Apa artinya menjadi Katolik?

“Kamu masih Katolik?”

Pertanyaan ini mungkin terdengar janggal, tetapi pertanyaan ini pernah ditanyakan kepada saya belasan tahun yang lalu, oleh teman masa kecil saya. Sewaktu remaja dulu, kami pernah sama-sama aktif di paroki, menjadi anggota Legio Mariae dan anggota salah satu koor di paroki kami. Kini ia telah berpindah ke gereja non-Katolik, karena konon ia lebih dapat bertumbuh secara rohani di sana. Dia begitu antusias mengisahkan pengalaman barunya di komunitas tersebut, dan kemudian menanyakan pertanyaan yang mengusik hati saya, “Kalau kamu bagaimana, masih Katolik, ya?” Seolah menjadi Katolik itu sesuatu keputusan yang kurang tepat dan harus diubah. Saya menjawabnya lirih, “Ya, saya masih Katolik, dan saya akan tetap Katolik….” Tapi saya tidak tahu bagaimana melanjutkan kalimat itu. Saya bersyukur, seiring dengan berjalannya waktu, melalui ajaran iman dan pengalaman hidup, sedikit demi sedikit, kutemukan jawabannya….

Menjadi Katolik artinya menerima dengan iman, wahyu Tuhan dan undangan-Nya kepada persatuan dengan-Nya

Sebagai murid Kristus, kita tidak hanya mengikuti sebuah buku, tetapi Seorang Pribadi, yaitu Yesus Kristus. Itulah sebabnya kita disebut sebagai “Christ-ian” atau Kristiani/ Kristen. Pribadi yang kita ikuti dan kita jadikan pusat dalam hidup kita ini, adalah Pribadi yang mengasihi kita, yang menyatakan kasih-Nya itu dan mewahyukan Diri-Nya secara penuh kepada kita. Karena kasih-Nya yang sempurna inilah, Kristus ingin terus tinggal di tengah kita dan bersekutu/ bersatu dengan kita. Sebab kasih selalu menginginkan kebersamaan. Kristus menghendaki kebersamaan atau persekutuan antara kita dengan Dia, atas dasar kasih dan kebenaran, sebab Ia Allah yang adalah Sang Kasih (1 Yoh 4:8) dan Kebenaran (Yoh 14:6). Maka menjadi Katolik, pertama-tama adalah menanggapi dengan iman, pewahyuan Allah dan undangan-Nya kepada persatuan (komuni) dengan-Nya. Maka, menjadi Katolik adalah menjadi seorang Kristiani, titik. Sebab seorang Kristiani sudah seharusnya menerima segala yang diwahyukan Allah di dalam Kristus.

Iman yang dimaksud di sini, menurut Konsili Vatikan II,[1] Katekismus[2], dan pengajaran Paus Yohanes Paulus II[3] adalah iman yang terdiri dari dua unsur. Yang pertama adalah unsur pribadi, yaitu percaya kepada Allah, akan segala kasih dan kebijaksanaan-Nya, sehingga kita mau menyerahkan diri kita tanpa syarat kepada-Nya. Dengan kata lain, kita lebih percaya akan kebijaksanaan Allah daripada kebijaksanaan diri sendiri untuk menentukan kebahagiaan kita, dan kita lebih percaya akan kuasa rahmat-Nya daripada kekuatan sendiri untuk mencapainya. Yang kedua adalah unsur obyektif, yaitu kita percaya akan isi wahyu yang diberikan Tuhan, dan memegangnya sebagai sesuatu yang ilahi. Maka unsur pertama adalah percaya kepada Allah yang mewahyukan dan unsur kedua adalah percaya kepada apa yang diwahyukan-Nya. Dengan demikian, iman dapat digambarkan dengan perkataan ini: “Kalau Tuhan yang saya percayai sebagai Pribadi yang baik, penuh cinta kasih, dan bijaksana, telah mewahyukan sesuatu kepada saya, maka atas hormat dan kasih kepada-Nya, saya mau menerima apa yang diwahyukan-Nya itu.”

Keempat Tanda Gereja sejati: satu, kudus, katolik, apostolik

Iman Katolik mengajarkan bahwa Tuhan yang kepada-Nya kita percaya, telah berbicara melalui Kristus, Putera-Nya (lih. Ibr 1:1-4). Sebab Allah mewahyukan bahwa Ia yang dalam Perjanjian Lama juga disebut sebagai Yahweh, Adonai, atau Yehovah, adalah satu dan sama hakekatnya dengan Yesus Kristus, sebab Kristus mengatakan, “Bapa dan Aku adalah satu.” (Yoh 10:30). Kristus yang sama ini mendirikan Gereja-Nya (lih. Mat 16:18) yang oleh kuasa Roh Kudus, diberi karunia kesatuan, kekudusan, keseluruhan dan kesinambungan dengan jalur apostolik di sepanjang sejarah. Dengan mendirikan Gereja-Nya, dan memberikan kuasa kepada Gereja untuk membaptis dan mengajarkan semua perintah-Nya (lih. Mat 28:19-20), Kristus menjadikan Gereja sebagai sarana yang perlu untuk keselamatan.

Peran Gereja sebagai tanda dan sarana keselamatan, di mana Allah terus melaksanakan karya penyelamatan-Nya, secara sempurna dinyatakan dalam perayaan Ekaristi. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Gereja lahir dari Ekaristi, dan Ekaristi lahir dari Gereja. Sebab Gereja lahir/ memperoleh hidupnya dari pengorbanan Kristus.  Sakramen-sakramen sebagai peringatan akan pengorbanan Kristus itu- terus menghidupi Gereja, dan Gereja terus menghadirkannya.[4]

Tanda apostolik menjamin kesatuan, kekudusan dan kekatolikan Gereja

Mungkin ketiga tanda Gereja yaitu satu, kudus dan katolik (universal), lebih mudah diterima, daripada tanda yang terakhir, yaitu apostolik. Namun sejujurnya tanda yang keempat ini merupakan tanda yang paling jelas menunjukkan bahwa seperti halnya dahulu Kristus hadir secara aktif di tengah para Rasul, kini, Ia-pun hadir secara aktif di tengah Gereja-Nya. Meskipun Ia sudah bangkit dan naik ke surga, Kristus tetap hadir dan melanjutkan misinya di dunia, di dalam Gereja dan melalui Gereja. Maka ada hubungan yang tak terpisahkan antara Kristus dan Gereja. Gereja itu satu, kudus dan katolik, sebab Kristus itu satu, kudus dan katolik, dan Ia kini tetap hadir dalam Gereja-Nya sampai akhir zaman.

