Apakah Gereja Katolik memotong Septuaginta?

Ada sejumlah orang yang bertanya, mengapakah dipermasalahkan hal gereja Protestan membuang kitab-kitab Deuterokanonika, padahal Gereja Katolik sendiri memotong/ membuang juga beberapa kitab yang termasuk dalam Septuaginta? Kitab-kitab yang menurut mereka ‘dibuang’ oleh Gereja Katolik dari Septuaginta adalah kitab 3 dan 4 Makabe, 3 dan 4 Esdras, dan Mazmur 151. Berikut ini kami sampaikan beberapa hal yang perlu kita ketahui bersama, agar kita semakin memahami duduk persoalannya.

Secara umum, perlu diketahui bahwa orang-orang yang mengatakan demikian kemungkinan mengasumsikan bahwa kitab Septuaginta adalah semacam kitab yang sudah standard dan diterima oleh semua kalangan Yahudi di manapun sejak abad-abad awal. Namun sayangnya, bukti sejarah menunjukkan hal yang sebaliknya.

1. Di abad-abad awal, di kalangan Yahudi tidak ada persetujuan yang seragam tentang kitab-kitab mana saja yang termasuk dalam Kitab Suci Yahudi.

Di zaman Yesus, bangsa Yahudi telah memiliki kelima kitab pertama dalam Perjanjian Lama, yang disebut kitab Torah. Namun di luar kitab Torah, keberadaan kitab-kitab lainnya masih dapat diperdebatkan. Itulah sebabnya sejumlah rabi Yahudi kemudian mengadakan konsili di Jamnia (Javneh), tahun 90/100 untuk menentukan kanon Kitab Suci, walaupun kanon itu juga tidak diterima secara universal di kalangan Yahudi.

Di abad-abad awal itu terdapat banyak kitab yang terpisah, dalam bentuk gulungan/ scroll, jadi tidak berupa buku yang lengkap seperti sekarang. Tak semua kitab itu dapat dianggap otentik dan dapat dimasukkan sebagai Kitab Suci. Saat itu belum ada pengesahan kitab-kitab tertentu sebagai kitab-kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus. Maka di saat itu terdapat berbagai kitab yang tidak termasuk dalam Kitab Suci kita sekarang, seperti Kitab Henokh, atau berbagai kitab apokrif lainnya, seperti injil Tomas, injil Filipus, injil Matias, dst. Manuskrip Ibrani yang ditemukan di Qumran juga menunjukkan bahwa kanon Kitab Suci Ibrani belum ditentukan di kalangan Yahudi di sekitar abad ke-1 Masehi. Beberapa sekte Yahudi hanya berpegang kepada kelima kitab Torah, namun sekte yang lain berpegang kepada lebih banyak kitab.

Menurut para ahli Kitab Suci Yunani, terdapat sedikit variasi manuskrip Septuaginta yang digunakan di suatu daerah dengan yang digunakan di daerah lainnya; walaupun secara garis besar sama. Maka, Gereja Katolik menentukan kanon Kitab Suci tidak tergantung dari Septuaginta yang memang tidak sepenuhnya seragam ini, dan Gereja tak pernah mengeluarkan dekrit apapun yang menyatakan berapa banyak kitab yang sah termasuk dalam terjemahan Septuaginta. Dengan demikian, Gereja Katolik tidak pernah menambahkan ataupun menguragi/ membuang kitab apapun dari kitab Septuaginta. Gereja Katolik memang telah menggunakan teks yang umum dikenal sebagai teks Septuaginta di kalangan Yahudi di daerah Mediterranea saat itu, namun tidak dapat dikatakan bahwa teks itulah teks Septuaginta yang baku, karena nyatanya terdapat sejumlah variasi teks Septuaginta. Baru setelah didefinisikan oleh Gereja Katolik di abad ke-4, pertama oleh Paus Damasus I di tahun 382, dan kemudian oleh Konsili Hippo (393) dan Karthago (397), susunan Kitab Suci menjadi lebih jelas.

2. Sejumlah kitab yang dipersoalkan itu baru ditulis setelah terjemahan Septuaginta selesai dilakukan.

Menurut Sejarah, terjemahan Septuaginta dilakukan antara abad 3-2 sebelum Masehi atas perintah Raja Mesir, Ptolemy II Philadelphus (285-246 BC).

