Apakah dengan hidup baik saja, kita dapat masuk Sorga?

Ada yang menuliskan bahwa, untuk menjalani kehidupan agamanya ia merasa tidak perlu sulit-sulit, tidak mau repot harus begini dan begitu. yang penting bagi dia adalah hidup baik, tidak berbuat dosa, tidak mau menyalahi aturan duniawi, dll. Kalau sekiranya ia merasa salah, ia bertekad untuk tidak mengulanginya. Bagi dia itu saja sudah cukup. Memang kalau kita melihat konsep keselamatan terlihat adanya dua ekstrim yang kedua-duanya bertentangan dengan ajaran Katolik: 1) yang pertama, adalah beriman saja dan tidak perlu ada perbuatan baik dan 2) yang ke-dua adalah perbuatan baik saja cukup dan tidak perlu yang lainnya, termasuk menyingkirkan dimensi iman dan segala konsekuensi kehidupan orang beriman. Jawaban untuk sola fide, telah dituliskan di sini – silakan klik, yang dapat menjerumuskan seseorang pada konsep sekali selamat tetap selamat – dan telah dijawab di sini – silakan klik. Sedangkan untuk ekstrim yang lain, yang mengedepankan perbuatan baik dan mengenyampingkan dimensi iman, maka berikut ini adalah empat alasan untuk menolak anggapan ini:

1. Kita dibenarkan oleh Kristus melalui pengorbanan-Nya di kayu salib dan rahmat yang mengalir dari misteri Paskah diberikan secara biasa pada Sakramen Baptis.

Untuk dapat selamat, maka berarti kita dibenarkan oleh Allah. Bagaimana kita dapat dibenarkan oleh Allah? Dengan mati di kayu salib maka, Kristus yang menjadi pengantara antara manusia dan Tuhan, telah menebus dosa kita, dan memberikan rahmat (grace), yang memungkinkan manusia dapat diselamatkan. Ini adalah meritorious cause keselamatan manusia, yaitu pengorbanan Kristus yang menghasilkan rahmat berlimpah. Dan kalau ditelusuri, maka hal ini disebabkan oleh efficient cause, yaitu belas kasih Allah, yang tidak membiarkan manusia untuk tetap terpisah dari Allah. Nah, kasih Allah dan pengorbanan Kristus telah terjadi. Bagaimana manusia mendapatkan rahmat yang mengalir dari pengorbanan Kristus? melalui instrumental cause – yaitu Sakramen Baptis, yang berarti untuk orang dewasa diperlukan iman. Melalui Sakramen Baptis ini, memungkinkan manusia untuk dibenarkan oleh Allah, karena manusia memperoleh rahmat pengudusan (sanctifying grace). Dan inilah yang disebut the formal cause. Dan pada akhirnya rencana keselamatan ini akan membawa kemuliaan bagi nama Tuhan dan keselamatan manusia (disebut final cause).

Kalau disederhanakan: manusia berdosa, sehingga kehilangan keselamatan kekal. Keselamatan kekal ini adalah the final cause. Namun Allah tidak membiarkan itu terjadi karena belas kasih Allah yang tak terhingga bagi manusia (the efficient cause), sehingga Dia memberikan Putera-Nya untuk menebus dosa manusia dengan cara mati di kayu salib dan memberikan rahmat (the meritorious cause). Rahmat ini diterima oleh manusia secara normal (the ordinary means) melalui Sakramen Baptis (the instrumental cause). Dan karena rahmat pengudusan atau sanctifying grace diterima pada saat pembaptisan, maka manusia berkenan dan dibenarkan di hadapan Allah (the formal cause – yaitu keadilan Allah).

2) Tanpa iman tidak ada yang dapat menyenangkan hati Allah.

Pada point nomor 1, maka kita melihat pentingnya baptisan, yang menuntut persyaratan adanya iman (pada baptisan dewasa), karena dengan baptisan, kita menerima rahmat pengudusan yang mengalir dari misteri Paskah Kristus (penderitaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus). Dan tentang pentingnya iman, surat kepada jemaat di Ibrani mengatakan “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” (Ibr 11:6). Sebaliknya, hanya iman saja tanpa ada perbuatan kasih, maka iman tersebut adalah mati (lih. Yak 2:26). Hal ini juga ditegaskan oleh Yesus yang mengatakan “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mk 7:21).