Bahwa Kristus dapat hadir di tengah umat-Nya dalam berbagai cara, namun ada satu cara yang dikehendaki-Nya, dan menjadi pusatnya. Pusat ini adalah kehadiran Kristus yang nyata dalam Ekaristi, yang menjadi sumber dan puncak kehidupan kita sebagai umat Kristiani (lih. KGK 1324). Iman Katolik mengajarkan bahwa terdapat hubungan yang tak terpisahkan antara sifat apostolik dengan kehadiran Kristus yang nyata dalam Ekaristi. Paus yang adalah penerus Rasul Petrus, menjadi tanda yang menghubungkan Gereja masa kini dengan Gereja di zaman para Rasul. Sebagai prinsip yang menyatukan, Paus menjamin kesatuan kolese para Uskup -yang adalah penerus para Rasul- yang menjadi tanda kesatuan antara Gereja partikular/ lokal dengan Gereja universal. Kesatuan ini bukan hanya semata saling mengakui keberadaan masing-masing, atau sebagai hasil hubungan timbal balik antara gereja-gereja. Namun kesatuan ini adalah kesatuan yang timbul dari dalam, yang hasilnya adalah hadirnya Gereja universal dengan semua elemen dasarnya, di dalam setiap gereja-gereja partikular tersebut.

Kehadiran Kristus secara nyata dalam Gereja, secara khusus dalam Ekaristi dijamin oleh karunia sifat apostolik yang melayani ketiga tanda Gereja: kesatuan, kekudusan dan kekatolikan. Kristus yang hadir secara aktif atas kuasa Roh Kudus yang telah mengurapi para rasul dan para penerus mereka, itulah yang menjadikan Gereja sebagai sakramen kesatuan dan keselamatan bagi umat manusia. Ekaristi dan kesatuan dalam kepemimpinan Paus bukanlah akar yang terpisah bagi kesatuan Gereja, sebab Kristus menentukan keduanya untuk saling berhubungan satu sama lain. Kepemimpinan Paus adalah satu, seperti Ekaristi adalah satu: yaitu satu Korban dari satu Kristus, yang wafat dan bangkit. Maka dalam setiap perayaan Ekaristi, dilakukanlah dan ditunjukkanlah kesatuan, tidak saja dengan Uskup sebagai penerus para Rasul, tetapi juga dengan Paus sebagai penerus Rasul Petrus sang pemimpin para Rasul, dengan semua imam dan semua umat beriman yang adalah anggota Kristus, dan di atas semua itu, dengan Kristus yang adalah Kepalanya.

Menjadi Katolik artinya mempercayakan diri kepada Tuhan melalui Gereja

Gereja Katolik memahami peran otoritas apostolik sebagai iman akan janji Kristus yang akan menyertai Gereja-Nya, yang dibuktikan juga oleh banyak tanda sepanjang sejarah, yang menunjukkan betapa Kristus menjaga Gereja dan menghindarinya dari ajaran-ajaran yang menyimpang. Oleh iman inilah, kita menyerahkan diri kepada Allah melalui Gereja, sebab demikianlah yang dikehendaki oleh Allah.

Prinsip pengantaraan Gereja ini bukanlah hal yang baru atau mengada-ada. Sepanjang sejarah umat pilihan, Allah menghendaki bahwa kesetiaan kepada-Nya diukur juga dari kesetiaan kepada para nabi atau pengantara yang ditunjuk olah-Nya. Setia kepada Allah di zaman Perjanjian Lama, berarti juga setia kepada Nabi Musa. Keduanya tak terpisahkan, sebagaimana tertulis dalam Kel 14:31. Kesetiaan kepada para nabi berarti penerimaan terhadap apa yang dikatakan oleh mereka. Tuhan menganggap bahwa penolakan terhadap ajaran para nabi merupakan penolakan terhadap-Nya, seperti nyata dalam penolakan terhadap Nabi Yeremia (lih. Yer 7:25-26). Di masa Yohanes Pembaptis, jawaban “Ya” terhadap panggilan Tuhan dinyatakan dengan persetujuan untuk dibaptis (lih. Mrk 1:4; Luk 3:3) dan penerimaan terhadap pesannya yang memberitakan kedatangan Kristus, Sang Anak Domba Allah (lih. Yoh 1:29,36).

Kristus menghubungkan penerimaan ataupun penolakan terhadap diri-Nya dan Bapa yang mengutus-Nya, dengan penerimaan ataupun penolakan terhadap mereka yang diutus oleh-Nya (lih. Luk 10:16). Maka Gereja mengajarkan bahwa kesetiaan kepada Kristus ditunjukkan dengan penerimaan keseluruhan kehendak-Nya (lih. Mat 28:19-20), termasuk pengantaraan Gereja apostolik yang didirikan-Nya (lih. Mat 16:16-19). Dengan kata lain, persetujuan iman terhadap Kristus mengambil bentuk konkritnya dalam persetujuan terhadap semua yang telah dinyatakan dan didirikan oleh-Nya, termasuk Gereja-Nya.

Menjadi Katolik artinya setia kepada Tuhan, Kristus, Gereja dan diri sendiri

Rasul Yohanes mengajarkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan diukur dari kesetiaan kepada keseluruhan pengajaran yang dikenali sebagai wahyu ilahi sejak awal mula (lih. 1 Yoh 2:24). Jika Allah menghendaki agar kita menerima ajaran-Nya dengan menerima ajaran para nabi yang mencapai puncaknya pada penggenapannya dalam diri Kristus, kita menerima kehendak Allah ini, dengan menerima Kristus sepenuhnya. Sebab Kristus sepenuhnya menyatakan Allah dan kasih-Nya kepada kita (Kol 1:19; 2:9), sehingga Rasul Paulus mengatakan bahwa Kristus adalah segalanya (lih. Kol 3:11). Maka penerimaan Kristus sepenuhnya ini termasuk dengan menerima segala ajaran-Nya dan menjadi anggota Gereja yang didirikan-Nya. Jika Kristus menjamin kuasa mengajar Gereja yang dilaksanakan oleh para rasul, secara khusus, oleh Rasul Petrus dan para penerus mereka, maka demi ketaatan kita kepada Kristus, kita mentaati juga ajaran Gereja-Nya tersebut. Sebab kita mengingat perkataan Kristus sendiri kepada para murid-Nya, “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” (Luk 10:16).