a. 3 dan 4 Makabe

Kitab 3 Makabe diperkirakan ditulis di sekitar akhir abad ke-1 sebelum Masehi, atau bahkan sesudahnya. Demikian juga kitab 4 Makabe, diperkirakan ditulis di akhir abad ke-1 sebelum masehi sampai abad 1 masehi sebelum kejatuhan Yerusalem di tahun 70. Kitab 3 Makabe mencatat peristiwa-peristiwa setelah terjemahan Septuaginta diselesaikan di abad 2 sebelum Masehi, sehingga menunjukkan bahwa kitab tersebut tidak termasuk dalam terjemahan Septuaginta. Walaupun demikian, kemudian kitab 3 Makabe (dan 4 Makabe) ada dalam Codex Alexandrinus (abad ke-5), sehingga sejumlah gereja Orthodoks memasukkan kitab-kitab ini dalam kanon Kitab Suci mereka.

b. 1 dan 2 Esdras

Perlu diketahui bahwa ada 4 kitab yang dihubungkan dengan Nabi Ezra (atau juga disebut Esdras), yang oleh sejumlah kalangan jemaat awal dikenal sebagai 1,2,3, dan 4 Esdras. Namun di kalangan lain, 1 dan 2 Esdras dikenal sebagai Ezra dan Nehemia; sedangkan kitab yang kedua (3 dan 4 Esdras) lalu dikenal juga sebagai 1 dan 2 Esdras.

Nah, Kitab Ezra dan Nehemia keduanya diterima dalam kanon Kitab Suci oleh Gereja Katolik (dan juga Protestan). Maka jika dikatakan bahwa Konsili tidak menerima kitab 1 dan 2 Esdras, sebenarnya yang dimaksud adalah kitab 3 dan 4 Esdras. Para ahli Kitab Suci memperkirakan bahwa Kitab 3 Esdras ditulis antara abad 1 sebelum Masehi sampai abad 1 Masehi, sedangkan 4 Esdras ditulis di sekitar tahun 70 AD. Maka kedua kitab tersebut tidak termasuk dalam kanon Kitab Suci yang ditetapkan Gereja Katolik, karena diperkirakan teks tersebut ditulis bahkan setelah zaman Kristus. Padahal di zaman Kristuslah, sudah tercapai puncak nubuatan Perjanjian Lama.

c. Mzm 151

Teks Mzm 151 memang tercantum dalam sejumlah manuskrip Septuaginta, walaupun tidak pada semua manuskripnya. Namun demikian, teks tersebut tidak terdapat dalam teks Ibrani Perjanjian Lama (teks Masoretik). Namun meskipun sejumlah manuskrip kuno Septuaginta (Codd. Sinaiticus, Vaticanus, and Alexandrinus) memasukkan Mazmur 151, manuskrip tersebut juga menuliskan secara eksplisit bahwa perikop terakhir itu tidak kanonikal. Di awal perikop Mzm 151 tersebut dikatakan demikian: “Mazmur ini ditulis oleh Daud dengan tangannya sendiri dan tidak termasuk dalam bilangannya”, atau dalam bahasa aslinya, exothen tou arithmou. Oleh sebab itu, di Kitab Suci Vulgata perikop ini tidak dimasukkan.

Dengan demikian, bisa dimengerti, jika kemudian Mzm 151 tidak dimasukkan dalam kanon Kitab Suci oleh Gereja Katolik.

3. Kesaksian St. Hieronimus dan St. Agustinus tentang kitab-kitab Deuterokanonika

Walaupun St. Hieronimus pernah seolah tidak menganggap kitab-kitab Deuterokanonika sebagai bagian dari Kitab Suci, namun demikian pada akhirnya ia memasukkan kitab-kitab tersebut dalam terjemahan kitab Vulgate yang dibuatnya. Ia juga mengutip kitab-kitab Barukh, Esther, Sirakh dan Kebijaksanaan Salomo dalam buku tafsir Kitab Suci yang ditulisnya. Argumen St. Hieronimus, mengapa ia awalnya tidak memasukkan kitab-kitab Deuterokanonika dalam terjemahannya, adalah karena kitab-kitab tersebut tidak ditemukannya dalam teks Ibrani (Masoretik)- sehingga kemungkinan ia mengasumsikan kitab-kitab tersebut tidak persis setara dengan kitab-kitab PL lainnya yang ditulis dalam bahasa aslinya, entah Aram ataupun Ibrani. Namun demikian, St. Hieronimus juga kerap mengutip teks kitab-kitab Deuterokanonika dan menyebut teks tersebut sebagai teks “Kitab Suci” (silakan klik). Penemuan di Dead Sea Scroll di sekitar tahun 1954 membuktikan bahwa argumen St. Hieronimus ini keliru, sebab kenyataannya ditemukan bahwa mayoritas kitab-kitab Deuterokanonika juga sebenarnya aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani, sebelum kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani.

