Allah terlihat kejam di Perjanjian Lama?

Mengapa gambaran Allah dalam Perjanjian Lama (PL), terlihat ‘kejam’ dan kurang ‘cinta kasih’? Gereja Katolik mengajarkan agar kita membaca PL dalam terang PB, sebab PL merupakan gambaran tersembunyi yang disingkapkan dalam PB  (lihat KGK 129). Maka kisah PL baru diperoleh makna lengkapnya jika dikaitkan dengan PB. Dalam kisah perang dalam PL, misalnya saja pada kisah bagaimana Allah memerintahkan bangsa Israel untuk berperang dengan bangsa Kanaan, sebelum mereka dapat masuk ke Tanah Perjanjian (seperti diceritakan dalam Kitab Yoshua), maka kita melihatnya demikian:

  1. Pertama-tama, perlu kita terima bahwa penentuan hidup dan mati manusia adalah hak Tuhan. Tuhan yang memberi hidup, dan Tuhan pula yang mengambilnya jika saatnya tiba. Maka jika Tuhan mengambil jiwa seseorang, itu sepenuhnya adalah hak Tuhan. Di PL, jika Allah menyuruh bangsa Israel berperang, yang akhirnya melibatkan kematian banyak orang, itu harus dilihat bahwa bukan berarti manusia boleh membunuh, namun harus dilihat bahwa kebijaksanaan/ keadilan Tuhan menentukan demikian. Manusia atas kehendak sendiri tidak boleh membunuh (baik membunuh diri sendiri atau orang lain) justru karena urusan hidup dan mati itu adalah hak Tuhan dan bukan hak manusia. Sedangkan bagi Tuhan, karena Ia yang menjadi sumber dan empunya kehidupan manusia, maka Dia berhak menentukan hidup dan mati kita sesuai dengan kebijaksanaan/ keadilan-Nya. Dalam konteks PL, maka segala kejadian peperangan maupun cobaan yang dihadapi umat Israel adalah bagian dari rencana Allah dalam rangka mempersiapkan umatNya untuk menerima nilai-nilai kebajikan yang nantinya akan digenapi dalam diri Kristus.
  2. Keadilan Tuhan dinyatakan dalam PL paling nyata dalam hukuman terhadap manusia yang menduakan Tuhan, yaitu karena manusia menyembah berhala, yang artinya mempunyai allah lain selain Allah. Maka di sepanjang PL kita melihat bagaimana langkah Tuhan men-disiplinkan bangsa pilihan-Nya,  Israel, agar mereka tidak jatuh ke dalam dosa ini. Tuhan membela Israel dan mengalahkan bagi mereka para bangsa yang menyembah berhala, namun jika bangsa Israel menyembah berhala, maka Allah mengizinkan mereka kalah perang dan dikuasai oleh para bangsa lain.
  3. Bangsa Israel diperintahkan untuk memerangi bangsa Kanaan, juga untuk mengajarkan kita bahwa Tanah Perjanjian yang melambangkan surga tidak layak untuk dihuni oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, dan hidupnya tidak sesuai dengan perintah Allah.

Jadi disiplin yang keras pada PL harus dilihat dalam kesatuan dengan PB, bagaikan layaknya orang tua yang mendidik anak-anak pada masa kecil, mereka diberi disiplin yang keras agar dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sedangkan jika sudah dewasa maka cara disiplin yang sedemikian tidak lagi diperlukan setelah nilai-nilai yang baik sudah tertanam dalam hati. Jangan kita lupa bahwa perintah yang terutama yaitu: kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama sudah diajarkan dalam PL (lihat Ul 6:5) sebelum kemudian dinyatakan kembali oleh Yesus (Mt 22:37-39; Mk 12: 30-31; Lk 10:27). Dan pernyataan kasih setia Tuhan sangat banyak dalam seluruh kitab Mazmur (lih. terutama Mz 85-89, 119,136) dan kasih Tuhan sebagai penebus telah dinyatakan juga dalam PL (Yes 43:1-4). Dan kasih Tuhan inilah yang digenapi oleh Kristus dalam PB: kasih yang sempurna, hingga sampai pada titik mengorbankan diri-Nya demi menebus dosa-dosa kita manusia.

