Apakah Berdoa itu Percuma (bagian 3)

Pendahuluan:

Tulisan ini adalah bagian ke 3 dari topik “Apakah berdoa itu percuma?” (Silakan melihat juga bagian 1, bagian 2, bagian 3, bagian 4) Kesalahan doa yang ketiga adalah memaksakan kehendak kita kepada Tuhan sampai ingin mengubah Tuhan untuk mengikuti keinginan kita. Pendapat ini keliru, karena Tuhan adalah Maha tahu dan Maha sempurna, sehingga Tuhan tidak dapat berubah.

Mengapa kita berdoa?

Doa sudah menjadi bagian hakiki dari kehidupan semua orang dari semua agama, karena manusia diciptakan dengan kapasitas untuk mengetahui dan mengasihi Penciptanya. ((31, 356, 1721, 2002.)) Dalam tulisan pertama telah dibahas kesalahan persepsi doa, yaitu: Tuhan tidak campur tangan dalam kejadiaan di dunia ini. Dalam tulisan ke-2, kita telah melihat kesalahan pendapat yang mengatakan semuanya sudah diatur dan ditakdirkan oleh Tuhan, sehingga tidak perlu lagi berdoa. Dengan pembuktian yang sama dari St. Thomas Aquinas, kita akan menelusuri kesalahan persepsi kita tentang doa yang ke-3. ((St. Thomas Aquinas, ST, II-II, q.83, a.2.))

Kesalahan 3: Berdoa dapat mengubah keputusan Tuhan dan Alkitab sendiri mengajarkan bahwa doa manusia dapat merubah keputusan Tuhan.

Dalam hidup sehari-hari, kita sering mendengar pendapat bahwa berdoa sangatlah penting, karena kita dapat memenangkan hati Tuhan dan mengubah keputusan-Nya. Kita harus berdoa dengan sungguh-sungguh, sehingga Tuhan berbelas kasih kepada kita dan kemudian mengubah keputusan-Nya sesuai dengan kemauan kita. Bahkan jika kita berdoa dalam nama Yesus, apa yang kita minta pasti akan dikabulkan.

Perjanjian Lama mencatat cerita tentang nabi Nuh, di mana Tuhan menyesal bahwa Dia telah menciptakan manusia (Kej 6:5-6). Lalu Abraham, berdoa bagi orang-orang di Sodom dan Gomorah, seolah-olah bernegosiasi dengan Tuhan (Kej 18:23-33). Musa berdoa dengan sungguh-sungguh bagi kaum Israel, sehingga kemarahan Tuhan tidak terjadi (Kel 32:7-14). Bukankah semua itu adalah tanda bahwa keputusan Tuhan dapat berubah?

Di Perjanjian Baru, Yesus sendiri mengatakan, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan” (Mat 7:7-8). Kemudian, Yesus juga mengatakan bahwa apa saja yang kita minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, maka kita akan menerimanya (lih. Mat 21:22). Dan kembali Yesus menegaskan “apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu” (Mar 11:24). Ayat- ayat ini sepertinya mengatakan bahwa Yesus akan mengabulkan doa kita sesuai dengan permintaan kita.

Tuhan tidak berubah

Mari kita meneliti lebih jauh tentang pendapat ini. Pertama, apakah benar bahwa kita dapat mengubah keputusan Tuhan? Kalau kita percaya bahwa Tuhan adalah Maha Tahu, Maha Sempurna, maka konsekuensi logis dari pernyataan ini adalah “Tuhan tidak mungkin berubah“. Berubah adalah suatu pernyataan yamg mempunyai implikasi perubahan dari sesuatu yang kurang baik menjadi lebih baik atau sebaliknya. Padahal di dalam Tuhan tidak ada perubahan (lihat artikel: Bagaimana Membuktikan Bahwa Tuhan Itu Ada?). Karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Sempurna, maka sebelum dunia ini diciptakan Dia telah mengetahui secara persis apa yang terjadi, juga keinginan dan permohonan doa kita. Dan di dalam kebijaksanaan dan kasih-Nya, Dia tahu secara persis apa yang terbaik buat kita. Jadi kalau kita mengatakan Tuhan dapat berubah karena doa kita, maka sebetulnya kita membuat kontradiksi tentang hakekat Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Sempurna, seolah-olah kita “lebih tahu” apa yang terbaik buat kita daripada Tuhan. Hal ini tentu tidak mungkin.