Dengan ketaatan yang menerima keseluruhan Kristus dan ajaran-Nya ini, maka seorang Katolik memberikan kata “Ya” tanpa syarat dalam iman kepada Allah. Pemberian persetujuan iman tanpa syarat ini, menjadi tanggapan yang mendamaikan bagi hati kita sebagai manusia yang senantiasa resah/ gelisah, sampai kita beristirahat di dalam Tuhan.[5] Sebab dengan menyerahkan pemahaman kita kepada Kristus melalui Gereja-Nya, kita tidak lagi perlu gelisah menginterpretasikan banyak hal menurut pemahaman sendiri, yang dapat berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain, bahkan bertentangan, terhadap suatu topik pengajaran yang sama. Dengan menerima sepenuhnya pengajaran Gereja, kita memperoleh kepenuhan makna ajaran Kristus, dan ini menghasilkan ketenangan bagi jiwa. Menarik jika kita menyimak tayangan Journey Home di situs EWTN (Eternal Word Television Network) yang mengisahkan tentang pencarian akan kepenuhan kebenaran yang membawa kepada Gereja Katolik, silakan klik. Di sana ada lebih dari 700 kisah kesaksian dari mereka yang non-Katolik, bahkan banyak di antaranya pendeta, yang akhirnya menjadi Katolik karena setia mencari apa yang dirindukan oleh hati nurani mereka sendiri, yang membawa mereka menemukan ‘rumah’ mereka yang sesungguhnya di Gereja Katolik.

Menjadi Katolik artinya menjadi anggota Gereja yang lahir dari Hati Kudus Yesus

Namun bagi saya sendiri, pengalaman yang tak terlupakan dan begitu mengena di hati saya, adalah ketika saya mendengar dan merenungkan kutipan pengajaran dari St. Yohanes Krisostomus tentang Gereja. Ia mengajarkan demikian:

“Mengalir dari rusuk-Nya, air dan darah”. Saudara saudari terkasih, jangan lewatkan misteri ini tanpa permenungan; ini mempunyai makna lainnya yang tersembunyi, yang akan kujelaskan kepadamu. Telah kukatakan bahwa air dan darah menandakan Pembaptisan dan Ekaristi kudus. Dari kedua sakramen ini, Gereja dilahirkan: dari Pembaptisan, [yaitu] “air pembasuh yang memberikan kelahiran kembali dan pembaharuan melalui Roh Kudus”, dan dari Ekaristi kudus. Karena simbol Pembaptisan dan Ekaristi mengalir dari rusuk-Nya, maka dari rusuk-Nyalah Kristus membentuk Gereja, seperti Ia telah membentuk Hawa dari rusuk Adam. Nabi Musa telah memberikan secercah tanda tentang hal ini, ketika ia menceritakan kisah tentang manusia pertama dan membuat Adam mengatakan: “Tulang dari tulangku dan daging dari dagingku!” Sebagaimana Tuhan mengambil sebuah tulang rusuk dari rusuk Adam untuk membentuk seorang perempuan, demikianlah Kristus telah memberikan kepada kita darah dan air dari rusuk-Nya untuk membentuk Gereja. Tuhan mengambil tulang rusuk tersebut ketika Adam sedang tertidur lelap, dan dengan cara yang sama Kristus memberikan darah dan air setelah kematian-Nya sendiri.

Maka, tidakkah kamu mengerti, betapa Kristus telah mempersatukan Mempelai-Nya dengan diri-Nya sendiri, dan santapan apakah yang Ia berikan kepada kita semua untuk kita makan? Dengan santapan yang satu dan sama, kita dilahirkan dan diberi makan. Seperti seorang wanita memberi makan anaknya dengan air susu dan darahnya sendiri, demikianlah Kristus terus menerus memberi Darah-Nya sendiri kepada mereka yang kepadanya Ia telah menyerahkan hidup-Nya.”[6]

Sudah lama saya mendengar bahwa Gereja adalah Mempelai Kristus, tetapi saya tidak menyadari sedemikian eratnya hubungan Kristus dengan Gereja-Nya, sampai saya membaca tulisan St. Yohanes Krisostomus ini. Kristus adalah Adam yang baru, dan Gereja adalah Hawa yang baru, yang dibentuk dari rusuk/lambung Kristus, yang dihubungkan juga dengan hati kudus-Nya—sebab maksud prajurit itu menikam adalah menikam jantung hati Kristus, untuk memastikan kematian-Nya. Hubungan Kristus dan Gereja sebagai Adam dan Hawa yang baru, merupakan penggenapan sempurna kisah Adam dan Hawa yang telah dikisahkan dalam Perjanjian Lama.

St. Yohanes Krisostomus bukan Bapa Gereja pertama yang mengajarkan bahwa Gereja lahir dari tubuh Kristus, sebagaimana Hawa dari tubuh Adam. St. Irenaeus (abad ke-2) mengajarkan bahwa Gereja bagaikan aliran mata air yang mengalir dari tubuh Kristus, dan dari air ini kita memperoleh santapan kehidupan.[7] St. Ambrosius juga mengajarkan demikian, sebagaimana dikutip dalam Katekismus:

KGK 766        Tetapi Gereja muncul terutama karena penyerahan diri Kristus secara menyeluruh untuk keselamatan kita, yang didahului dalam penciptaan Ekaristi dan direalisasikan pada kayu salib. “Permulaan dan pertumbuhan itulah yang ditandakan dengan darah dan air, yang mengalir dari lambung Yesus yang terluka di kayu salib.”[8] “Sebab dari lambung Kristus yang berada di salib, muncullah Sakramen seluruh Gereja yang mengagumkan.”[9] Seperti Hawa dibentuk dari rusuk Adam yang sedang tidur, demikian Gereja dilahirkan dari hati tertembus Kristus yang mati di salib.[10]

Pengajaran para Bapa Gereja ini membuka mata rohani saya, bahwa sejak awal mula, Allah telah merencanakan kesempurnaan ciptaan-Nya, dengan mempersatukan semua umat manusia ciptaan-Nya di dalam Kristus dan Gereja. Tiba-tiba pengajaran di Katekismus menjadi ‘make sense‘ buat saya, setelah merenungkan penggenapan kisah Adam dan Hawa di dalam diri Kristus dan Gereja sebagai Adam dan Hawa yang baru. Sebagaimana manusia pertama—Adam dan Hawa—menjadi puncak karya penciptaan Allah, demikianlah Kristus dan Gereja menjadi puncak karya keselamatan Allah. Persatuan manusia dengan Kristus tercapai secara sempurna dalam diri Bunda Maria, maka tak mengherankan, jika dalam tulisan yang lain para Bapa Gereja menyebut Bunda Maria juga sebagai Hawa yang baru. Sebab Bunda Maria adalah anggota pertama dan utama dari perkumpulan umat manusia di dalam Kristus, yang kemudian disebut Gereja.