19/12/2018

27
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
13 Comment threads
14 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
17 Comment authors
BogoroSlackSlackantonius_wenangDiva Ardie Recent comment authors
Bogoro
Member
Bogoro

Halo, Admin Katolisitas.
Dalam Perjanjian Lama, Tuhan tidak segan-segan memberikan perintah pembantaian kepada musuh-musuhnya. “Bunuh dan tumpaslah!” begitu perintah Tuhan di perjanjian lama kepada bangsa Israel agar mereka menghabisi semua musuh-musuh mereka. Namun pada perjanjian baru, Tuhan mengatakan “Kasihilah musuhmu dan janganlah membalas kejahatan yang mereka lakukan terhadapmu”. Sepertinya Tuhan itu entitas yang plin-plan, ya? Bagaimana tanggapan Ibu dan Bapak Admin Katolisitas?

Terima kasih, sebelumnya.

Ingrid Listiati
Member

Shalom Bogoro, Yang perlu dipahami di sini adalah prinsip divine pedagogy, yaitu kebijaksanaan Tuhan mendidik umat manusia, yaitu secara bertahap, seturut kebijaksanaan-Nya dan sesuai dengan kemampuan daya tangkap manusia itu sendiri. “Tuhan Allahmu mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya… ” (Ul 8:5) Maka, sama seperti orang tua mendidik anaknya, juga dengan cara bertahap, di usia muda dididik dengan larangan yang keras, namun seiring dengan bertambahnya umur, lalu anak diberi pengertian; demikian pulalah Tuhan terhadap umat manusia. Maka hal ini tidak berarti bahwa Allah itu plin plan. Sama seperti ketika kita memberikan konsekuensi/ hukuman kepada anak-anak kita yang melanggar aturan, itu… Read more »

Slack
Guest
Slack

Apakah Gereja Katolik mempercayai adanya azab / hukuman dari Tuhan? Di Perjanjian Lama terlihat berulang kali Tuhan menghukum umat manusia, tapi pada kenyataannya, pada masa kini seringkali hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama tetap bertahan dengan aman, seperti seks bebas di barat, tempat prostitusi di mana-mana, atau bahkan orang yang hidup tanpa memerdulikan ajaran agama hidup dengan bahagia. Apakah hal ini terjadi karena memang Tuhan sudah tidak menurunkan lagi hukuman atas manusia atau bagaimana? [dari katolisitas: Tentu saja Tuhan memberikan hukuman yang setimpal pada pendosa. Hukuman Tuhan dapat terjadi di dunia ini, yaitu hukuman yang bersifat sementara, atau terjadi di… Read more »

Slack
Guest
Slack

Tidakkah hal itu berarti bahwa Tuhan menginterupsi kehendak bebas manusia, bahwa manusia diberi kebebasan untuk mengikuti Firman-Nya ataupun menolaknya? dan, Apakah seseorang meninggal itu dikarenakan Tuhan yang menentukan demikian, karena kalau demikian, maka bukankah itu takdir? [dari katolisitas: Tuhan mempengaruhi akal budi dan kehendak manusia untuk mengikuti FirmanNya, namun tidak mungkin Dia secara aktif mempengaruhi manusia untuk menolak Firman-Nya, karena Dia menginginkan agar manusia memperoleh keselamatan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (lih. 1Tim 2:4). Tidak ada sesuatu yang terjadi di dunia ini tanpa sepengetahuan-Nya. Dengan demikian Dia tahu dan Dia mengizinkan hal tersebut terjadi. Tentang takdir, silakan melihat beberapa artikel… Read more »

antonius_wenang
Guest
antonius_wenang

Shaloom Katolisitas.org, Saya ingin memberikan pandangan saya soal penggunaan nama “Allah”, baik dalam Kitab Suci maupun dalam penyembahan (Misa, doa, dsb) … Menurut saya Gereja Katolik di Indonesia harus mengkoreksi penggunaan nama “Allah” dari semua literatur maupun kegiatan2 rohani umat. Menurut saya, umat Katolik yg berada di negara mayoritas muslim di Timur Tengah pun tidak menggunakan nama “Allah” dalam Ibadah2 & Literatur mereka. Ini bukanlah cara yg baik utk menarik orang Non-Kristen di Indonesia kpd Tuhan, yg ada justru sebaliknya, umat muslim Indonesia merasa di-benarkan / ter-benarkan oleh umat Katolik yg 1,2 milyar di dunia, malah yg plg parah umat… Read more »