Pengajaran bahwa “Tuhan tidak mungkin berubah dalam hal pengabulan doa” ini termasuk sulit diterima, karena sering tanpa sengaja kita berpikir bahwa proses pengabulan doa oleh Tuhan itu adalah proses yang linier. Kita memohon tentang hal A, lalu Tuhan dapat mengabulkan atau tidak, yang baru Tuhan putuskan pada saat/ setelah kita memohon. Padahal tidaklah demikian. Tuhan sudah terlebih dahulu mengetahui segala kemungkinan yang akan terjadi, sebagai hasil dari pilihan kehendak bebas kita, pada saat awal mula dunia. Pada saat kita memohon A, Dia sudah mengetahui bahwa Ia akan menjawab dengan B, atau kalau kita memutuskan untuk tidak berdoa, dan berbuat X, Dia sudah tahu akan memberi Y. Dalam hal ini, B selalu lebih baik daripada A, dan Y adalah konsekuensi dari X. Nah, kalau kita bertanya akankah B diberikan kalau kita tidak berdoa, jawabnya adalah tidak (yang diberi adalah Y). Makanya kita perlu berdoa. Dalam hal ini Tuhan tidak berubah, karena dengan sifatNya yang Maha Tahu, Tuhan telah mengetahui segalanya. Nothing takes God by surprise. Tidak ada sesuatu hal yang mengejutkan Tuhan, sehingga Ia perlu berubah. Ia sudah mengetahui segalanya dan segala sesuatu telah direncanakan-Nya dengan sempurna.

Sekarang kita melihat contoh kejadian di Perjanjian Lama. Perkataan “Tuhan menyesal” dalam kisah nabi Nuh adalah suatu perkataan yang mencoba mengekpresikan Tuhan dari sisi manusia. Tuhan tidak berubah dan menyesal, karena Dia adalah Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Semua keputusan-Nya berdasarkan kebijaksanaan dan Kasih-Nya untuk keselamatan umat manusia.

Bagaimana dengan Abraham dan Musa yang seolah-olah bernegosiasi dengan Tuhan? Dalam hal ini, kita harus memegang teguh prinsip bahwa Tuhan tidak mungkin berubah, yang artinya tidak memungkinkan adanya negosiasi. Abraham dan Musa adalah merupakan gambaran/prefigurement dari diri Yesus. Kita juga melihat bagaimana Kitab Suci menggambarkan kedekatan mereka dengan Tuhan. Mereka tidak memikirkan kepentingan pribadi. Dalam pemikiran Abraham dan Musa, membantu manusia menuju Tanah Terjanji dan memberikan kemuliaan kepada Tuhan adalah yang paling penting dalam hidup mereka. Dan ini adalah sama dengan pemikiran Tuhan. Ini hanya mungkin dicapai pada orang-orang dengan derajat kasih yang begitu tinggi (dalam kadar “heroic love“). ((Reginald Garrigou-Lagrange, Christian Perfection and Contemplation: According to St. Thomas Aquinas and St. John of the Cross (Tan Books & Publishers, 2004), p.147 Lagrange membagi derajat kasih menjadi tiga, dimana terdiri dari: 1) Pemula (beginners) adalah mereka yang usahanya berfokus pada perjuangan untuk melawan dosa, 2) tahap pencerahan (Illuminative way), dimana mereka membuat kemajuan di dalam kebajikan dalam terang iman dan kontemplasi. 3) Tahap sempurna (unitive way/ heroic love), dimana mereka hidup dengan persatuan kasih yang begitu erat dengan Tuhan.)) Jadi terkabulnya doa bukan berarti mereka dapat mengubah keputusan Tuhan, namun karena 1) mereka diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam karya keselamatan, yang pada akhirnya dipenuhi secara sempurna dalam diri Yesus Kristus (KGK, 2574), 2) kedekatan mereka dengan Tuhan, sehingga apa yang mereka pikirkan dan doakan adalah sesuai dengan keinginan Tuhan (KGK, 2577).