KGK 760        “Dunia diciptakan demi Gereja”, demikian ungkapan orang-orang Kristen angkatan pertama.[11] Allah menciptakan dunia supaya mengambil bagian dalam kehidupan ilahi-Nya. Keikut-sertaan ini terjadi karena manusia-manusia dikumpulkan dalam Kristus, dan “kumpulan” ini adalah Gereja. Gereja adalah tujuan segala sesuatu.[12] Malahan peristiwa-peristiwa yang menyakitkan hati, seperti jatuhnya para malaikat dan dosa manusia, hanya dibiarkan oleh Allah sebagai sebab dan sarana, untuk mengembangkan seluruh kekuatan tangan-Nya dan menganugerahkan kepada dunia cinta-Nya yang limpah ruah:

“Sebagaimana kehendak Allah adalah satu karya dan bernama dunia, demikian rencana-Nya adalah keselamatan manusia, dan ini namanya Gereja.”[13]

Gereja yang dimaksud di sini adalah satu-satunya Gereja yang didirikan Kristus di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16:18), dan bahwa Kristus menjamin akan menyertainya sampai akhir zaman (Mat 28:19-20). Sebagaimana hanya ada satu Hawa yang dibentuk dari Adam, demikian pula hanya ada satu Gereja yang dibentuk dari Kristus. Maka Gereja tak pernah terpisah dari Kristus. Gereja bukan sesuatu yang dibentuk sendiri oleh beberapa orang beriman, dan kemudian diklaim sebagai Gereja Kristus. Gereja adalah suatu ‘pemberian’ dari Kristus dan dibentuk sendiri oleh Kristus, yang ditandai oleh darah dan air yang mengalir keluar dari lambung-Nya yang terluka di kayu salib. Maka rencana Allah untuk mempersatukan seluruh dunia di dalam Kristus sudah ada sejak awal mula, namun rencana ini baru mulai terwujud pada saat Gereja dibentuk dari air dan darah yang keluar dari lambung Yesus yang tertikam di salib. Gereja ini kemudian ditampilkan kepada dunia pada hari Pentakosta, dengan datangnya Roh Kudus.[14] Satu-satunya Gereja yang didirikan oleh Kristus di atas Rasul Petrus, yang masih ada sampai sekarang di bawah pimpinan penerus Rasul Petrus adalah Gereja Katolik. Jika Kristuslah yang mendirikan Gereja ini, dan yang telah menyerahkan nyawa-Nya baginya, maka sudah selayaknya saya memutuskan untuk menjadi anggota Gereja-Nya ini.

Maka menjadi Katolik bagi saya tidaklah semata suatu kebetulan, karena dilahirkan oleh orang tua yang Katolik. Saya menjadi Katolik karena ingin mentaati Allah sepenuhnya, yang telah mewahyukan melalui Kristus, segala ajaran-Nya dan undangan-Nya untuk bersatu dengan-Nya dan dengan sesama umat manusia, di dalam Kristus dan melalui Gereja yang didirikan-Nya, yaitu Gereja Katolik.

Tuhan, bantulah aku untuk setia pada imanku ini, sampai akhir hayatku.

 


[1]Lih. Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Wahyu Ilahi, Dei Verbum 5: “Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan “ketaatan iman” (Rm 16:26; lih. Rm 1:5 ; 2Kor10:5-6). Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan”, dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya. Supaya orang dapat beriman seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan “pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran”. Supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan iman melalui kurnia-kurnia-Nya.

[2]Lih. KGK 143: “Melalui iman, manusia menaklukkan seluruh pikiran dan kehendaknya kepada Allah. Dengan segenap pribadinya manusia menyetujui Allah yang mewahyakan Diri (Bdk. DV 5). Kitab Suci menamakan jawaban manusia atas undangan Tuhan yang mewahyukan Diri itu “ketaatan iman” (Bdk. Rm 1:5; 16:26). Dan KGK 144: “Taat [ob-audire] dalam iman berarti menaklukkan diri dengan sukarela kepada Sabda yang didengar, karena kebenarannya sudah dijamin oleh Allah, yang adalah kebenaran itu sendiri. Sebagai contoh ketaatan ini Kitab Suci menempatkan Abraham di depan kita. Perawan Maria melaksanakannya atas cara yang paling sempurna.

[3]Lih. Paus Yohanes Paulus II, dalam Audiensi Umum, Maret 13, 1985: “Percaya berarti menerima dan mengakui sebagai kebenaran dan kesesuaian dengan kenyataan, isi dari apa yang dikatakan, yaitu, isi dari yang dikatakan oleh seseorang yang lain (atau beberapa orang yang lain) karena kredibilitas orang itu. Maka, dengan mengatakan “Aku percaya”, kita menyatakan dua buah acuan pada saat yang sama: kepada orangnya, dan kepada kebenaran [yang dikatakan]-nya; kepada kebenarannya dengan memperhatikan pribadi orang yang mempunyai kredibilitas yang istimewa tersebu.”

[4]Lih. KGK 1118: Sakramen-sakramen adalah Sakramen “Gereja” dalam arti ganda, karena mereka ada “melalui dia” dan “untuk dia”. Mereka ada “melalui Gereja” karena Gereja adalah Sakramen karya Kristus, yang bekerja di dalamnya berkat perutusan Roh Kudus. Dan mereka itu “untuk Gereja”; mereka adalah “Sakramen-sakramen, yang olehnya Gereja didirikan” (Agustinus, De civ. Dei 22,17, Bdk. Thomas Aquinas, Summa Theologica III,64, 2 ad 3), karena mereka memberikan dan membagi-bagikan kepada manusia, terutama dalam Ekaristi, misteri persekutuan dengan Allah, Dia yang adalah cinta kasih, Dia yang esa dalam tiga Pribadi.

[5]St. Augustine, Confessions (Lib 1,1-2,2.5,5: CSEL 33, 1-5): “You have made us for yourself, O Lord, and our heart is restless until it rests in you.”

[6]St. John Chrysostom, A Homily for Holy Friday, The Blood and Water from His side, (+ AD 407).

