Apakah di surga manusia dan malaikat dapat berbuat dosa?

Pertanyaan:

Bu Ingrid,
menurut penjelasan ibu, Adam dan Hawa kehilangan Rahmat pengudusan dan ke-empat karunia preternatural gifts sebagai akibat dari dosa asal, sehingga manusia mempunyai kecenderungan berbuat dosa, atau disebut sebagai concupiscentia/concupiscence. Jika concupiscentia/concupiscence adalah akibat dari dosa berarti mereka melakukan dosa terlebih dahulu baru akibatnya mempunyai concupiscentia/concupiscence? Pada saat mereka belum berdosa berarti tidak mempunyai concupiscentia/concupiscence, mengapa mereka bisa berbuat dosa padahal belum mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa?

Mengenai malaikat yang melawan Allah, bukankah mereka sebelumnya juga tinggal di surga sebelum mereka melawan Allah. Ataukah malaikat pada saat itu juga belum tinggal di surga (di taman eden atau di bumi atau …) sehingga bisa berbuat dosa atau lucifer melawan Allah pada saat dia ada di luar surga?

Ataukah semuanya ini karena baik manusia maupun malaikat diberi kehendak bebas sehingga bisa memilih sendiri untuk bersatu dengan Allah atau melawan Allah dan itu bisa terjadi baik di dalam maupun di luar surga?
Terima kasih, Chandra

Jawaban:

Shalom Chandra,

  1. Pertama-tama, kita perlu ketahui bahwa Taman Eden tidak sama dengan surga. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik. Jadi bahwa Adam dan Hawa dapat jatuh di dalam dosa, bukan berarti ada dosa di surga, dan bukan pula berarti nanti jika manusia masuk surga, ada kemungkinan manusia dapat jatuh ke dalam dosa seperti Adam dan Hawa.
    Menurut St. Thomas Aquinas, yang ada pada Adam dan Hawa pada saat mereka diciptakan adalah rahmat pengudusan/ “sanctifying grace” dan 4 jenis karunia yang disebut ‘preternatural gifts’ yaitu: 1) keabadian atau immortality, 2) tidak ada penderitaan, 3) pengetahuan akan Tuhan atau ‘infused knowledge’ dan 4)berkat keutuhan atau ‘integrity’ maksudnya, adalah harmoni atau tunduknya nafsu kedagingan pada akal budi. Namun, Adam dan Hawa belum sampai melihat Tuhan muka dengan muka, yaitu mengenal Allah dengan sempurna di dalam Allah sendiri.
    Rahmat pengudusan dan ke-empat karunia preternatural gifts ini yang hilang akibat dosa asal, sehingga manusia mempunyai kecenderungan berbuat dosa, atau disebut sebagai concupiscentia/ concupiscence. Concupiscence/ kecenderungan berbuat dosa ini adalah mencakup keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (1 Yoh 2:16). Maka pada saat Pembaptisan, kita dikaruniai rahmat pengudusan (yang hilang akibat dosa Adam dan Hawa) sebagai pintu gerbang yang akan menghantar kita kepada kebahagiaan ilahi yaitu “mengambil bagian di dalam kodrat ilahi” (2 Pet 1:4), walaupun concupiscentia tersebut masih ada pada kita (sebagai akibat dosa asal), agar dapat kita kalahkan untuk mencapai kekudusan (lihat KGK 1264).
    Kesempurnaan kebahagiaan surgawi inilah yang dijanjikan Allah pada jiwa-jiwa para kudus yang bersatu dengan-Nya di surga, sebab mereka akan memandang Allah muka dengan muka, atau disebut sebagai ‘beatific vision‘. Dalam kondisi memandang Allah muka dengan muka, kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya (1 Yoh 3:2) melihat Allah di dalam Allah; dan dalam keadaan ini seseorang tidak akan berbuat dosa lagi.
  2. Maka,  di surga hanya ada malaikat yang baik, sedangkan setan atau malaikat yang ‘jahat’ (fallen angel) tidak ada di surga, tapi di neraka.  Sebab pada saat Allah menciptakan malaikat, Ia memberi kesempatan kepada mereka untuk memilih untuk taat pada-Nya atau tidak, dan Lucifer yang diciptakan sebagai malaikat yang elok rupa, menjadi sombong dan menolak untuk taat pada Tuhan. Kisah kejatuhan Lucifer ada pada Yes 14:12-14, dan Yeh 28:14-17.
  3. Jadi Allah selalu menciptakan sesuatu yang baik, (malaikat dan manusia) namun sang ciptaan-Nya itu dapat menolak untuk taat kepada-Nya seperti yang terjadi pada Lucifer dan kawan-kawannya dan juga Adam dan Hawa. Penolakan manusia pertama terjadi di Eden sedangkan penolakan malaikat terjadi sesaat setelah ia diciptakan. St. Thomas Aquinas mengatakan malaikat terang dipisahkan dari malaikat gelap/ jahat (fallen angels): Malaikat terang di surga, malaikat jahat di neraka. Maka kesimpulannya, di surga tidak ada manusia maupun malaikat yang dapat berbuat dosa, sebab semua penghuni surga telah dipenuhi oleh rahmat Allah, karena telah bersatu dengan Allah.