3) Beriman berarti ketaatan.

Iman mensyaratkan ketaatan kepada yang memberi wahyu. Katekismus Gereja Katolik merumuskan sebagai berikut:

143. Melalui iman, manusia menaklukkan seluruh pikiran dan kehendaknya kepada Allah. Dengan segenap pribadinya manusia menyetujui Allah yang mewahyakan Diri (Bdk. DV 5.). Kitab Suci menamakan jawaban manusia atas undangan Tuhan yang mewahyukan Diri itu “ketaatan iman” (Bdk. Rm 1:5; 16:26.)

144. Taat [ob-audire] dalam iman berarti menaklukkan diri dengan sukarela kepada Sabda yang didengar, karena kebenarannya sudah dijamin oleh Allah, yang adalah kebenaran itu sendiri. Sebagai contoh ketaatan ini Kitab Suci menempatkan Abraham di depan kita. Perawan Maria melaksanakannya atas cara yang paling sempurna.

Dengan demikian, kalau kita mengatakan bahwa kita beriman, maka ketaatan ini menjadi bagian penting dari manifestasi iman. Bahkan Rasul Yohanes mengatakan bahwa ketaatan untuk menjalankan perintah Kristus, disebut sebagai bukti akan kasih kita kepada Kristus (lih. 1Yoh 5:3). Perintah yang mana? Rasul Yohanes mengatakan semua perintah-Nya (lih. 1Yoh 3:24) dan Yesus mengatakan hal yang sama sebelum Dia naik ke Sorga (lih. Mt 28:20). Jadi, kalau kita tahu bahwa kita harus menjalankan semua perintah-Nya, maka kita tidak boleh memilih perintah-Nya menurut interpretasi kita sendiri, dalam hal ini hanya menjalankan perbuatan baik.

4. Perintah Kristus adalah termasuk menerima sakramen-sakramen dan masuk dalam Gereja Katolik.

Kalau kita membaca Alkitab secara cermat, maka kita akan dapat melihat bahwa Kristus telah memberikan tujuh sakramen kepada umat Allah. Dan Sakramen, yang menjadi cara yang dipilih oleh Kristus untuk menyalurkan rahmat-Nya, harus diterima dengan penuh rasa syukur dan sudah sepantasnya kita berpartisipasi dalam sakramen-sakramen, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat (bagi yang telah dibaptis). Ini berarti, ke Gereja untuk turut berpartisipasi dalam Sakramen Ekaristi menjadi manifestasi akan kasih kita kepada Allah dan juga cara untuk menerima rahmat Allah. Dengan demikian, kalau kita beriman secara Katolik, maka sudah seharusnya kita juga turut berpartisipasi dalam Sakramen ini dan tidak cukup hanya dengan mengandalkan perbuatan baik.

Dalam keselamatan, selain melalui Kristus (Kristosentris), juga berkaitan dengan melalui Gereja (ekklesiosentris). Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

Lebih lanjut Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1741)mengatakan “Pembebasan dan keselamatan. Dengan salib-Nya yang mulia, Kristus telah memperoleh keselamatan bagi semua manusia. Ia telah membebaskan mereka dari dosa yang membelenggu mereka. “Kristus telah memerdekakan kita” (Gal 5:1). Di dalam Dia kita mengambil bagian dalam “kebenaran” yang memerdekakan (Yoh 8:32). Kepada kita diberi Roh Kudus, dan “di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan” (2 Kor 3:17), demikian santo Paulus mengajarkan. Sejak sekarang kita bermegah bahwa “kita telah masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (Rm 8:21).

KGK 270 – “Penciptaan adalah “awal tata keselamatan”, “awal sejarah keselamatan” (DCG 51) yang berpuncak pada Kristus. Sebaliknya misteri Kristus adalah terang misteri penciptaan yang menentukan; ia menyingkap tujuan, untuk apa Allah menciptakan “pada mulanya… langit dan bumi” (Kej 1:1). Sejak awal Allah telah memikirkan kemuliaan ciptaan baru di dalam Kristus (Bdk Rm 8:18-23).