[7]St. Irenaeus, Adversus Haereses, III, 24, 1: PG 7, 966 mengajarkan: “Mereka yang tidak mengambil bagian dalam Roh Kudus, tidak dapat memperoleh dari pangkuan ibu mereka [Gereja] santapan kehidupan; mereka tak menerima apapun dari mata air yang murni yang mengalir dari tubuh Kristus.”

[8]Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 3.

[9]Sacrosanctum Concilium 5.

[10]Bdk. Santo Ambrosius, Luc. II, 85-89, PL 15, 1666-1668.

[11]Hermas, Vision. 2,4, 1; Bdk. Aristides, Apol. 16,6; Yustinus, Apol. 2,7.

[12]Bdk. Epifanius, Haer. 1,1,5.

[13]St, Klemens dari Aleksandria, Paed. 1,6,27:PG 8, 281.

[14]Lih. KGK 767: “Sesuai tugas, yang diberikan Bapa kepada Putera untuk ditunaikan di dunia, diutuslah Roh Kudus pada hari Pentakosta, agar ia senantiasa menyucikan Gereja” (Lumen Gentium 4). Ketika itu “Gereja ditampilkan secara terbuka di depan khalayak ramai dan dimulailah penyebaran Injil di antara bangsa-bangsa melalui pewartaan” (Ad Gentes 4). Sebagai “perhimpunan” semua manusia menuju keselamatan, Gereja itu misioner menurut kodratnya, diutus oleh Kristus kepada segala bangsa, untuk menjadikan semua orang murid-murid-Nya (Bdk. Mat 28:19-20; Ad Gentes 2;5-6)

43
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
18 Comment threads
25 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
29 Comment authors
Herman JaybrianYulius tandipauCecilia NovitaIgnatius Priadi Recent comment authors
Herman Jay
Member
Herman Jay

Gereja Tanpa Merk
Dewasa ini cukup banyak kelompok pengikut Kristus menghidar untuk menamakan dirinya berasal dari gereja “X” atau “Y”
Bagi mereka Gereja “katolik” pun merupakan merk gereja tertentu.
Sebagai gantinya mereka menyebut kelompoknya dengan “Sidang Jemaat Kristus” .
Apakah cukup menyebut diri sebagai pengikut Kristus saja?

brian
Guest
brian

Dear Katolisitas, Saya mau sharing sejenak. Tentulah kita sepakat kalau “Buku adalah jendela ilmu.” Melalui buku, wawasan kita terbuka. Ada banyak hal yang sebelumnya kita tak ketahui, menjadi diketahui. Oleh karena itulah, banyak misionaris dulu, ketika datang ke Indonesia mereka juga mendirikan penerbitan. Kalau tidak salah, hingga tahun 90-an penerbit-penerbit Katolik dan Protestan cukup berjaya di negeri ini dengan menghasilkan buku-buku yang mencerdaskan. Namun, sangat disayangkan bahwa mulai tahun 2000-an kita mulai kalah saing. Penerbitan Katolik dan Protestan sedikit demi sedikit mulai tenggelam. Buku-buku yang diterbitkan pun terbatas. Kalah saing dengan penerbit Islam yang begitu gencar. Hal ini bisa dilihat… Read more »

Yulius tandipau
Guest
Yulius tandipau

Artikel yg sangat membantu.

Cecilia Novita
Guest
Cecilia Novita

Dear tim Katolisitas, Sebelumnya saya ingin berterima kasih karena Katolisitas telah banyak membantu saya dalam memperluas wawasan saya terhadap ajaran Katolik. Saya benar-benar bersyukur dapat menemukan website ini. Ketika melihat judul artikel ini, saya merasa perlu untuk membacanya. Saat ini saya duduk di kelas 3 SMA dan saya dibesarkan di dalam keluarga Katolik. Sejak kecil saya dididik dengan ajaran Katolik dan selalu bersekolah di sekolah Katolik. Sewaktu akan melanjutkan ke SMA dulu, karena satu/dua hal saya harus tinggal bersama nenek saya, berpisah dari orang tua saya. Nenek saya tinggal sendirian (setelah Kakek saya dipanggil Tuhan) dan usianya sudah 72 tahun… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Cecilia Novita, Sungguh sangat baik pengorbanan dan pelayanan yang Anda lakukan kepada nenek Anda. Saya yakin bahwa Tuhan melihat ketulusan hati Anda. Namun, prinsipnya adalah kita tidak membiarkan seorangpun di dunia ini untuk membuat kita berdosa, termasuk orang-orang yang kita kasihi. Dengan demikian, kita tidak boleh mengorbankan Misa untuk alasan apapun, apalagi jika kondisi memungkinkan. Jadi, silakan melihat kembali situasi yang Anda hadapi. Cobalah untuk melihat apakah mungkin kalau Anda datang bersama dengan nenek Anda ke gereja Protestan dan mempunyai waktu sendiri untuk pergi Misa. Anda bisa menghadiri Misa hari Sabtu Sore atau juga hari Minggu dengan jam-jam yang… Read more »

Eva Tona Manalu
Guest
Eva Tona Manalu

syalom Katolisitas. saya ingin bertanya lagi dan ini masih berhubungan dengan kehidupan saya di sini, di sebuah kampus yang beraliran paham reform. kami di sini wajib mengikuti segala bentuk peribadatan dari aliran reform. nah, sebaiknya seperti apakah respon yang kami berikan saat mengikuti segala jenis ibadah yang dilakukan yang notabene berbeda dengan ajaran Katolik. kemudian, pantaskah kita seorang Katolik bersikap “frontal” dalam menolak ajaran yang ada di sini, padahal dengan sadar kita memilih untuk kuliah di sini? [Dari Katolisitas: Nampaknya dibutuhkan juga ‘prudence’/ kebijaksanaan di sini. Sebab keadaan yang Anda alami merupakan sebuah konsekuensi yang semestinya telah Anda sadari sebelum… Read more »

Eva Tona Manalu
Guest
Eva Tona Manalu

terimakasih untuk semua jawaban yang telah d berikan.
saya mohon doa dari saudara-saudara sekalian supaya kami mampu mempertahankan iman katolik kami dan lebih memahami lagi apa sebenarnya artinya menjadi katolik.
Tuhan memberkati

arnold
Guest
arnold

Mohon tanggapannya tim katolisitas mengenai semua episode “Restless Church” yang ada di situs ini:

http://www.youtube.com/playlist?list=PL0f6_epwixV5qlZLKLx5SxZw4Roxosyb4

Bagaimana seorang pengikut Kristus, terutama anak muda Katolik menyikapinya?
Terima kasih dan GBU