Tuhan mengubah kita melalui doa.

Memang keputusan Tuhan tidak dapat berubah, karena Dia Maha Tahu dan Maha Sempurna. Namun Tuhan menginginkan kita mengikuti jejak Abraham dan Musa, agar kita turut berpartisipasi dalam pekerjaan Tuhan, salah satunya yaitu dengan berdoa. Jadi, kita berdoa bukan untuk mengubah keputusan Tuhan – karena itu tidak mungkin – namun mempersiapkan sikap hati kita untuk menerima apa yang kita minta dalam doa ((St. Thomas Aquinas, ST, II-II, q.83, a.2 – St. Thomas mengutip St. Gregory “By asking, men may deserve to receive that almighty God from all eternity is disposed to give.”)) atau mengubah sikap hati kita jika doa kita tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Di dalam kebijaksanaan dan kasihNya, Tuhan telah melihat bahwa kita akan menerima suatu jawaban doa lewat doa-doa yang kita panjatkan. Jadi di dalam kasus Abraham dan Musa, sebelum terbentuknya dunia ini, Tuhan sudah melihat bahwa Abraham dan Musa akan berpartisipasi dalam karya keselamatan bangsa Israel, dan doa mereka dikabulkan oleh-Nya lewat doa-doa mereka yang mengalir dari kasih.

Hal lain yang penting adalah, dengan bertekun dalam doa, kita tidak mengubah Tuhan, namun kita diubah oleh Tuhan. Kita melihat contoh dari Rasul Paulus, ketika dia berdoa agar Tuhan “mengambil duri di dalam dagingnya” ((Orchard, A Catholic Commentary on Holy Scripture (Thomas Nelson & Sons, 1953), p.1110. Dijelaskan bahwa duri di dalam daging dapat berarti tubuh atau juga pikiran, yang menjadi bagian dari manusia. Pengarang disini mencoba membuka arti yang luas dari duri di dalam daging, baik tubuh secara jasmani, atau juga dapat berarti keinginan untuk berbuat dosa (concupiscence).)) , namun doanya tidak dijawab Tuhan menurut kehendak St. Paulus (2 Kor 12:7-10). Namun dengan kejadian ini, Rasul Paulus mendapatkan sesuatu yang lebih baik, bahwa dia menjadi rendah hati dan tidak bermegah dengan berkat-berkat yang sudah diberikan Tuhan kepadanya. Bahkan Rasul Paulus dapat menerima dengan senang dan rela menghadapi segala kesulitan, siksaan, tantangan untuk kemuliaan nama Tuhan. Dari sini, kita melihat Rasul Paulus diubah oleh Tuhan, untuk menerima kehendakNya seperti yang difirmankan-Nya,”… sebab dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor 12:9).

Tapi Yesus menyuruh untuk meminta, mencari, mengetok, dan apa saja yang kamu minta akan diberikan.

Mari sekarang kita menelaah perkataan Yesus dalam Mat 21:22 dan Mar 11:24. Yesus mengatakan bahwa kalau kita mendoakan dengan penuh kepercayaan bahwa kita telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepada kita. Kalau kita membaca dengan seksama, kita harus melihat bahwa kunci dari ayat ini adalah “iman” (Mat 21:21; Mar 11:22). Iman yang ditekankan di sini adalah iman yang hidup. Iman yang bukan cuma slogan, hanya dimulut, namun tanpa perbuatan (Yak 2:26). Iman seperti ini adalah iman dan percaya yang dicontohkan oleh Abraham dan Musa. Iman yang menempatkan kebenaran Tuhan lebih tinggi daripada kepentingan sendiri (KGK, 150). Iman seperti inilah yang membuat doa menjadi selaras dengan apa yang dipikirkan dan diinginkan oleh Tuhan. Dengan kata lain, karena sesuai dengan kehendak Tuhan, maka doa yang mengalir dari iman seperti ini akan dikabulkan oleh Tuhan. Iman seperti ini hanya meminta sesuatu yang berguna untuk keselamatan kekal, permohonan yang baik untuk menuju ke kehidupan kekal. Ini juga bisa berarti sesuatu yang sifatnya sementara sejauh ini mendukung kita menuju tujuan akhir.