Dengan adanya perbedaan pandangan tentang kitab-kitab mana yang termasuk Kitab Suci dan mana yang tidak, di kalangan jemaat, maka Paus Damasus I dan Konsili- konsili tentang Kitab Suci di abad ke-4 (yaitu Konsili Hippo dan Khartago), memberikan batasan yang lebih jelas tentang kanon Kitab Suci, sebagaimana telah diterima oleh para Bapa Gereja sebelum zaman St. Hieronimus.

Pada akhirnya, St. Hieronimus menyerahkan keputusan tentang kanon Kitab Suci kepada Gereja, secara khusus kepada Paus Damasus, karena ia mengakui supremasi Paus sebagai penerus Rasul Petrus. Ini nampak dalam tulisannya:

“What sin have I committed if I followed the judgment of the churches? But he who brings charges against me for relating the objections that the Hebrews are wont to raise against the story of Susanna, the Son of the Three Children, and the story of Bel and the Dragon, which are not found in the Hebrew volume, proves that he is just a foolish sycophant. For I wasn’t relating my own personal views, but rather the remarks that they are wont to make against us” (Against Rufinus 11:33 [A.D. 402]).

“I speak with the successor of the fisherman and disciple of the cross. I, who follow none but Christ as first, am joined in communion with your holiness , that is with the see of Peter. On this rock I know the Church was built. Whoever eats the lamb outside this house is profane. Whoever is not in the ark of Noah will perish when the deluge comes…Whoever does not gather with you scatters for whoever does not belong to Christ is of Antichrist.” (Letter 15 to Pope Damasus, 1-2, [376 AD])

Sejujurnya, mereka yang menolak kitab-kitab Deuterokanonika dengan mengutip pandangan St. Hieronimus, perlu juga mengacu kepada tulisan di atas, untuk melihat sikap St. Hieronimus pada akhirnya, tentang kanon Kitab Suci. Berbeda dengan para pendiri gereja Protestan, St. Hieronimus akhirnya tunduk dan menerima keputusan Paus, karena ia mengakui Paus sebagai penerus Rasul Petrus yang diberi kuasa oleh Kristus untuk mengajar dan memimpin Gereja.

Demikian juga, St. Augustinus mengajarkan:

“… Sekarang tentang kanon Kitab Suci, ia [penafsir Kitab Suci] harus mengikuti penilaian dari sejumlah besar Gereja- gereja Katolik; dan di antara ini, tentu tempat¬† tinggi harus diberikan kepada Gereja-gereja di mana terletak tahta seorang Rasul …” [On Christian Doctrine, Bk II, Ch. 8, ca. AD 397]

Sejumlah besar Gereja- gereja Katolik telah berpegang kepada ke 73 kitab dalam Kitab Suci, sebagaimana yang kita pegang hari ini, sebagai kanon Kitab Suci. Kanon tersebut ditetapkan oleh Gereja Roma, tahta St. Petrus, yang melalui penerusnya Paus Damasus I mendekritkan ke-73 kitab ini, tanpa memasukkan kitab 3 dan 4 Makabe, Mzm 151, 3 dan 4 Esdras. Kitab-kitab tersebut tidak pernah dimasukkan dalam kanon Kitab Suci, dan karena itu, Gereja Katolik tidak pernah mengeluarkannya/ membuangnya.

4. Kanon Kitab Suci Perjanjian Lama bahkan masih tidak seragam di antara sejumlah gereja Orthodoks saat ini

Gereja-gereja Orthodoks sampai saat ini juga tidak memiliki konsensus yang berlaku universal untuk seluruh gereja Orthodoks, tentang kanon Kitab Suci Perjanjian Lama. Gereja Ortodoks Ethiopia (GOE) memiliki jumlah kitab yang lebih banyak daripada gereja-gereja Orthodoks yang lain. GOE, misalnya, mengakui adanya kitab 4 Barukh, kitab Henokh dan kitab Jubilee, dalam kanon Kitab Suci mereka. Gereja Koptik tidak mengakui kitab 3 dan 4 Makabe dalam kanon Kitab Suci mereka.

Kesimpulan

Dari fakta-fakta di atas kita mengetahui bahwa Gereja Katolik tidak pernah ‘membuang’ satu kitab-pun dari kanon Kitab Suci. Terjemahan Septuaginta (yang diterjemahkan oleh 70 orang) disusun antara abad ke-3 sampai dengan abad ke-2 sebelum Masehi. Dalam selang perjalanan waktu sampai penetapan kanon Kitab Suci, terdapat sedikit varian di sana sini dalam manuskrip Septuaginta, walaupun secara umum sama. Jika kemudian pada saat menentukan kanon Kitab Suci Gereja Katolik mengambil salah satu versi terjemahan Septuaginta, tidak berarti bahwa Gereja Katolik membuang bagian-bagian tertentu dalam teks Septuginta. Karena sampai sebelum ditentukannya kanon Kitab Suci oleh Gereja Katolik, tidak ada kanon Septuaginta.