Stefanus Tay

Shalom Arnold, Terima kasih atas pertanyaannya. Pertama, kita harus bertanya sebenarnya apakah hakekat dari Gereja. Dari sekilas video yang saya lihat, maka kesimpulannya semua gereja tidak ada yang benar, kecuali kelompok mereka. Yang perlu dipertanyakan adalah apakah Kristus sungguh-sungguh mendirikan Gereja atau tidak. Inilah yang perlu digali. Gereja Katolik mengklaim bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus, dengan empat tanda: satu, kudus, katolik dan apostolik, seperti yang telah dijelaskan dalam berbagai artikel di katolisitas – silakan klik. Kedua, dalam kelompok yang kecil, maka semuanya masih bisa terkendali dengan membahas Kitab Suci menurut topik yang aktual terjadi dalam kehidupan… Read more »

Bonhop
Guest
Bonhop

Shalom Denny Sedikit share dari saya, dari segi ikatan pernikahan sy dan anda mengalami kemiripan. Memang akn mnjdi ke arah pertengkaran kalau sdh bcr soal ibadah beda gereja, namun untuk hal-hal yg sifatnya prinsipil dan perlu ketegasan seorang suami “pertengkaran” itu ada sisi positipnya. Maksud saya, sepanjang tidak terus2an saling ngotot/ego(meski sesekali perblu jg, he2…) berusahalah sebisa mungkin tetap sabar, menyampaikan isi pikiran yg bijak di barengi hikmat, inspiratif dan mengugah hati dan jgn lupa rangkum kesemuanya itu dng KASIH. Jika KASIH(Yesus) ada di pihak saya, siapakah yg akn melawan saya? Saya pribadi msh berproses saudara Denny dlm menjalani keseharian… Read more »

denny
Guest
denny

dear katolisitas, Saya katolik dan istri saya kristen yang kuat. Kami menikah secara katolik. Kalau saya ajak misa ke gereja katolik, awalnya ikut lama-lama nggak mau. Kadang kalau saya ingatkan malah suka memicu pertengkaran. Akhirnya saya mengalah dan ikut ke gerejanya dia. sudah 3 tahun ini saya pergi bersamanya dan saya pikir enjoy saja , tidak ada masalah. Saya bilang ke istri bahwa saya katolik dan akan tetap menjadi katolik . Setiap saat saya diajak untuk ikut pertemuan ya ayo aja, memperdalam ilmu pikir saya. Tapi satu hal yang selalu saya hindari kalau ada yang mengajak baptis , saya selalu… Read more »

Edwin ST
Guest
Edwin ST

Denny yang baik, Saya tergoda untuk komentar karena kalimat kamu, “Setiap saat saya diajak untuk ikut pertemuan ya ayo aja, memperdalam ilmu pikir saya…” Saat kuliah saya sering mendapat ajakan dari teman – teman protestan untuk ikut ke gereja mereka atau PD mereka, ketika saya menolak, mereka sering bilang, “Apa salahnya? kan cuma lihat – lihat saja, ya hitung – hitung memperluas wawasan..” Serupa ya kira – kira sama pikiran kamu. Tetapi saya punya keyakinan Gereja Katolik saja yang memiliki kebenaran 100%, mereka mungkin ada kebenaran tetapi tidak 100%. Tidak dipungkiri semangat mereka luar biasa dalam pujian dan evangelisasi. Tetapi… Read more »

Ignatius Priadi
Guest
Ignatius Priadi

Salam Damai dan semoga Kasih Allah selalu menyertai setiap langkah hidup kita, amin. Jika saya menyimak tulisan dari sdr.Denny dan sdr. Edwin, disini saya sebagai orang Kristen yang Katolik meragukan “Kekristenan” anda berdua sebagai domba yang kurang memahami isi dari kitab Yohanes 10:7-18. Coba deeh anda baca pelan2 dengan hati dan iman anda sebagai orang kristen yang katolik,(bacalah ayat 16 berulang kali sampai anda memahami),disinilah pangkal permasalahan kita sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus yang juga adalah “Allah yang Maha Kuasa”. Jadi baik sdr. Denny maupun sdr. Edwin janganlah anda meragukan apa yang menjadi keputusan orang lain untuk masuk… Read more »

kris
Guest
kris

Mas Denny, Ijinkan saya share sedikit. Mungkin ada manfaatnya. Saya Katholik, setiap kali saya tidak ke gereja pada hari Minggu, saya merasa ada yang kurang, karena saya tidak menerima Komuni. Hal2 lain seperti bacaan Injil, Khotbah dan lain sebagainya saya rasa saya bisa dapatkan di mana saja, bisa di doa lingkungan, persekutuan doa, atau bahkan mungkin kebaktian di gereja lain. Tapi Doa Syukur Agung dan komuni itu yang mengikat hati saya. Rasanya kepikiran terus sampai hari berikutnya kalau saya tidak terima komuni. Saya pernah beberapa kali ikut kebaktian di gereja lain karena menemani teman. Kadang juga ikut oikumene karena ajakan… Read more »

Paulus Sunarto
Guest
Paulus Sunarto

dear saudara Denny,

kalo boleh saya tambahkan usulan ibu Ingrid…
cobalah membaca kesaksian dari saudari kita Rachel (ada dalam situs ini juga)…semoga bisa menjadi contoh bagaimana seorang suami yang teguh akan imannya berhasil mengajak istrinya (Rachel) yang non-Katolik berbalik menjadi Katolik…

Thomas Erwan
Guest
Thomas Erwan

Salam damai, Saya adalah penganut Katolik tapi karena sesuatu hal, saya menikah dengan wanita non Katolik ( bukan pengikut Kristus). Iman istri sangat menentang Kristus, tapi saya tetap perlihatkan kasih kepadanya. Saya hanya bisa memberikan komentar sederhana saja, setelah saya hidup bersama dengan istri yang beda iman selama 6 tahun, ternyata Kristus tetap memilih saya untuk terus bertahan dengan iman Katolik saya, meskipun saya terpaksa mengikuti misa secara sembunyi-sembunyi dan tidak teratur karena situasi tidak memungkinkan dan tempat tinggal kami di lingkungan yang sangat fanatik. Tapi iman saya tidak goyah. Saya sedih kenapa justru saudara kita yang Katolik jadi berpaling… Read more »