antonius_wenang
Guest
antonius_wenang

Terima kasih ats tanggapannya… Sy sudah membaca link yg diberikan. Disitu sy mnemukan jawaban-nya pada situs http://www.siaranalhayat.com/2010/01/08/mengenai-kata-allah/ … bhw pnggunaan kata Allah mmg sdh ada sblm adanya Al-Quran. Tapi seperti penjelasan bpk/ibu mgikuti Paus Benediktus XVI dalam bukunya Jesus of Nazareth bhw penggenapan sebutan Allah YHWH/ Adonai ini di dalam diri Kristus Yesus. Maka mrut sy, sdh seharusnya-lah kita mengatakan Yesus adalah Tuhan Bapa kita juga, tanpa penggunaan kata “Allah”. Sy lebih mmilih penggunaan kata “God”/Tuhan (Tuhan Bapa, Tuhan Putera dan Tuhan Roh Kudus di dalam Tritunggal) daripada “Allah”. Sebutan Allah dipakai di zaman Jahiliyah Arab yg menyembah dewa2 +… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Antonius Wenang,

Pernyataan Anda: “kita mengatakan Yesus adalah Tuhan Bapa kita juga” justru sebenarnya dapat mengaburkan Trinitas, karena Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus adalah tiga Pribadi dalam satu kodrat. Sesungguhnya, kita tidak perlu mempermasalahkan tentang sebutan nama Allah atau nama Tuhan, karena keduanya mempunyai arti yang sama. Sebagai umat Kristen, kita tidak akan bingung dengan Allah yang kita sembah, hanya karena agama lain menggunakan kata yang sama.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

frans
Guest

Dalam Perjanjian Lama, banyak ceritera tentang peperangan dan kekejaman untuk mengenalkan Allah. Bagaimana memahaminya?

[dari katolisitas: Silakan melihat tanya jawab di atas – silakan klik]

Diva Ardie
Guest
Diva Ardie

Kisah2 dalam Perjanjian Lama hrs di lihat dari sisi yg rohani, spt dlm Ulangan 20 : 16. Jangan biarkan hidup yg bernapas. Bandingkan dgn Kolose 3 : 5. Krn itu matikanlah dlm dirimu sgl sesuatu yg duniawi, yaitu percabulan,kenajisan,hawa nafsu, nafsu jahat juga keserakahan, yg sama dgn penyembahan berala, semanya otu medatangkan murka Allah atas org2 durhaka.
Dgn demikian maka semanya mejadi jelas.

kicung hartono
Guest
kicung hartono

kisah nabi yosua dan para tentara nya, menunjukkan motif penguasaan wilayah, motif ekspansi, yang digambarkan dibenarkan oleh figur tuhan yang maha esa. Di era modern, praktek ini sebenarnya masih terjadi, baik melalui “persetujuan tuhan” atau tidak. lihat world war 1, 2, Hitler, Ayatolah Khomeini, irak iran, perang boznia herzegovina 1993-1995 (bosnia – serbia), hutu vs tutsi, bahkan tidak usah jauh : DOM Aceh (indonesia vs aceh) dan indoneisia vs timor leste jaman Presiden BJ Habibie, semua sarat dengan unsur penguasaan wilayah, materi harta benda, dan penghilangan nyawa. Dengan berkembangnya pengetahuan dan etika masyarakat modern, tindakan yosua adalah irrasional dan non… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Kicung, Anda berpandangan demikian, sebab Anda mungkin tidak membaca kitab Yoshua sebagaimana Gereja membacanya. Dalam mengartikan Kitab Suci, Gereja selalu membaca kitab Perjanjian Lama dalam terang Perjanjian Baru dan sebaliknya. Di samping itu, perlu dipahami bahwa wahyu Allah dinyatakan secara bertahap di dalam sejarah manusia sejalan dengan perkembangan peradaban mereka, maka untuk memahaminya kita selayaknya memahami konteks peradaban pada masa kisah itu dituliskan. Dengan pemahaman ini, maka kisah Yosua akan menjadi berbeda sekali maknanya dengan kisah Perang Dunia, Hitler, ataupun DOM Aceh. Kisah Yosua berkaitan dengan kisah Nabi Musa. Yosua melanjutkan kepemimpinan Nabi Musa untuk menghantar bangsa Israel ke… Read more »