Namun bukankah Yesus sendiri juga mengatakan bahwa setiap orang yang meminta, mencari, dan mengetok akan dipenuhi permintaannya? (Mat 7:7-8). Ayat inilah yang sering dipakai untuk menekankan bahwa doa yang sungguh-sungguh dan terus-menerus dapat mengubah keputusan Tuhan. Namun, apakah kalau doa tidak sesuai dengan kehendak Tuhan maka akan dikabulkan? Bagaimana kita tahu bahwa doa kita sesuai dengan kehendak Tuhan? Kalau kita perhatikan, Yesus tidak berkata kalau kamu minta A, maka kamu akan mendapatkan A. Berdasarkan kasih dan kebijaksanaan-Nya, kadangkala Tuhan memberikan sesuatu yang sama sekali lain dari yang kita minta. Dia tahu yang terbaik buat kita melebihi pengetahuan dan kasih kita akan diri kita sendiri. Jadi, kalau dalam beberapa hal Tuhan tidak mengabulkan doa kita, hal ini disebabkan karena Tuhan mengasihi kita. (pembahasan lengkap tentang ayat ini dapat dilihat di: Apakah Berdoa itu Percuma – bagian 4).

Kita sering melihat atau mendengar cerita bahwa suatu keluarga berdoa sungguh-sungguh untuk kesembuhan anggota keluarga mereka, namun yang terjadi adalah bertolak belakang dengan apa yang diminta dalam doa. Masih teringat di hati umat Katolik seluruh dunia, ketika Paus Yohanes Paulus II terbaring sakit menjelang ajalnya dan semua orang mendoakan Paus yang kita kasihi. Namun doa seluruh umat beriman tidak mengubah keputusan Tuhan. Mungkin ribuan atau jutaan perayaan ekaristi dirayakan dengan intensi doa untuk kesembuhan Paus, namun tidak dapat mengubah keputusan Tuhan. Mungkin ratusan juta umat Katolik – termasuk dari umat Katolik yang benar-benar hidup kudus – berdoa secara pribadi untuk kesembuhan Paus, namun Paus tetap dipanggil Tuhan.Tuhan, di dalam kebijaksanaan-Nya tetap memanggil hamba-Nya yang setia. Bukan karena Dia tidak mendengar doa kita, tapi karena Dia tahu yang paling baik untuk kita dan juga untuk Gereja-Nya.

Namun melalui peristiwa tersebut, begitu banyak orang di dunia ini, termasuk yang tidak mengenal Kristus, yang tidak percaya akan Gereja Katolik sebagai Gereja Kristus, anak-anak muda yang tadinya suam-suam kuku terhadap iman Katolik mereka, tergugah oleh kejadian tersebut. Dan misa pemakamannya menjadi acara pemakaman paling besar dalam sejarah umat manusia. Paus Yohanes Paulus II dalam kematiannya melakukan karya pewartaan yang menjangkau banyak orang, mungkin lebih banyak daripada semasa dia hidup. Dan nama Tuhan dipermuliakan. Dari contoh tersebut, bukan kita yang mengubah Tuhan melalui doa kita, namun kita yang diubah oleh Tuhan untuk kebaikan kita.