Rm Bernardinus Agung Prihartana, MSF
Guest
Rm Bernardinus Agung Prihartana, MSF

Ytk. Pak Thomas, Syukur pada Allah karena Anda tetap menjaga dan berusaha mengembangkan iman Katolik, walaupun berada dalam kondisi dan situasi yang sulit. Untuk pasangan suami-istri yang melakukan kawin campur, jika perkawinan mereka diteguhkan secara Katolik tentu saja tidak ada masalah untuk menerima sakramen-sakramen,termasuk sakramen Ekaristi. Tetapi bila perkawinan pak Thomas diteguhkan diluar tatacara Katolik, tentu saja untuk dapat menerima sakramen-sakramen, Anda harus meneguhkan perkawinan anda secara Katolik terlebih dahulu. Mengingat pasangan anda cukup tegas untuk tidak menerima Kristus, anda bisa menyampaikan kesulitan ini kepada Pastor paroki untuk dapat dibantu sesuai dengan hukum Gereja. Demikian tanggapan singkat saya, semoga memberi… Read more »

yohanes sumiyono
Guest
yohanes sumiyono

Dear katoliksitas…
Maaf saya kok kurang sreg dengan kata ‘menjadi Katolik’, kenapa tidak “menjadi Kristen Katolik”, karena menurut saya kata katolik (universal) belum menunjukkan sebagai pengikut Kristus (Kristen) mohon tanggapan

Ferry
Guest
Ferry

Dear Team Katolisitas Syalom, salam damai dalam kasih Kristus Mohon maaf jika keluar dari pokok bahasan, namun saya tidak pernah menemukan artikel dari katolisitas mengenai pertanyaan saya. Saya adalah seorang Kristen Protestan yang ingin saya tanyakan, apakah bagi orang Katolik, agama katolik itu adalah agama Kristen, karena seringkali saya temukan org katolik yang menyebut Kristen itu seolaholah agama lain di luar Katolik, cthnya jika seorang teman katolik bertanya pada saya “kamu Kristen apa Katolik”, seharusnya kan pertanyaannya, “kamu Protestan atau Katolik’ Namun seringkali jga saya masih menemukan orang Katolik yang masih menganggap dirinya sebagai Kristen, walaupun pada kenyataannya lebih banyak… Read more »

Caesarandra
Guest
Caesarandra

wah rasanya janggal sekali jika ada orang Katolik tapi berkata Katolik itu bukan bagian dari kekristenan :) pengalaman saya justru terbalik, banyak orang Protestan yang berkata Katolik itu bukan Kristen, Namun orang Katolik pasti berkata Katolik itu justru Kristen sejati.

[Dari Katolisitas: Menjadi Katolik adalah menjadi seorang Kristen yang sepenuhnya, dengan mengimani seluruh ajaran Kristus. Tentang hal ini sudah juga dibahas di sini, silakan klik]

bobby
Guest
bobby

saya bangga menjadi orang katolik tetapi sisisi lain saya juga prihatin terutama dengan para remaja sekarang. kebanyakan dari mereka ingin bebasa dalam hal apapun bahkan yang saya soroti tentang perkawinan diluar agama katolik. saya berpikir agama hanya sebagai kedok semata atau dengan kata lain sebagai alternatif jika sudah mengalami “kebobolan”. pernikahan secara katolik memang membutuhkan prosedur yang dibilang agak rumit. nah disinilah yang menjadi permasalahannya mereka lebih memilih menikah diluar katolik dan kembali lagi kekatolik. apakah ini selayaknya atau ini hanya untuk menutupi aib semata?
saya mohon penjelasan lebih lanjut dari tim pengurus katolisitas.
atas peerhatiannya saya ucapkan terimakasih.

Stefanus Tay

Shalom Bobby, Memang kalau kita melihat dan mengamati, kita melihat adanya revolusi seks, baik yang menjangkau umat beragama maupun yang tidak beragama, baik yang beragama Katolik maupun yang non-Katolik. Menjadi tantangan bagi umat Katolik untuk benar-benar membentengi anak-anak muda dengan iman Katolik yang teguh, yang menekankan kemurnian dan kekudusan. Menurut saya, sulit sekali kalau kita mencoba menyelesaikan permasalahan hanya sebagai tanggapan sesaat ketika masalah muncul. Dibutuhkan pendekatan yang menyeluruh untuk menyelesaikan hal ini. Ini berarti diperlukan peran keluarga dan sekolah dan gereja yang mendidik umat Katolik mulai dari anak-anak, menanamkan nilai-nilai moral kekristenan, sehingga pada akhirnya ketika mereka menginjak remaja,… Read more »

rye
Guest
rye

saya juga punya pengalaman dimana saudara2 saya ada beberapa pindah ke non Katolik kr alasan sama spt yg sering diungkapkan itu. namun, saya pribadi walaupun dihadapkan pada tawaran itu, saya tetap Katolik sampai sekarang. saya jg sempat “jajan” di grj lain kr propaganda2nya. setelah lama saya baru menyadari bahwa saya butuh Ekaristi, tubuh Kristus drpd mengikuti ibadah saja terasa kosong, tidak ada intinya. namun, saya sedih juga waktu harus bekerja ke tempat yang jauh dari ibu kota kecamatan di pedalaman Kaltim, kebetulan kunjungan saya bertepatan pada hari minggu, ternyata di gereja Katolik tidak ada imam, misa jarang dilakukan karena jauh… Read more »

Liez
Guest
Liez

Kamu msh menjadi Katolik? Pertanyaan itu sungguh menggelitik bagi saya, Sejujurnya saat ini iman katolik saya sedikit guncang, sejak sethn belakangan ini di kantor tempat saya bekerja, tiap hari jam 12 , diadakan doa siang untuk semua agama. Owner nya Kristen yang kuat , peserta doa siang mayoritas Kristen juga. Doa siang biasanya diisi dengan pembacaan renungan, sharing, pujian, kadang juga bacaan Alkitab.. Satu teman Katolik saat ini sdh berpindah ke Kristen.. saya sedih , Ada beberapa pertanyaan yg mengganggu pikiran saya, mudah2an Ibu Inggrid atau Romo berkenan menjawab ini : 1. Apakah benar hanya orang2 yang memberi persepuluhan kepada… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Liez, Memang kadang terjadi bahwa apa yang dikatakan sebagai ibadah ekumene, dapat membuat iman Katolik seseorang yang kurang kuat dapat terguncang. Kalau seorang Katolik merasa bahwa dasar imannya kurang kuat, maka saya menganjurkan untuk tidak perlu mengikuti ibadah ekumene. Di satu sisi, menjadi tantangan bagi umat Katolik untuk benar-benar mempelajari iman Katolik dengan baik, sehingga pada akhirnya tidak mudah goyah dan dapat mempertanggungjawabkan iman Katoliknya dengan baik. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan: 1. Tentang perpuluhan: silakan melihat diskusi ini – silakan klik. 2. Pengetahuan Kitab Suci: Menjadi tantangan bagi umat Katolik tidak hanya belajar Firman Tuhan… Read more »