KGK, 846: “Bagaimana dapat dimengerti ungkapan ini [EENS: Extram Ecclesiam Nulla Salus/ Di luar Gereja Tidak ada Keselamatan] yang sering kali diulangi oleh para bapa Gereja? Kalau dirumuskan secara positif, ia mengatakan bahwa seluruh keselamatan datang dari Kristus sebagai Kepala melalui Gereja, yang adalah Tubuh-Nya:
“Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan, bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam Tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis, Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan” (Lumen Gentium 14).

5. Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, maka kita dapat melihat bahwa seluruh keselamatan umat manusia berpusat dan bersumber pada misteri Paskah Kristus. Iman akan misteri Paskah ini memberikan keselamatan kepada umat manusia. Namun, iman menuntut ketaatan iman, yaitu melaksanakan semua perintah yang diberikan oleh Kristus. Dan perintah-perintah-Nya adalah termasuk menjadi anggota Tubuh Mistik Kristus atau Gereja Katolik, bertumbuh dalam sakramen-sakramen. Dan rahmat yang mengalir dalam sakramen-sakramen ini memampukan seseorang untuk dapat berbuat kasih yang bersifat adikodrati, yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama berdasarkan kasih kepada Tuhan. Tanpa rahmat Allah, kita tidak mungkin dapat setia terhadap kehidupan kristiani kita sampai pada akhirnya. Jadi, hanya dengan berbuat baik saja, tidak secara otomatis akan membawa kita pada keselamatan kekal, karena keselamatan kekal bukanlah merupakan hak kita, namun merupakan anugerah. Semoga jawaban ini dapat diterima.

19/12/2018

26
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
11 Comment threads
15 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
13 Comment authors
Maurice SihombingThe BelieverPaulus Sutikno PanuwunToniMonica Recent comment authors
Maurice Sihombing
Guest
Maurice Sihombing

Syarat Masuk Sorga hanya satu Yaitu ; Bertobat dan percaya bahwa Yesus telah mati dikayu salib menghapuskan Dosa Saya dan Saudara dan Imanilah itu sampai Yesus datang kembali menjemput saudara . Karena saudara Sudah mengimani itu dan menjalani pertobatan , yakinlah saudara kapanpun saudara mati maka saudara pasti masuk sorga Karena saudara sudah mengimani itu maka sebelum saudara mati wajiblah saudara bersyukur kepada Tuhan Yesus dengan rajin keGereja , membantu sesama dan menolong sesama serta menginjili sesama bahwa masuk surga hanya dengan pertobatan dan percaya kepada penyaliban dosa saudara yg harusnya saudaralah yg disalibkan karena dosa saudara amin [dari katolisitas:… Read more »

The Believer
Guest
The Believer

Ysh Romo / Tim Katolisitas.org, Setau sy semua yg kita perbuat skrg adalah kehendak bebas yg diberikan Tuhan,,, Pemahaman saya mjd, jika terjadi sesuatu yg tidak menyenangkan/ tidak kita sukai (dlm segala hal fisik / jasmani), itu adalah mmg akibat dari keteledoran kita sendiri, dan sebaliknya bila ada tindakan/ucapan orang yang menghina kita juga adalah kehendak bebas mereka tapi akan mereka pertanggung jawabkan nti pd hari penghakiman. Disisi lain dikatakan, Tuhan akan ikut serta bila kita meminta (Cari, Minta, Ketoklah). Yg mjd pertanyaan Pertama, apakah Tuhan ikut berperan dalam doa orang yg membenci kita? (Sekalipun doa mereka itu bukan permintaan… Read more »

Stefanus Tay

Shalom The Believer, Terima kasih atas pertanyaan anda. Dalam hal ini kita perlu membedakan apa yang datang dari kita dan apa yang datang dari Allah. Karena menjadi kodrat Allah bahwa Dia adalah  benar, baik dan indah, maka semua hal yang bertentangan dengan hal ini adalah bukan dari Allah. Namun hal tersebut harus dihubungkan dengan tujuan akhir. Dengan kata lain, semua hal yang baik, benar dan indah yang menuntun manusia ke Sorga adalah dari Allah. Sedangkan semua hal yang menghalangi manusia menuju ke Sorga bukanlah dari Allah, melainkan dari diri sendiri atau dari setan. Prinsip yang lain juga harus kita pegang,… Read more »