Kitab-kitab yang termasuk dalam Kanon Kitab Suci baru ditetapkan pertama kali oleh Paus Damasus I di tahun 382, yang kemudian diteguhkan kembali oleh Konsili Hippo (393), Konsili Karthago (397) dan Konsili Florence (419) sampai dengan Konsili Trente (1546).

Dengan melihat kepada sejarah terbentuknya kanon Kitab Suci, maka kita mengetahui bahwa keadaannya berbeda antara keadaan di abad ke-4 dan ke-16/19. Gereja Katolik tidak mengeluarkan kitab apapun dari kanon Kitab Suci, sedangkan gereja-gereja Protestan memang mengeluarkan kitab-kitab tertentu dari kanon Kitab Suci yang sudah ditetapkan oleh Gereja Katolik di abad ke-4.

 

bimomartens
Member
bimomartens

Shalom bapak/ibu Tay, Saya merasa kurang puas dengan penjelasan anda, kenapa Mazmur 151 ‘dibuang’ oleh Gereja. Karena “teks tersebut tidak terdapat dalam teks Ibrani Perjanjian Lama”. Bukankah hal serupa juga menjadi alasan bagi St. Hieronimus untuk tidak memasukkan kitab-kitab deuterokanonika kedalam terjemahannya karena kitab-kitab tersebut tidak ditemukannya dalam teks Ibrani, walaupun akhirnya ter-koreksi oleh penemuan Dead Sea Scroll di abad 20. Mungkinkah Gereja mempunyai alasan yang lebih kuat daripada sekedar ‘tidak terdapat dalam teks ibrani’ mengingat Mzm 151 tercantum dalam sejumlah manuskrip Septuaginta. Terima kasih sebelumnya, berkah dalem. [Dari Katolisitas: Silakan membaca keterangan yang baru saja kami tambahkan dalam sub… Read more »

Hermanwib
Member
Hermanwib

Selamat pagi Bpk & Ibu Tay, serta sidang pembaca yth, Saya tertarik dgn kalimat “Penemuan di Dead Sea Scroll di sekitar tahun 1954 membuktikan bahwa argumen St. Hieronimus ini keliru, sebab kenyataannya ditemukan bahwa mayoritas kitab-kitab Deuterokanonika juga sebenarnya aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani, sebelum kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani.” (Artikel butir 3. Kesaksian St. Hieronimus dan St. Agustinus … alinea 1-kalimat terakhir). Ketika ikut kursus Alkitab di paroki, saya diinformasikan bhw Marthin Luther menolak beberapa buku PL (yg kemudian dikenal sbg Deuterokanonika) dgn alasan buku tersebut ditolak oleh sekelompok rabbi sejak awal abad masehi karena mereka tidak menemukan… Read more »

krisnha
Member
krisnha

Dear stef Mohon pencerahan apakah st Jerome menterjemahkan kitab vulgata 100% tanpa menambah ataupun mengurangi? Adakah bukti bukti bahwa gereja katholik tidak mengurangi /memotong septuaginta?? Sebab non-katholikpun merasa tidak ada bedanya kalau mereka memotong deuterokanonika sedang GK juga memotong septuaginta. Mohon jawaban stef.. GBU. [Dari Katolisitas: Pertanyaan ini digabungkan karena ditulis oleh pengirim yang sama tentang topik yang sama] apakah seluruh kitab septuaginta menjadi bagian dari alkitab deuturokanonika GK.. apapula tuduhan korupsi dalam penulisan /penyalinan kitab suci mohon keterangan sejelas jelasnya unk menjawab tuduhan non Katholik yg mengatakan bahwa GK juga memotong Septuaginta jadi mereka merasa tidak bersalah..karena GK juga… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Krisnha, Silakan pertama-tama untuk membaca artikel di atas, yang baru saja ditayangkan untuk menanggapi pertanyaan Anda, silakan klik. Jelas ada bedanya, tentang apa yang dilakukan oleh Gereja Katolik sehubungan dengan penentuan kanon Kitab Suci di abad ke-4, dengan apa yang dilakukan oleh gereja-gereja Protestan di abad ke-16 sampai abad ke-19, yang berakhir dengan pemotongan kitab-kitab Deuterokanonika. Septuaginta tidak sama artinya dengan Deuterokanonika. Septuaginta adalah terjemahan kitab-kitab Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani, yang di dalamnya termasuk kitab-kitab yang kemudian disebut Deuterokanonika. Jadi sebenarnya kitab-kitab Deuterokanonika itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari Perjanjian Lama. Silakan membaca beberapa artikel di… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X