Kalaupun doa kita dikabulkan, bukan berarti bahwa kita berhasil untuk mengubah Tuhan, namun sebelum terjadinya dunia ini, dalam kebijaksanaan-Nya dan kasih-Nya, Tuhan sudah melihat adalah baik untuk keselamatan kita dan orang-orang di sekitar kita untuk mengabulkan doa kita. Jadi, janganlah beranggapan bahwa jika ada doa dikabulkan itu disebabkan karena ‘melulu’ permohonan kita. Sebab sesungguhNya pengabulan doa adalah sepenuhnya kehendak Tuhan. Dengan demikian, tidak ada yang dapat dibanggakan dari diri kita. Kita ‘hanya’ patut bersyukur bahwa Tuhan memberi kesempatan pada kita untuk turut mendatangkan kebaikan kepada kita dan sesama melalui doa-doa kita. Maka sikap yang terbaik adalah seperti Bunda Maria, “Terjadilah padaku seturut perkataanMu, ya Tuhan” (Luk 1:38). Mari di dalam keterbatasan kita, kita percayakan doa-doa kita kepada Tuhan dan meyakini bahwa Tuhan lebih bijaksana untuk memutuskan apakah doa kita baik untuk keselamatan jiwa kita. Mari kita juga berpartisipasi dalam karya keselamatan Tuhan melalui doa dan perbuatan yang mengalir dari kasih kita kepada Tuhan, untuk mendatangkan kebaikan buat diri kita dan semua orang.

Marilah kita berdoa.

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.

Ya, Tuhan, kembali aku menghadap-Mu, mengakui bahwa Engkau Maha Tahu dan Maha Sempurna. Dalam keterbatasanku, berilah aku kepercayaan kepada-Mu, bahwa segala yang Engkau putuskan adalah demi kebaikanku. Jangan biarkan aku memaksakan kehendakku, ya Bapa, melainkan biarlah kehendak-Mu saja yang terjadi dalam kehidupanku sebab aku percaya, itulah yang terbaik bagiku. Dalam nama Yesus, aku naikkan doa ini.

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.

29
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
7 Comment threads
22 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
15 Comment authors
yusup sumarnopardoharCaecilia Triastutitomy kingagustinus Recent comment authors
pardohar
Guest
pardohar

syalom .. setelah membaca artikel di atas saya jadi ingat amanat agung yang di perintahkan Tuhan Yesus untuk memberitakan Injil Keselamatan sampai ke ujung bumi. Seandainya perintah ini dijalankan tentunya akan memberi manfaat kepada yang menjalankannya baik terasa secara langsung maupun tidak langsung. Sebagai mantan marketing saya merasa dikuatkan oleh penolakan penolakan dari prospek saya. Soal rencana atau schedule saya, selalu saya buat jadwal harian untuk prospek saya sebagai marketing. Sebelum saya menjalankanya jadwal yang telah saya susun itu, saya serahkan prospek saya itu kepada Tuhan, dalam doa permohonan. Dan apapun yang terjadi tidak merubah iman saya, bahwasanya penderitaan saya… Read more »

pardohar
Guest
pardohar

benar itu, jaman sekarang sangat diperlukan didikan dan keteladanan. Didikan tanpa keteladan tentunya tidak berdampak systematic. (maap saya pake Inggris dikit)

yusup sumarno
Guest
yusup sumarno

sdr pardobar.ada 2 hal yang ingin saya katakan. 1. jika anda tidak mau dan tidak mampu hidup selibat, mengapakah anda seperti terusik dengan orang yang punya pilihan hdup selibat.apa untungnya buat anda dan keluarga anda. bukankah lebih baik pusatkan perhatian dan cinta anda pada keluarga anda. itu lebih bermanfaat. anda protes dg orang yg hdup selibat juga tdk ada gunanya krn Gereja Katolik konsisten dari awal hingga kini dan nanti. 2. Allah punya banyak cara untuk memanggil orang hidup selibat. bahkan tidak menutup kemungkinan cara itu adalah melalui patah hati. pada awalnya mau jadi imam krn patah hati tidak masalah,… Read more »

pardohar
Guest
pardohar

syalom pak Yusuf terimakasih atas respons bapak terhadap tanggapan saya atas artikel yang saya telah baca pada media ini. Semoga usaha kita yang tanpa pamrih ini diatur balasannya oleh Bapa kita di sorga. amin.

