri dari tulisan para kudus adalah kerendahan hati mereka untuk menyerahkan semua tulisan mereka dalam keputusan Magisterium Gereja. Jadi, pada waktu kita membaca tulisan dari Bapa Gereja, kita juga harus melihat apa yang dikatakan oleh Magisterium Gereja tentang topik tersebut, terutama untuk isu-isu yang cukup kompleks. Dari sini, kita melihat kaitan yang erat antara Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Ketiganya adalah seumpama pilar yang kokoh yang menyangga kehidupan Gereja, sehingga tidak mudah diombang-ambingkan oleh dokrin-dokrin yang bertentangan dengan kebenaran.

Semoga tulisan di atas dapat menjawab pertanyaan anda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

18
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
7 Comment threads
11 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
10 Comment authors
yusup sumarnoLeoleonardIsa inigoBudi Darmawan Kusumo Recent comment authors
yusup sumarno
Guest
yusup sumarno

dear katolisitas,

saya sudah mengetik “apa yang diikat dan dilepas” pada mesin pencari. yang saya temukan antara lain adalah judul ini (apakah gunanya para bapa Gereja). padahal yang saya cari adalah apa maksud Kristus saat mengatakan pada Petrus: apa yang kamu ikat dan lepaskan di dunia akan diikat dan dilepaskan di surga. mohon tanggapan. Tq

[Dari Katolisitas: Tentang makna “mengikat dan melepaskan”: dapat dibaca di artikel Keutamaan Petrus: menurut Kitab Suci, silakan klik, silakan membaca khususnya di sub-judul: Petrus sebagai pemegang Kunci Kerajaan Allah dan diberi kuasa “mengikat dan melepaskan”]

leonard
Guest
leonard

Syaloom Pak Stef dan Bu Inggrid,

Kemarin ketika saya berdiskusi dengan teman non-Katolik, ketika menceritakan tentang Ekaristi, saya mengutip kata2 St Yohanes Rasul yang saya baca di Katolisitas.org. yang mengatakan kurang lebih “makanan yang ingin ku makan adalah Hosti,” saya lupa2 ingat tapi inti dari pernyataan St Yohanes Rasul yang saya mau sampaikan ke teman saya kalau sungguh Hosti itu Tubuh dan Darah Kristus bukan simbol.

Dan dia menjawab, kenapa itu tidak masuk ke Alkitab? Dari mana tau itu benar2 tulisan St Yohanes Rasul, karena pin banyak Injil2 palsu atau tulisan2 yg tidak diilhami Roh Kudus. Saya bingung dalam menjawabnya?

Mohon bantuannya

Terima Kasih

Ingrid Listiati
Member

Shalom Leonard, Terus terang saya dan Stef tidak tahu di mana anda mengutip tulisan seperti itu dalam situs ini, karena setahu kami, kami tidak pernah menuliskan seperti itu. Namun kami memang pernah mengulas tentang Roti hidup, dan mengapa kita umat Katolik merayakan Ekaristi. Mungkin artikel yang anda maksud adalah: Mengapa kita makan Tubuh Kristus, silakan klik dan juga – Roti Hidup dan Perjamuan Kudus, silakan klik Perikop yang mengatakan bahwa Yesus adalah Sang Roti Hidup itu sudah tertulis di dalam Injil, yaitu Injil Yohanes 6. Silakan anda membaca di sana, dan temukanlah bahwa bukan Rasul Yohanes yang mengatakan tentang hal… Read more »

Leo
Guest
Leo

Syaloom,,

Maaf maksud saya adalah perkataan dr St Ignatius dr Antiokhia murid St Yohanes Rasul
“…Di dalamku membara keinginan bukan untuk benda-benda materi. Aku tidak menyukai makanan dunia… Yang kuinginkan adalah roti dari Tuhan, yaitu Tubuh KRISTUS… dan minuman yang kuinginkan adalah Darah-Nya: sebuah makanan perjamuan abadi.”

Dia cuma berkata apakah benar2 asli tulisan2 itu? Dan sangat sulit utk menjelaskan kalau Hosti itu benar2 Tubuh dan Darah Kristus kepada yang Non-Katolik.. Jadi saya mengutip perkataan St Ignatius dr Anthiokhia. heehhee

Terima Kasih utk link2 nya

Damai Kristus bersertamu

Ingrid Listiati
Member

Shalom Leo, Kutipan itu diambil dari surat St. Ignatius dari Antiokhia kepada jemaat di Roma, bab ke 7, sebelum ia dibunuh sebagai martir karena membela imannya. Anda dapat membaca keseluruhan surat itu di link ini, silakan klik. Berikut ini adalah kutipan lengkapnya di bab ke 7 itu: “The prince of this world would fain carry me away, and corrupt my disposition towards God. Let none of you, therefore, who are [in Rome] help him; rather be on my side, that is, on the side of God. Do not speak of Jesus Christ, and yet set your desires on the world.… Read more »