Thomas Trika
Guest
Thomas Trika

Sdri Liez Sekedar sharing pribadi, saya juga sempat mengalami masa-masa kekeringan dalam Iman ke-Katolikan saya. Saya sangat berterimakasih karena Tuhan membimbing saya untuk mengalami pembaharuan melalui banyak sarana/kegiatan dan komunitas dalam Gereja Katolik kita. Pertama, saya kira kata kunci disini adalah ‘pembaharuan’ (renewal). Penyegaran kembali. “Aggiornamento” adalah kata yang terkenal dari Paus Yohanes XXIII dan yang diulang lagi oleh Paus Paulus VI “…We want to bring it to the notice of the whole Church. It should prove a stimulus to the Church to increase its ever growing vitality and its ability to take stock of itself and give careful consideration… Read more »

Tonny
Guest
Tonny

Termasuk Liturgi Latin ?

[Dari Katolisitas: Apakah pertanyaan ini ditujukan kepada Sdr. Thomas Trika?
Seharusnya, pembaharuan diri akibat pencurahan Roh Kudus membawa akibat melimpahnya kasih kepada Tuhan dan sesama. Kasih kepada Tuhan ini nyata juga dalam bentuk mengasihi Kristus dan Gereja-Nya beserta sakramen-sakramennya, terutama Ekaristi, baik dalam ritus bahasa lokal maupun bahasa Latin, sebab kita menyadari bahwa keduanya adalah kekayaan rohani Gereja yang satu dan sama.]

Thomas Rizal Trika
Guest
Thomas Rizal Trika

Terimakasih Tim Katolisitas. Mohon izin menambahkan sedikit, dalam pengertian dan pengalaman saya, kalau pembaharuan diri akibat pencurahan Roh Kudus itu otentik maka buah-buahnya pasti positif yaitu melimpahnya kasih kepada Tuhan dan sesama. Saya fikir di dalam 2 bagian dari Hukum (Perintah) Kasih ini terkandung semua yang baik. Kadang saya terfikir apakah ini yang ingin disampaikan dalam spiritualitas Fransiskan ketika mereka mengatakan “Pace e Bene”. Kasih kepada Tuhan dan berbuat semua yang baik bagi sesama”.. Shalom [Dari Katolisitas: Ya, seharusnya memang demikian, bahwa pembaruan diri yang otentik karena pencurahan Roh Kudus, membuahkan kasih kepada Tuhan dan sesama, yang nyata dalam semakin… Read more »

Thomas Trika
Guest
Thomas Trika

Memang menjadi tugas dan harapan sekaligus tantangan bagi kita semua, awam & imam, semua yang terpanggil melayani Kristus & Gereja-Nya yang kita kasihi, dalam kapasitas & talenta-nya masing-masing, untuk semakin kreatif & semakin peka dalam membimbing & menyediakan sarana-sarana yang mendukung pertumbuhan iman umat. Kita sungguh bersyukur melihat begitu banyak karya Roh Kudus bekerja dengan sangat positif dan dinamis didalam Gereja, melalui kegiatan2 olah rohani umat spt: BIA Sekami, ME, KKS, OMK, OMKK, KEP/SEP, Legio Mariae, pengadaan Ruang Adorasi Abadi di paroki2, Taize, PDKK, retret-retret rohani dll (yang tdk disebut jangan marah). Semua kekayaan rohani Gereja yang satu dan sama… Read more »

Eryanto
Guest

Artikelnya menarik, ijin baca dan simak ya…

romanus
Guest
romanus

Terima kasih atas sharing bu Inggrid, saya pribadi lahir dalam keluarga Katolik dan berkomitmen untuk tetap menjadi Katolik,,,syallom,,,

Judith Joseph
Guest
Judith Joseph

Terima kasih atas sharing itu. Semoga Tuhan selalu menyertai pribadi saya dan keluarga saya untuk terus menjadi keluarga kristian katolik yang sejati..Praise the Lord..

Eva Tona Manalu
Guest
Eva Tona Manalu

Dear Katolisitas.
saya seorang mahasiswa di sebuah Universites Kristen.
di sini, kami di wajibkan untuk mengikuti mata kuliah teologi.
siang ini, kami membahas tentang peran Roh Kudus dalam Gereja..
kesimpulan yang mereka berikan bahwa Gereja adalah persekutuan orang percaya.
setelah itu terjadi sebuah diskusi di dalamnya sehingga keluar pertanyaan “kita sudah terlalu sering bersekutu di kampus ini, sudah tak tehitung lagi banyaknya dan kita adalah orang percaya, jadi, kenapa lagi kita harus ke Gereja?”
saya berniat untuk meluruskan pertanyaan ini, karena yang bertanya adalah teman saya yang katolik.
saya mohon bantuannya.
terimakasih.
Tuhan memberkati.

Edwin ST
Guest
Edwin ST

Halo Eva, Di awal masa Prapaskah, romo saya khotbah mengenai pertanyaan ini, “Kenapa kita harus ke Gereja?” Banyak jawaban bisa diberikan dan semua bisa jadi benar. Namun, romo saya mengajak kita melihat kehidupan Yesus. Yesus sendiri datang ke Bait Allah, ke sinagoga. Di dalam sinagoga Yesus seringkali bertukar pikiran dan mengajar di sana. Di tempat lain pun dia mengajar para murid. Dia tidak membutuhkan gulungan kitab para nabi, karena Dia tahu segala sesuatu mengenai para nabi. Dengan ke sinagoga Yesus menunjukkan identitasnya sebagai seorang Yahudi yang taat pada hukum Taurat. Kita sebagai seorang Katolik, menunjukkan keKatolikan kita dengan datang bersekutu… Read more »

Caecilia
Guest
Caecilia

Shalom Eva,

Saya teringat,dalam salah satu homilinya Pastur paroki saya bertanya kepada umat,”ke gereja itu hak atau kewajiban?”
sebagian besar umat menjawab,kewajiban.
Pastur lalu berkata,”ke gereja itu bukan hak atau kewajiban,tapi KEBUTUHAN.”

Jawaban yang singkat namun dalam dan mengena,dan saya sangat setuju.

Berkah Dalem

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X