yusup sumarno
Guest
yusup sumarno

Kembali kasih pak Pardohar. Intinya saya mau katakan bahwa hidup selibat di zaman sekarang tidaklah mudah (meski saya berkeluarga). jadi alangkah tepat jika kita menghormati keputusan mereka terlepas dari motif awalnya, karena selanjutnya motif itu bisa dimurnikan. bahwa ada orang yang hidup selibat “tidak baik” itu adalah kenyataan (krn ya memang tantangannya besar sekali). itu juga berlaku pada yang hidup berkeluarga (banyak yang “gak bener”). jadi kita tidak bisa membuat generalisasi, karena ada selibater yang hidup baik bahkan kudus (santo/santa/beato/beata) dan ada juga keluarga yang baik bahkan kudus (banyak santo/santa yang tidak selibat). Marilah kita doakan mereka semua yang hidup… Read more »

Benny
Guest
Benny

Shalom katolisitas,

Bagaimana dengan Doa Novena, apakah penafsiran kita sama dengan yang di atas? Karena banyak doa novena yang “berhasil dan terkabul”. Atau, sama seperti di atas, Bunda Maria misalnya sebagai perantara kita dan hidupnya benar di mata Tuhan akan lebih didengarkan dibanding kita meminta seorang diri? Apakah sebenarnya tujuan kita memohon perantaraan para kudus?

Mohon penjelasannya,

Terima Kasih.

Shalom,

Benny

Ingrid Listiati
Member

Shalom Benny, Dari sudut pandang manusia memang seolah- olah doa dapat mengubah keputusan Tuhan, namun jika dari sudut pandang Tuhan Yang Maha Tahu, Ia sudah mengetahui akan segala yang akan terjadi pada kita, walaupun Ia tidak menakdirkannya demikian, sebab di dalam segala sesuatu ada campur tangan kehendak bebas kita. Dalam hal inilah kita melihat bahwa di dalam pengabulan doa, Tuhan melibatkan kesungguhan kita berdoa, dan kerendahan hati kita untuk memohon dukungan doa dari orang- orang kudus  yaitu para Santa/o yang sudah dibenarkan oleh Tuhan di Surga, sebab besarlah kuasa doa mereka (lih. Yak 5:16). Silakan membaca lebih lanjut di artikel-… Read more »

leonard
Guest
leonard

Syaloom Bu Inggrid atau Pak Stef Sebenarnya pertanyaan Benny sama dengan saya setelah membaca link2 diberikan serta artikel “Apakah Umat Katolik harus berdoa Melalui Bunda Maria?” Ketika saya baca artikel ttg doa, saya jadi tidak mengerti hal dalam disposisi hati ketika berdoa dan pengabulan doa, serta masih awam ttg berdoa bersama Bunda Maria serta para kudus. Tetapi seiring waktu dengan doa dan membaca artikel dan juga jawaban dari Ibu Ingrid ttg doa di Bab 4-5 lagi saya jadi berpikir dan mau minta konfirmasi apakah benar pemikiran saya 1.ketika di bilang doa itu mengubah kita sebenarnya, masalah dikabulkan atau tidak ya… Read more »

agustinus
Guest
agustinus

Pertanyaan Saat saya memberikan renungan tentang Maria di lingkungan. Saya sampaikan bahwa 1. Maria adalah perantara rahmat Allah 2. Maria bukan Allah dan Maria adalah manusia biasa 3. yang mengabulkan doa kita adalah Tuhan bukan Maria 4. pengantara satu satunya antara Allah dan manusia adalah Yesus Kristus 5. bunda Maria tidak memerlukan gelar apapun, karena Maria adalah orang yang rendah hati, gereja lah yang memberikan gelar kepada Maria 6. setiap doa bersama Maria belum tentu dikabulkan karena doa yang kita sampaikan tidak sesuai dengan kehendak Allah. Dan apa yang terjadi, saya langsung dibantah karena pemahaman yang saya sampaikan tidak sesuai… Read more »