Y. Kristiawan
Guest
Y. Kristiawan

Salam sejahtera Pak Stef, Bu Ingrid.. Membaca kembali Perjanjial Lama (PL) saya kepirikan tentang peristiwa-peristiwa yang dibolehkan terjadi oleh Tuhan. Dimana tersirat intrik-intrik dan berbagai pembunuhan yang sepertinya Tuhan ijinkan. Misalnya dalam Kejadian: >> dibolehkannya beristri lebih dari satu dan punya gundik >> pengusiran Ismael oleh Abraham >> Ribka dan Yakub bekerjasama mengelabuhi Ishak untuk mendapatkan berkat kesulungan ==> Tuhan kenapa tetap berkenan kepada Yakub ya… >> Yehuda bersetubuh dengan menantunya sendiri yang dikira perempuan jalang, dan kemudian melahirkan ketutunan yang menjadi garis keturunan kepada Tuhan Yesus >> hubungan persetubuhan ayah dan anak >> Seorang suku Lewi memutilasi tubuh gundiknya… Read more »

sejarawan
Guest
sejarawan

Hong Xiuquan Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Hong Xiuquan 洪秀全 Hong Xiuquan.jpg Memerintah 11 Januari 1851 – 1 Juni 1864 Pendahulu (tidak ada) Pengganti Hong Tianguifu Nama lengkap Hong Xiuquan 洪秀全 Lahir 1 Januari 1814 Distrik Huadu, Guangdong, Qing Meninggal 1 Juni 1864 (umur 50) Tianjing, Kerajaan Surga Taiping Hóng Xiùquán (bahasa Tionghoa: 洪秀全; pinyin: Hóng Xiùquán; Wade-Giles: Hung Hsiu-ch’üan; Hakka: Fùng Siu-chhiòn; lahir dengan nama Hong Renkun (洪仁坤) 1 Januari 1814 – meninggal 1 Juni 1864 pada umur 50 tahun) adalah tokoh yang memimpin pemberontakan Taiping di Cina selatan. Ia menyebut dirinya sebagai “Tian Wang” (Raja Surga) dan… Read more »

sejarawan
Guest
sejarawan

Mengutip Alkitab dlm buku “When Bad Things Happen To Good People” Ketika Penderitaan melanda Hidup Orang-Ora ng Baik Seorang Rabi (New York) Jemaat yg terdiri dari enam ratus keluarga atau dua ribu lima ratus jiwa yg beliau pimpin.(Baca Buku). Oleh HAROLD S KHUSNER. Inilah Adalah sejenis kisah “pada zaman dahulu kala” TENTANG seorang baik yg menderita. Pada suatu hari, begitulah menurut kisahnya, SETAN datang ke hadapan TUHAN utk melaporkan apa yg dilakukan oleh orng-orng berdosa di Bumi ini. TUHAN berkata kepada SETAN “ Apa yg kau perhatikan hambuku AYUB ?” Di dunia ini tak ada yg seperti dia. Orang baik… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Sejarawan, Harus diakui, bahwa adalah sulit untuk memahami makna penderitaan jika kita tidak melihatnya dari sudut pandang iman Kristiani. Sebab dari sudut pandang manusia, penderitaan itu dapat nampak sebagai hukuman dan memberikan gambaran yang keliru tentang Allah, seolah Ia adalah seorang Pribadi yang senang menghukum. Sehingga karena menolak gambaran ini, ada banyak orang yang tidak percaya bahwa Allah itu ada. Atau sebaliknya, anggapan ini umum dimiliki oleh orang-orang yang sudah sejak awal skeptis akan keberadaan Allah. Penderitaan lalu dianggap sebagai alasan yang baik untuk tidak usah percaya akan adanya Allah. Namun jika kita melihat penderitaan dengan kacamata iman Kristiani,… Read more »

krisna
Guest

Pertama-tama, perlu kita terima bahwa penentuan hidup dan mati manusia adalah hak Tuhan. Tuhan yang memberi hidup, dan Tuhan pula yang mengambilnya jika saatnya tiba. Maka jika Tuhan mengambil jiwa seseorang, itu sepenuhnya adalah hak Tuhan.

sangat kontradiksi dengan tema http://katolisitas.org/perbedaan-takdir-dan-nasib?