Demikian yang dapat saya sampaikan mengenai pertanyaan Chandra, semoga menjawab pertanyaan anda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati, http://www.katolisitas.org

19/12/2018

14
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
4 Comment threads
10 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
9 Comment authors
anonymousKwackKwackAnastasia RafaelaStefanus Tay Recent comment authors
anonymous
Guest

Saya baru saja menerima Jesus sebagai juru selamat saya saya tahu dan perpaca jika Tuhan telah menciptakan manusia untuk kemuliaan-Nya, dan saya percaya setelah saya meninggal , jesus akan datang dan membantu saya yang percaya kepadaNya dan saya akan hidup di surga dengan Nya, untuk kemuliaan-Nya. pertanyaan saya adalah berada di surga kita semua tidak bersih dari dosa?, karena kita semua tahu jika manusia punya dosa karena sebelum ADAM dan HAWA yang tergoda oleh Lucifer malaikat yang mengkhianati Allah… jadi pertanyaan saya adalah apakah tuhan tau kalau lucifer bakal berkianat? Kalau memang tau kenapa tuhan masih menciptakan manusia yang pastinya… Read more »

Stefan
Guest
Stefan

Dear bu Inggrid, Saya baru menemukan link mengenai pembahasan ini, sedangkan saya ada pertanyaan yang kurang lebih sama di link yang berbeda, maaf jadi merepotkan. Mengenai pejelasan bu Inggrid di poin 1 diatas, saya ada pertanyaan; Mengapa tidak sejak semula Allah menciptakan Adam dan Hawa untuk tinggal di sorga dan memiliki “beatific vision” sehingga tidak perlu ada kemungkinan Adam dan Hawa untuk berbuat dosa? Mengapa Allah menciptakan manusia pertama dan menempatkan mereka di taman eden yang bukan sorga dalam arti kediaman atau Rumah Allah sendiri sehingga bisa senantiasa memandang wajah Allah dari muka ke muka sehingga dari awal tidak perlu… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Stefan, Terima kasih atas pertanyaannya tentang mengapa sejak semula Allah tidak menciptakan manusia dalam kondisi memandang Allah muka dengan muka atau beatific vision. Esensi dari beatific vision adalah memandang Allah muka dengan muka, mengetahui dan mengasihi Allah sebagaimana adanya Dia. Dengan kata lain, Tuhan dan manusia saling mengetahui dan mengasihi. Karena kasih tidak memaksa, maka diperlukan kebebasan dari manusia untuk menjawab kasih Tuhan. Dalam konteks kebebasan inilah, Tuhan menciptakan manusia di taman Firdaus, sehingga manusia dapat secara bebas memberikan dirinya kepada Allah. Namun, manusia telah gagal untuk mengasihi Allah lebih dari segala sesuatu, sehingga manusia berbuat dosa. Namun, Tuhan… Read more »

Stefan
Guest
Stefan

Dear Pak Stefanus, Terima kasih untuk jawaban pak Stef mengenai pertanyaan saya sebelumnya. Namun sepertinya saya masih agak bingung dan kurang paham. Pertanyaan pertama adalah: mengapa tidak semula Allah menciptakan manusia di surga (memandang Allah muka dengan muka)? Apakah karena kebijaksanaan ilahi yang memberikan manusia kehendak bebas sehingga bisa memilih untuk tunduk dan taat pada perintah Allah secara bebas? sedangkan Allah maha tahu, dan Dia tahu bahwa manusia akan jatuh dalam dosa. Lalu pertanyaan kedua adalah mengapa pada saat akhir jaman nanti pada saat Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya dan mengadili orang hidup dan mati dan semua orang benar… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Stefan, Allah tidak menempatkan manusia di Sorga pada awalnya, karena untuk menikmati kebahagiaan di Sorga bersama-sama dengan Allah, maka manusia harus memberikan dirinya dan mengasihi Allah secara bebas. Sebelum pria dan wanita mengikat diri dalam perkawinan, maka yang perlu dilakukan oleh mereka adalah memberikan diri mereka secara bebas. Kita tidak dapat mengharapkan bahwa tanpa memberikan diri secara bebas maka seorang wanita tiba-tiba ada di dalam kehidupan perkawinan. Kasih tidak memaksa. Kalau Tuhan tiba-tiba memaksakan manusia untuk memberikan dirinya kepada Tuhan, maka Tuhan sebenarnya memaksakan kasih-Nya dan tidak menghargai kehendak bebas manusia. Walaupun Allah mengetahui bahwa manusia pertama jatuh dalam… Read more »