leonard
Guest
leonard

Syalom pengurus Katolisitas.org Di artikel jamahan Tuhan dalam Sakramen Pengurapan Orang Sakit ada sharing dr penulis ttg kejadian retreat di Filipina. Saya copy pastein “Mungkin saya dapat membagikan cerita mengenai hal ini, lewat kesaksian pastor pembimbing saya sewaktu saya tinggal di Filipina, yaitu Pastor Bob. Pastor Bob menceriterakan pengalamannya saat ia rutin mengunjungi rumah sakit. Suatu hari ia mengunjungi seorang ibu yang terkena multiple sclerosis yang menyebabkan ia harus diamputasi kedua lengan dan kakinya sampai ke pangkal paha. Ia menjadi sangat putus asa dan merasa tidak berguna. Pada saat itulah Pastor Bob mengunjungi dia dan memberikan Sakramen Pengurapan Orang sakit.… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom  Leonard, Sejujurnya, karena kita bukan Tuhan, maka kita tidak dapat mengetahui, apakah kalau ibu itu tidak mendoakan anak- anak yang mengikuti retret itu maka yang bertobat menjadi sedikit. Sebab berandai- andai memang bisa saja, tetapi kita tidak dapat mengetahui jawaban yang pasti. Ini serupa dengan berusaha mengandaikan, jika Bunda Maria tidak menjawab ‘Ya’ pada kabar gembira Malaikat, apakah Tuhan Yesus tidak jadi menjelma menjadi manusia? Maka berandai- andai di sini tidaklah berguna, sebab pada kenyataannya, Bunda Maria menjawab ‘Ya’. Demikian juga, sang ibu itu juga menjawab ‘Ya’ untuk mendoakan anak- anak pada retret tersebut. Dan sebagai kelanjutan dari kesediaan… Read more »

jufrans
Guest
jufrans

syalom tim katolisitas..!!saya msh bingung dengan artikel mengenai Doa, pada bagian 3 ini ada kalimat “Tuhan sudah terlebih dahulu mengetahui segala kemungkinan yang akan terjadi, sebagai hasil dari pilihan kehendak bebas kita, pada saat awal mula dunia” dan “Nothing takes God by surprise. Tidak ada sesuatu hal yang mengejutkan Tuhan, sehingga Ia perlu berubah. Ia sudah mengetahui segalanya dan segala sesuatu telah direncanakan-Nya dengan sempurna.” dari kedua pernyataan ini anda sendiri menyimpulkan bahwa Semua sudah diatur dan ditakdirkan Tuhan, sehingga berdoa tidak mengubah apapun.”padahal dibagian 2 anda menolak pernyataan tersebut..!!!coba diperhatikan baik-baik,,keduanya saling melengkapi hanya saja anda memperhalus penyampaiannya…!thanks
Gb

Alexander Pontoh
Guest
Alexander Pontoh

jadi… doa seperti novena tiga salam maria yang untuk permohonan pun sebenarnya… tidak mungkin mengubah Tuhan ya?
jadi doa novena tiga salam maria adalah untuk mengubah diri kita agar mau menerima kehendak Tuhan?
kenapa ada doa novena tiga salam maria yang untuk permohonan?
Novena Tiga Salam Maria (http://www.gerejakatolik.net/devosi/ntsm.htm)
kemudian…. lima belas doa ini… (http://www.pondokrenungan.com/isi.php?tipe=Doa&table=issi&id=1058) apakah benar di”restu’i oleh vatican?