The Believer
Guest
The Believer

Shalom Pak Stef / Romo sekalian, Terima kasih atas balasannya pak… Wah saya mgkin ke neraka y, soalny sy pernah bbrpa kali mlakukan “kejahatan rohani” 3 tahun yg lalu, tapi sy sudah bertobat sungguh2 dgn berdoa Devosi Kerahiman Ilahi disertai puasa & pantang slma sebulan lebih yg mnrut sy lebih ekstrim dri yg dilakukan kpercayaan tetangga; ttpi masalahny s.d saat ini sy belum pernah mengaku dosa lgsg kpd Romo sejak SMP/SMA, Apakah dosa sy bisa terampuni wlaupun bukan mengaku dosa kpd Romo ? Sy sangat menderita saat ini, 2 tahun belakangan ini sy mendapat banyak “ujian” bukan hanya dari rekan… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom The Believer, Kitab Suci mengatakan bahwa hanya ada satu dosa yang tidak dapat diampuni, yaitu dosa menghujat Roh Kudus. Tentang hal ini sudah pernah diulas di sini, silakan klik Maka, jika Anda sudah sungguh bertobat atas dosa-dosa yang pernah Anda lakukan di masa lalu, maka nampaknya Anda tidak termasuk dalam golongan mereka yang tidak terampuni; hanya saja jika Anda Katolik, maka pertobatan yang tulus itu mestinya dinyatakan dengan Anda mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa, dan di sanalah Anda akan menerima rahmat pengampunan Tuhan. Tentang mengapa kita perlu mengaku dosa di hadapan imam, silakan membaca di artikel Masih Perlukah… Read more »

Paulus Sutikno Panuwun
Guest
Paulus Sutikno Panuwun

Buat Mas Aris dan teman2 katolisitas. memang bahasan anda sangat menarik. Saya yang membaca buku Spiritualitas tanpa Tuhan oleh Andree Comtee filsuf modern Perancis yang dulunya Katolik, beliau mencoba menampilkan 2 alternative yang populer sekarang ini : a. menjadi atheis, (tidak ke gereja, tidak berdoa / beribadah) dsb tetapi bertekad akan hidup dengan moral dasar Kristiani (KASIH), ini menurut AC telah sangat populer di dunia barat yang semula Kristen / Katolik. b. menjadi agamis (ke gereja, beribadah dsb) akan tetapi hidupnya tetap saja sesak dengan dunia modern : menjadi manusia pintar, berkuasa, kaya raya . Nah kira2nya yang lebih sesuai… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Paulus, Terima kasih atas tanggapan anda. Yang menjadi masalah dari dua kesimpulan tersebut adalah disajikan dengan tidak adil dan berdasarkan premis yang salah atau minimal perlu diuji kebenarannya. Kalau benar dia menyajikan dua hal tersebut, maka seharusnya akan lebih fair, kalau dia memberikan dua alternatif: (1) menjadi ateis yang penuh kasih, atau (2) menjadi pemeluk agama yang penuh kasih. Dengan demikian, dia dapat membandingkan apel dengan apel. Jadi, dia dapat mencari ateis yang dapat mencapai tingkatan kasih seperti Bunda Teresa dan memberikan argumentasi yang lebih baik. Saya tidak membahas dua kesimpulan tersebut sebelum kita membahas premis yang digunakan dalam… Read more »

Toni
Guest
Toni

Salam sejahtera Katolisitas Saya terlahir sebagai Katolik tetapi di saat saya SD saya beragama Islam dan setelah kelas 6 SD ada Suster yang membawa saya lagi ke Katolik. Saya baptis bayi dan sekarang saya masih Katolik dan menikah juga dengan istri Katolik. Iman saya kepada Yesus selalu naik turun kadang saya percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan kadang saya meragukannya. Ada teman saya Muslim dia orang Lebanon dan berdiskusi dengan saya, dia bilang ke saya jika Yesus berkorban untuk menebus dosa manusia, kamu gak perlu minta pengampunan dan sudah tidak berdosa, dan itu doesnt make it sense, kadang saya berpikir… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Toni, Terima kasih atas pertanyannya tentang iman Katolik. Anda dibaptis bayi, kemudian menjadi Muslim dan kemudian berbalik lagi ke Katolik, dan sekarang anda ragu-ragu terhadap iman Katolik. Usul saya adalah silakan menggunakan kesempatan ini untuk benar-benar mempelajari iman Katolik, sehingga anda tidak meragukannya lagi. Kita tidak perlu takut untuk mempertanyakan kebenaran iman kita. Ada banyak orang yang salah paham dengan apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja Katolik, salah satunya tentang Kristologi. Menjawab pernyataan teman anda, maka secara prinsip memang Yesus datang ke dunia untuk menebus dosa manusia. Namun, Gereja Katolik tidak pernah mengatakan bahwa setelah kita beriman kepada Yesus,… Read more »