mohon penjelasannya?
thanks

Ingrid Listiati
Member

Shalom Krisna, Sebenarnya yang mau disampaikan di sini adalah bahwa hidup dan mati-nya manusia itu ada di tangan Tuhan. Memang pada saat hidup itu diberikan ataupun diambil, dapat melibatkan kerjasama manusia (kita terbentuk dalam rahim ibu atas kerjasama orang tua kita; dan ajal kita dapat disebabkan oleh penyakit atau kelalaian yang sedikit banyak melibatkan campur tangan kita sendiri atau orang lain di dalamnya). Oleh karena itulah, maka kita tidak dapat mengatakan bahwa segala sesuatunya adalah takdir dari Allah, yaitu bahwa Tuhan sudah menentukan segala sesuatunya secara aktif dalam kehidupan manusia, namun pada akhirnya harus diakui bahwa Tuhanlah mengizinkan sesuatu itu… Read more »

Wicaksono
Guest
Wicaksono

Dear katolisitas,

Saya ingin bertanya tentang ayat-ayat dalam Perjanjian Lama yang menggambarkan bahwa Allah memerintahkan untuk membunuh manusia, termasuk diantaranya perempuan dan bayi-bayi.

Apakah umat katolik dapat mengartikan hal ini secara harafiah, bahwa Allah memang sungguh memerintahkan hal ini kepada Israel, sehingga hal tersebut bisa kita katakan sebagai fakta sejarah?

Selain itu, saya pernah mendengar suatu istilah yang disebut biblical inerrancy, sebenarnya apa arti dari istilah tersebut?

Ingrid Listiati
Member

Shalom Wicaksono 1&2. Tentang Allah memerintahkan untuk membunuh? Untuk memahami maksudnya mengapa ada tertulis di Kitab Suci tentang bagaimana Allah memerintahkan orang Israel untuk membunuh, kita perlu memahami prinsip “divine pedagogy” (“kebijaksanaan mendidik” ilahi) atau cara Tuhan mendidik manusia. Kisah- kisah Perjanjian Lama (PL) tidak terlepas dari Perjanjian Baru (PB), dan cara memahaminya, adalah dengan melihatnya dalam konteks keseluruhan rencana keselamatan. Nah, keseluruhan rencana keselamatan Allah ini memang disingkapkan secara bertahap. Penyingkapan bertahap inilah yang di dalam Teologi disebut sebagai divine pedagogy (“kebijaksanaan mendidik” ilahi/ cara Tuhan mendidik [manusia]) KGK 53    Keputusan wahyu ilahi itu diwujudkan “dalam perbuatan dan perkataan… Read more »

Willy Tasman
Guest
Willy Tasman

Dear Stef n Ingrid

Saya mau tanya mengapa ada Nabi2 di Perjanjian Lama yg tega membunuh bahkan menggorok kaum yg tak beriman padahal kan sdh ada Taurat yg melarang membunuh sesama walau itu musuh? Apakah ini hanya kiasan saja atau sungguh terjadi bahkan sampai kaum wanita dan anak turut dibasmi? Inilah yg sering menggelitik saya ketika membaca Perjanjian Lama, mohon penjelasannya

Terimakasih, TUHAN YESUS memberkati
Henricus Willy Tasman

[Dari Katolisitas: Pertanyaan serupa sudah pernah ditanggapi di jawaban ini, silakan klik]

david metalik
Guest
david metalik

[Dari Katolisitas: Pertanyaan ini dipindahkan dari Buku Tamu ke tanya jawab ini, karena lebih sesuai dengan topik yang ditanyakan] Syalom “AJARAN BIBLE MEMERINTAHKAN MEMBUNUH SEMUA MAKHLUK”.:.APAKAH INI YG DINAMAKAN KITAB SUCI ITU.??? tolong di jawab lagi ya maaf terlalu kalau terlalu banyak……. Bunuh semua makhluk hidup yang bernafas Ulangan 20:16 TB “Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa itu yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, janganlah kaubiarkan hidup apapun yang bernafas,” Ini adalah doktrin utama Bible untuk membantai semua makhluk hidup yang bernafas mencakup manusia, hewan, dan tumbuhan yang tinggal di daerah musuh. Jika kita tidak menyebut hal ini sebagai terorisme,… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom David Metalik, Jika kita membaca bagaimana Ul 20:16, 1 Sam 15:2-4, Mzm 137:8-9, tanpa memahami konteksnya maka dapat saja seseorang menyimpulkan seolah Allah itu kejam, dan bahkan kemudian meragukan apakah ayat tersebut layak dimasukkan di dalam sebuah Kitab yang disebut sebagai Kitab Suci, seperti pada komentar anda di atas. Namun sebelum melanjutkan diskusi ini, saya mengajak anda untuk membaca terlebih dahulu jawaban kami di artikel di atas, yang berjudul, Allah terlihat kejam di Perjanjian Lama?, silakan klik. Selanjutnya, perikop Ul 20:1-20 memang mengisahkan peraturan perang yang diberikan Allah untuk bangsa Israel. Untuk memahami lebih lanjut makna Ul 20:10-18, khususnya… Read more »