georgius
Guest
georgius

Syallom…. Dari uraian Bapak Stef dan Bapak Gamaliel sungguh saya semakin kaya pemahaman, terus terang saya adalah orang awam. dan mencoba menjalani hidup ini dengan pemikiran yang sederhana…. Sedikit perspektif dari diri saya, saya memberanikan diri untuk ikut menuangkan pemikiran saya.. Jika salah, mohon bimbingannya : 1. Jika kita ingin mengikuti Yesus, konsekuensinya kita siap untuk memanggul salib… Menurut pemahaman sederhana saya, bahwa dengan mengikuti Yesus, maka kita tidak akan luput dari masalah.. atau dengan mengikuti Yesus bukan berarti bebas dari masalah.. ( dg adanya masalah menjadikan diri kita semakin dewasa dan bijaksana). 2. Ketuklah pintu maka akan dibukakan, mintalah…..… Read more »

Machmud
Guest
Machmud

Salam damai sejahtera BERDOA ITU MEMBUANG WAKTU ? Semua orang2 yang indah2 dalam Alkitab itu orang yang suka dan tekun berdoa. Juga orang2 rohani yang sukses pada zaman sekarang ini semuanya adalah orang2 yang tahu berdoa, tekun dan suka berdoa. Rahasia orang2 yang ber-buah2 di-mana2 di seluruh dunia selalu sama, yaitu sebab suka berdoa dan bertekun dalam Firman Tuhan. Sebab itu Firman Tuhan selalu mendorong dan menganjurkan untuk bertekun dalam doa dengan limpah senantiasa. 1Tes 5 : 17 (dan berdoa dengan tiada berkeputusan) Efe 6 : 18 (dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Machmud, Ya, memang sebagai murid-murid Kristus, sudah selayaknya kita rajin berdoa. Doa merupakan nafas iman, sehingga jika kita mengaku beriman kepada Tuhan Yesus, maka kita harus memandang doa sebagai suatu yang tak terpisahkan dari hidup rohani kita. Doa merupakan saat-saat indah kita bersama Tuhan, di mana kita masuk dalam hadirat Tuhan dan berkomunikasi dengan Dia. Kita memang dapat mengkhususkan waktu untuk berdoa, entah satu jam, atau dua jam sehari, namun yang terpenting juga adalah untuk selalu mengikutsertakan Tuhan dalam segala kegiatan kita sepanjang hari. Sebab, dengan ini, kita sungguh dapat menyatukan pikiran, perkataan dan perbuatan dengan doa, dan mempersembahkan… Read more »

Gamaliel
Guest
Gamaliel

Saudara Stef yang baik, terimakasih atas uraian Anda tentang doa. Sungguh, jujur dan tulus saya mengatakan tulisan ini menjernihkan banyak hal tentang doa. Semoga semakin banyak orang dapat lebih memahami doa sehingga dapat berdoa dengan semakin baik pula! Tuhan memberkati karya dan pelayanan Saudara dan teman-teman! Perkenankan saya untuk memberi sedikit gambaran lain dan sedikit tambahan mengenai paham doa yang Saudara Stef tuliskan, terutama terkait tulisan ke-3 ini: Kesalahan persepsi doa (bagian 3): “Berdoa dapat mengubah keputusan Tuhan.” Pada prinsipnya, saya bisa memahami uraian Anda, tetapi saya ingin pula mengajak memperhatikan sisi lainnya. Memang cukup sulit untuk menimbang hal ini:… Read more »

Perdhana
Guest
Perdhana

Saya setuju dengan uraian dari saudara Gayus …. Menurut pandangan saya, Tuhan tidak berubah … yang tidak akan berubah adalah Kasih-Nya , yg tetap dahulu, sekarang, dan selamanya. Kodrat Tuhan yg tidak berubah, yaitu Tuhan tidak bisa, tidak mengasihi, karena Dia adalah Kasih. Doa kepada jiwa-2 di api penyucian, bukankah dapat mengurangi waktu yg harus mereka habiskan disana ? mengubah keputusan-Nya, tapi tidak merubah Kasih-Nya. Keputusan Yesus pun berubah, karena kasih-Nya kepada Bunda Maria ….. waktu perjamuan di Kana. Dan Yesus sendiri berkata, ini belum saatnya …. “Karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Sempurna, maka sebelum dunia ini diciptakan Dia… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X