Isa inigo
Guest
Isa inigo

Dear Katolisitas. Membaca mengenai topik ini, saya jadi ingat istilah “OKNUM” pada masa ORDE BARU. Jika ada pejabat negara yang korup, maka waktu itu ada istilah OKNUM. “Jangan salahkan sistem dan Ajaran Pancasila. Yang salah ialah orangnya (oknumnya)”. Menjadi aneh jika semua pejabat negara korupsi, maka jika begitu yang salah ialah sistemnya. Namun dalam kasus satu atau dua Paus yang tindakannya salah secara moral, tak bisa disebut bahwa seluruh sistem lalu salah. Sebaliknya, paus yang salah secara moral itu tetap salah dan mendapatkan sangsi. Namun ada catatan pula, bahwa walaupun salah secara tingkah laku moral, namun ajaran yang diucapkan dari… Read more »

krisma
Guest
krisma

Shalom, Terimakasih kepada katolisitas yg selama ini menambah pengetahuan saya ttg iman katolik melalui artikel-artikelnya sehingga saya lebih mendalami dan mengasihi iman katolik. Maju terus katolisitas! Saya mempunyai beberapa pertanyaan (saya tidak tau harus berkomentar di artikel yg mana, maaf kalau salah tempat). Beberapa waktu yg lalu saya tertarik pada sebuah gambar profil facebook teman saya yang adalah John Calvin. Akhirnya obrolan kami berlanjut pada ajarannya, yaitu TULIP dan Institutio nya John Calvin. Perbincangan berlanjut dan setelah saya mendalami ajaran Calvin (sebelumnya saya tidak tahu banyak ttg Calvinisme) saya menemukan banyak ajarannya yang sangat bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik. Dari… Read more »

Budi Darmawan Kusumo
Guest
Budi Darmawan Kusumo

Syalom Krisma,

Tiba – tiba saya ada ide pada pertanyaan pertama anda. Sebenarnya, pertanyaan pertama itu bisa dinyatakan kembali kepada seluruh para pengikut aliran CALVINISME. Apakah mereka percaya pada khotbah – khotbah para pendetanya ? padahal saya YAKIN 100 % pendeta mereka [manusia] berdosa [Dari Katolisitas: kami edit]. Kalau mereka percaya bahwa khotbah pada pendetanya adalah dari TUHAN, apalagi kita yang berasal dari para BAPA GEREJA.

TUHAN YESUS MEMBERKATI & Bunda Maria selalu menuntun anda pada putraNYA

raymundus genty laras
Guest

Pax Christi,

Raymundus membutuhkan info mengenai pengarang masing-masing kitab dalam alkitab. Apakah katolisitas memiliki info ini? Sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak.

Deus Benedicit Nos.

Ingrid Listiati
Member

Shalom Raymundus, Pertanyaan anda sangat baik, tetapi juga dibutuhkan banyak sekali waktu untuk menuliskan informasi mengenai pengarang tiap- tiap kitab dalam Kitab Suci, apalagi jika termasuk keterangan tentang latar belakangnya masing- masing. Silakan, jika anda berminat, silakan mengunjungi situs New Advent Catholic Encyclopedia, dan ketik nama kitabnya di bagian “search” dan nanti anda temukan informasi mengenai kitab tersebut. Misalnya, tentang kelima Kitab Musa (Pentateuch), silakan klik di sini, dan sesudah itu silakan anda ketik nama kitab- kitab lainnya, di fasilitas search di pojok kanan atas. Mohon maaf pertanyaan ini belum dapat kami jawab sekarang, karena masih banyaknya pertanyaan yang lain… Read more »

Maximillian Reinhart
Guest
Maximillian Reinhart

Yth Stefanus Tay

Ada tulisan yang menyebutkan kalau Rasul Yohanes adalah seorang ahli filsafat, demikian kah? SIlahkan dilihat yah, thanks…!

Adolf Harnack juga menunjukkan “kelainan” pada Injil Yohanes jika dibandingkan dengan ketiga Injil lainnya. Pembahasannya menunjukkan pemikiran filosofis yang demikian tinggi yakni filsafat Yunani. Justru dengan inilah tidak mungkin Injil Yohanes tersebut berasal dari murid Yesus yang bernama Yohanes, seorang murid termuda diantara dua belas murid Yesus. Kalimat awal pada Injil “Yohanes” bukan murid Yesus itulah yang dijadikan dasar doktrin trinitas!

Mohon Tay bisa mengomentari?

Terima kasih sekali lagi…!

Andreas
Guest
Andreas

Hai Bu Ingrid, Pak Stef, dan Romo Wanta. Saya mau tanya kenapa ajaran St. Ignatius dari Antiokhia (110), St. Yustinus Martir (150-160), St. Irenaeus (140-202), St. Cyril dari Yerusalem (315-386), St. Augustinus (354-430) yang dijadikan dasar pengajaran Katolik? Bukannya itu hanya pengajaran pribadi-pribadi mereka saja? Bukannya mereka hanyalah sebatas seorang Uskup? Bukannya Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa pengajaran infalible hanya keluar dari Paus dan Konsili.

Tolong dijawab yang rinci atas dasar apa kita mempercayai ajaran pribadi Uskup-Uskup tersebut. Karena saya belum pernah menemukan dasar yang tepat untuk mempercayai ajaran pribadi Uskup.

Thanks.

[dari katolisitas; silakan melihat jawaban di atas – silakan klik]

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X