alexander wang
Guest
alexander wang

Ibu Inggrid, saya pernah membaca di “A Catholic Guide to The Bible”, karangan Rm Oscar Lukefarth. di sana dijelaskan bahwa Kitab Ulangan termasuk tradisi Deuteronomist,yang ditulis pada masa Pembuangan Babel. saat itu orang Israel telah melakukan kawin campur dan menyembah allah lain. Untuk menarik bangsa Israel lagi ke jalan yang benar, penulis Kitab Ulangan menggunakan bahsa yang “kejam” untuk hitungan zaman sekarang. bila dilihat latar belakangnya, bahasa sadis khas litab Ulangan dapat dimengerti. Bahasa kejam itu sebenarnya gaya bahasa hiperbola yang dibuat sangat ekstrim. Tujuannya agar Israel saat itu menyadari betapa leluhur mereka menjauhi bangsa “kafir” dan tidak mau bercampur… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Alexander Wang, Memang para ahli Kitab Suci mempunyai pandangan yang tidak sama, tentang bagaimana persisnya sampai tersusun kitab-kitab dalam Kitab Suci. Salah satunya adalah teori yang mengatakan bahwa Kitab Ulangan termasuk tradisi Deuteronomist yang baru dituliskan pada masa pembuangan Babel. Menurut pengetahuan saya, pandangan yang umum diterima oleh para ahli Kitab Suci Katolik adalah seperti yang secara umum ditegaskan dalam PBC (Pontifical Biblical Commission), dan khusus untuk kelima kitab Musa ini, sekilas saya sudah pernah menuliskannya di sini, silakan klik. Intinya adalah Gereja Katolik menolak argumen yang mengatakan bahwa Kitab Musa bukan dikarang oleh Musa, tetapi disusun oleh sumber-… Read more »

alexander wang
Guest
alexander wang

Saya masih harus banyak belajar mengenai Kitab Suci dan Gereja Katolik. Terima kasih Ibu Inggrid atas kesediaan menjelaskan. Tolong jangan bosan menanggapi pertanyaan saya.

salam damai dalam Tuhan Yesus

Andreas
Guest
Andreas

Hai bu Inggrid, pak Stef, dan Romo,

Saya mau tanya nih. Zaman sekarang kan bangsa-bangsa kayaknya udah pada setuju bahwa hukuman rajam (hukuman mati dengan lemparan batu) itu tidak manusiawi. Padahal Allah mengajarkan hukuman rajam bagi orang berzinah, orang yg memurtadkan bangsa Israel, orang yg menghujat Allah Yahwe, dll. Bagaimana menjelaskan ini? Apa kita harus menyatakan bahwa rajam itu tidak manusiawi? Gimana cara membela Allah? Saya malu kalau sudah berhadapan dengan masalah ini. Saya ingin membela Allah tapi nggak tau gimana caranya.

Terima kasih.

Stefanus Tay

Shalom Andreas, Terima kasih atas pertanyaannya tentang hukum rajam. Pertama, kita harus mengingat bahwa Tuhan memberikan pengajaran kepada manusia (divine pedagogy) secara bertahap. Secara prinsip, hukum ini dipergunakan untuk memisahkan orang-orang yang melanggar hukum dari komunitas yang ada, sehingga tidak memberikan pengaruh yang jelek pada komunitas tersebut. Dan hal ini sesuai dengan prinsip keadilan. Dan dalam kehidupan bermasyarakat, maka peraturan-peraturan ini diperlukan. Hanya masalah hukumannya apa, maka hal ini berkembang sesuai dengan kebutuhan jaman. Kalau di dalam Perjanjian Lama, Allah dapat memberikan peraturan dengan memberikan hukuman mati, entah dengan hukum rajam atau bencana, dll, maka hal tersebut tidaklah bertentangan dengan… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X