Monica
Guest
Monica

Yth. Bp. Stef Sehubungan dengan topik di atas, saya ingin bertanya mengenai beberapa hal tentang gerakan Yansenisme yang ditentang keras oleh Gereja Katolik pada abad XVIII, terutama di Prancis: 1. Apa sih isi ajaran mereka (karena saya hanya mengetahuinya sekilas)? 2. Mengapa Gereja begitu menentangnya dengan keras? 3. Mengapa Gereja pada zaman dahulu begitu keras dalam menganggapi berbagai gerakan, bahkan sampai-sampai terjadi pemusnahan secara fisik, memangnya kita boleh “membunuh” dengan alasan demikian? Maaf jika pertanyaan saya terlalu banyak…tapi saya benar-benar bingung… Terima kasih… [dari katolisitas: Anda dapat mencari di fasilitas pencarian di pojok kanan atas, dan memasukkan kata “Jansenisme”. Dan… Read more »

Nikso
Guest
Nikso

Salam damai Kristus, Pak Stef. Saya hanya ingin tahu siapa sebenarnya Hj.Irena Handono yang berkotbah dalam u-tube yang saya lihat dalam Iman Katolik Site. Apakah benar dakwaan beliau berkenaan kegiatan gereja di sekitar Jakarta itu benar. Tolong jelaskan jika Pak Stef rasanya tidak keberatan. Terima kasih.

Stefanus Tay

Shalom Nikso, Terima kasih atas pertanyaannya. Beliau mengaku bahwa dia adalah mantan biarawati dan pernah belajar teologi. Sampai seberapa kebenarannya, bukanlah pekerjaan kita untuk membuktikannya. Yang kita tidak tahu, apakah sebelum beliau pindah, dia telah benar-benar mengkaji iman yang dipercayainya, dalam hal ini iman Gereja Katolik. Kalau saya dengar sekilas, maka pembahasan oleh professornya di fakultas teologi tentang Trinitas dan kristologi yang begitu lemah dan dipandang tanpa dasar membuat dia pindah ke agama lain. Namun, saya sendiri tidak habis pikir, dalam sekolah teologi seorang professor atau teolog menerangkan Trinitas dengan menggambar segitiga.Keterangan tentang Trinitas yang digambarkan segitiga adalah seperti menerangkan… Read more »

hendro
Guest
hendro

salam sejahtera, mau bertanya : Tuntutan, perintah, atau himbauan atau hendaknyalah… sempurna, kudus, tidak bercela, murah hati. seperti dalam Matius 5:48 “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Imamat 19:2 “Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus. 11:44 Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi. 11:45 Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu;… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Hendro, Jika kita membaca Kitab Suci dengan seksama, maka kita akan mengetahui bahwa pada saat mengajarkan kepada manusia tentang kekudusan, Allah menggunakan kata “harus” dan bukan “hendaknya”. Artinya, Tuhan memerintahkan kepada kita untuk hidup kudus. Tentu ini perjuangan, dan kita tidak dapat hanya mengandalkan diri sendiri untuk menjadi kudus. Kita membutuhkan rahmat Tuhan yang menguduskan. Itulah sebabnya kita perlu menerima rahmat Tuhan, yang secara khusus kita terima melalui sakramen- sakramen dimulai dari sakramen Baptis. Nah, sesudah menerima rahmat Allah dalam sakramen- sakramen itu, kita harus berjuang untuk hidup kudus, yaitu dengan menaati perintah- perintah Tuhan, menghindari dosa, dan berakar… Read more »

Hendro
Guest
Hendro

Terima kasih banyak
salam sejahtera & penuh rasa syukur.