Stefan
Guest
Stefan

Dear Pak Stefanus, Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas jawabannya yang jelas dan membuat saya jadi mengerti. Kalau saya boleh menyimpulkan jawaban Pak Stef kira-kira seperti beikut ini: Jadi sejak semula Allah menciptakan Adam dan Hawa dan menempatkan mereka di taman Eden dengan satu maksud,bahwa kelak (pada saat yang tepat menurut kehendak dan kebijaksanaan Allah), Allah akan membawa mereka berdua masuk dalam sorga dan mengalami beatific vision. Atau dengan kata lain, taman Eden sebagai persiapan sebelum masuk sorga dan memandang wajah Allah dari muka ke muka. Setelah Allah memandang layak bahwa mereka berdua telah hidup dalam kesempurnaan,kekudusan dan taat pada… Read more »

Kwack
Guest
Kwack

Kalau manusia tidak diciptakan di Surga karena Tuhan ingin manusia memilih secara bebas untuk mengasihi Tuhan, kemudian dimanakah Tuhan menciptakan malaikat? Bukankah malaikat juga memiliki kehendak bebas? Kalau malaikat diciptakan di Surga, bukankah itu menghilangkan dimensi kehendak bebas pada malaikat? dan juga di Surga tidak ada dosa, jadi apakah itu berarti malaikat tidak diciptakan di Surga karena ada malaikat yang memberontak?

[dari katolisitas: Tuhan menciptakan malaikat bukan di Surga dalam pengertian melihat Allah muka dengan muka. Setelah mereka memutuskan untuk mengasihi Allah, maka mereka masuk ke dalam Kerajaan Surga]

Kwack
Guest
Kwack

Lalu dimanakah Tuhan menciptakan malaikat? Apakah sama dengan manusia di bumi?

Lalu, dikatakan bahwa ketika malaikat memberontak, mereka tidak memiliki kesempatan untuk bertobat karena pengetahuan mereka sudah sempurna sehingga ketika mereka menolak Tuhan, mereka menyadarinya dengan sungguh bahwa mereka menolak. Berbeda dengan manusia yang tidak memiliki pengetahuan yang sempurna sehingga penolakan atas kasih Tuhan dapat disebabkan karena ketidaktahuan manusia itu. Mengapa Tuhan tidak menciptakan manusia dengan pengetahuan yang sempurna kalau begitu? Mengapa Tuhan tidak menciptakan malaikat dengan pengetahuan yang tidak sempurna?

Anastasia Rafaela
Guest
Anastasia Rafaela

Salam kasih saudara Stefan, Apa yang saya pahami dari kitab Kejadian dalam PL, adalah karena pada awalnya memang sudah menjadi rencana atau rancangan Allah bahwa bumi dan segala isinya diciptakan Tuhan untuk manusia. Dalam hubungan kasih-Nya, Allah bermaksud ingin bekerjasama dengan manusia yang juga merupakan hasil ciptakan-Nya agar beranak cucu sehingga menambah banyaknya jumlah manusia memenuhi bumi yang akan menaklukan dan menguasai atas hewan dan atas seluruh bumi (lih. Kej. 1:26-28). Selain itu pula karena TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu (lih. Kej.2:15). Selanjutnya kita tahu bahwa Allah adalah Maha… Read more »

Joan Heru
Guest
Joan Heru

Syallom Bu Ingrid,
saya ingin menanyakan apakah malaikat daerah teritorial nya hanya ada di Sorga dan Neraka, apa mungkin malaikat juga turun ke dunia ini, apakah malaikat penyelamat (guardian angel),atau malaikat pencabut nyawa memang ada atau diakui oleh Gereja?Lalu sebenarnya bentuk malaikat itu sendiri apa berupa materi atau berebentuk seperti apa?apakah boleh kita meminta perlindungan malaikat Allah?
Terima kasih

Chandra
Guest
Chandra

Bu Ingrid, menurut penjelasan ibu, Adam dan Hawa kehilangan Rahmat pengudusan dan ke-empat karunia preternatural gifts sebagai akibat dari dosa asal, sehingga manusia mempunyai kecenderungan berbuat dosa, atau disebut sebagai concupiscentia/concupiscence. Jika concupiscentia/concupiscence adalah akibat dari dosa berarti mereka melakukan dosa terlebih dahulu baru akibatnya mempunyai concupiscentia/concupiscence? Pada saat mereka belum berdosa berarti tidak mempunyai concupiscentia/concupiscence, mengapa mereka bisa berbuat dosa padahal belum mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa? Mengenai malaikat yang melawan Allah, bukankah mereka sebelumnya juga tinggal di surga sebelum mereka melawan Allah. Ataukah malaikat pada saat itu juga belum tinggal di surga (di taman eden atau di bumi… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X