Yohanes
Guest
Yohanes

Shalom katolisitas.org, Saya ingin bertanya mengenai keselamatan: Ada statement berikut, dimana saya ragu dan merasa ada kejanggalan, dan mohon tanggapannya. Terima kasih. Keselamatan disebabkan oleh kepercayaan yang sejati yang bekerja sama dengan anugerah Allah. Orang yang sudah benar-benar percaya, bila suatu saat jatuh ke dalam dosa, pasti Allah akan menyadarkan dan “memukul” orang itu, sehingga pasti kembali ke jalan yang benar. Bila tidak, maka dapat dipertanyakan apakah orang itu benar-benar percaya atau tidak. Dengan itu, maka dapat disimpulkan bahwa orang yang benar-benar percaya (sejati) pasti diselamatkan Hal ini didukung oleh pengertian yang demikian. Bila seseorang dibaptis (dalam hal ini percaya… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Yohanes, Pertama- tama, kita memang harus menerima, bahwa apakah seseorang pasti dapat diselamatkan, pada akhirnya merupakan keputusan Tuhan. Yang dapat kita ketahui adalah apa yang menjadi syarat- syaratnya, seperti yang telah dinyatakan oleh Tuhan di dalam Sabda-Nya. Namun sejauh mana tiap- tiap pribadi memenuhi ketentuan itu, sesungguhnya hanya Tuhan yang dapat mengetahuinya, dan pengetahuan Allah ini nampaknya akan tetap merupakan misteri bagi kita manusia. Maka terhadap pernyataan anda yang mengatakan, “orang yang benar-benar percaya (sejati) pasti diselamatkan“, saya ingin bertanya, menurut anda, apakah definisi ”orang benar- benar percaya yang sejati” itu? Sebab jika yang dimaksudkan adalah orang yang percaya,… Read more »

Yohanes
Guest
Yohanes

Shalom katolisitas.org, Terima kasih atas jawabannya yang begitu baik. Namun masih ada sedikit pertanyaan bagi saya. Sebelum itu, yang saya maksudkan dengan “orang yang percaya dengan sejati” itu adalah orang yang benar-benar percaya, bukan hanya sekedar dari mulut saja, atau hanya sekedar dibaptis, namun secara sungguh-sungguh. Nah, kemudian, bila materai itu tidak bisa hilang, mengapa harus dipertahankan? Apa yang akan terjadi dengan meterai itu bila kita berdosa berat? Apakah sebenarnya definisi dari meterai itu? KGK 1274 mengatakan bahwa Meterai Tuhan adalah “meterai yang dengannya Roh Kudus telah memeteraikan kita ‘untuk hari penyelamatan'”, namun apakah pengertian dari “meterai” itu sendiri? Kemudian,… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Yohanes, Meterai di jiwa yang diberikan oleh Tuhan sewaktu Baptisan memang sifatnya tetap, artinya tidak terhapuskan. Meterai itu menjadi ‘tanda’ bahwa kita adalah milik Allah. Namun bukan berarti meterai di jiwa itu adalah jaminan kita pasti masuk surga. Tanda itu ada, supaya jika sekalipun kita berdosa berat melawan Allah, namun lalu kita bertobat, kita masih tetap mempunyai status ‘anak’ Allah. Analoginya adalah kisah perumpamaan Anak yang hilang. Walaupun anak yang bungsu itu telah berdosa berat, namun setelah ia bertobat dan kembali pulang ke rumah bapa, ia tetap dianggap anak, bukan sebagai hamba; dan ia tidak perlu dinobatkan lagi sebagai… Read more »

Ryan10
Guest
Ryan10

Yth katolisitas.
Saya sering menemukan ungkapan sbb: “Lebih baik beriman tetapi tidak beragama daripada beragama tapi tidak beriman.” Biasanya ungkapan ini (dugaan saya) muncul sebagai reaksi atas kekerasan yg mengatasnamakan agama.
Bagaimana pandangan katolisitas ditinjau dari iman Katolik. Mungkinkan kita bisa beriman tanpa harus beragama?
Terima kasih. GBU

Stefanus Tay

Shalom Ryan10, Terima kasih atas pertanyaannya. Implikasi dari kalimat “Lebih baik beriman tetapi tidak beragama daripada beragama tapi tidak beriman.” adalah mensyaratkan bahwa iman dapat dipisahkan dari agama. Mau orang beragama maupun tidak beragama, kalau dia ingin beriman, maka dia harus mendefinisikan iman yang seperti apa. Dia dapat mendefinisikan sendiri dan mengimplementasikannya tanpa mengikuti agama tertentu, dengan konsekuensi apa yang dia definisikan adalah sesuai dengan kemampuan akal budi yang dapat salah dan sering bercampur dengan kepentingan diri sendiri. Dapat terjadi bahwa apa yang terlihat enak dan gampang serta dipandang masuk akal, dia jalankan dan sebaliknya kalau sesuatu yang tidak enak… Read more »

Arif Setiabudi
Guest
Arif Setiabudi

Halo, Beberapa pertanyaan: Fakta yang kita pahami bersama: Untuk masuk ke surga, orang harus suci, tidak boleh ada dosa sedikitpun. Di Katolik diajarkan bahwa jika dibaptis dosa asal dan dosa SAMPAI sebelum dibaptis dihapuskan. Yang artinya dosa sesudahnya tidak (harus melalui ekaristi dan atau pengakuan dosa). Ini dasarnya dari mana (bahwa yang diampuni hanya dosa sampai dibaptis saja). Karena kalau dibaca di 1 Petrus 3:18: Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, …. yang kemudian ayat itu berlanjut ke arah pembaptisan. Ilustrasi kasus: Si A dibaptis, kemudian 10 tahun dia hidup taat dan berbuat baik dalam kasih… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Arif, Terima kasih atas pertanyaannya tentang keselamatan. Sebagai umat Allah, kita memang dituntut menjadi sempurna, seperti Bapa adalah sempurna (lih. Mt 5:48). Mari sekarang kita melihat pertanyaan anda: 1. Apa dasar mengapa dosa pribadi yang diampuni adalah dari awal sampai pada saat dibaptis? Kita mengingat apa yang dikatakan oleh rasul Petrus “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” (Kis 2:38). Baptisan mensyaratkan pertobatan, yaitu berputar haluan, dari jalan kegelapan ke jalan terang. Pertobatan dan penyesalan mengacu kepada apa yang telah diperbuat dan bukan kepada… Read more »

Arif Setiabudi
Guest
Arif Setiabudi

Terima kasih atas jawabannya Pak Stef, Namun ada beberapa hal yang saya masih belum jelas; Di bawah ini dikutip dari kitab Roma (TB, LAI) Jika perbuatan baik = melakukan hukum Taurat, mengapa Paulus berkata: 3:20 Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa. 3:23 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, namun oleh kasih karunia (grace) telah dibenarkan dengan cuma2: 3:24 dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kemudian ditegaskan bahwa bukan berdasarkan perbuatan. Dua ayat… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Arif, Terima kasih atas tanggapan anda. Perbuatan baik tidaklah sama dengan melakukan hukum taurat. Perbuatan baik yang dapat mengantar kita kepada keselamatan adalah perbuatan baik yang bersifat adi-kodrati (supernatural), yaitu perbuatan baik berdasarkan kasih kita kepada Tuhan dan sesama atas dasar kasih kita kepada Tuhan. Perbuatan baik seperti ini mensyaratkan iman, percaya bahwa Tuhan ada dan Dia akan memberikan upah kepada siapa yang mencari Dia (lih. Ibr 11:6). Jadi, dalam perbuatan yang bersifat supernatural, maka Tuhan adalah penggerak utama yang ditanggapi oleh manusia. Pertama, Dia menuntun seseorang kepada pertobatan dan kemudian Baptisan, sehingga menerima rahmat pengudusan dan membuat jiwa… Read more »

Aris
Guest
Aris

Yth. Bp. Stef, Maaf jika pertanyaan saya ini salah tempat karena saya tidak tahu bagaimana harus memasukkannya. Saya ada masalah begini: Seorang katolik pernah bersaksi bahwa untuk menjalani kehidupan agamanya ia merasa tidak perlu sulit-sulit, tidak mau ribet harus begini dan begitu. yang penting bagi dia adalah hidup baik, tidak berbuat dosa, tidak mau menyalahi aturan duniawi, dll. Kalau sekiranya ia merasa salah, ia bertekad untuk tidak mengulanginya. Bagi dia itu saja sudah cukup. Lalu pernah saya kejar dengan pertanyaan, bagaimana bapak dengan kewajiban ke gereja? Ia menjawab gampang, “ngapain ke gereja. Yang penting bagi dia ya seperti apa yang… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X